Memperkaya Perbendaharaan Kata dengan Sonian

18 November 2015 Artikel Pendidikan   |    Okty Budiati


Saat ini buku pelajaran Bahasa Indonesia yang beredar telah jarang menautkan sebuah puisi sebagai materi pendidikan bahasa. Hal ini berbeda dengan buku yang beredar di jaman dulu dimana puisi Chairil Anwar selalu hadir sebagai acuan dasar untuk mengenal bentuk puisi yang mengandung banyak hal seperti proses kreativitas, mencari serta mengenal kosa kata (diksi), proses spiritual, dan tentu saja akan mengenali budayanya sendiri.

Sonian sebagai bentuk puisi kekinian adalah satu inovasi dari penyairnya, Soni Farid Maulana, yang mampu menjadi metode bagi pendidikan Bahasa Indonesia. Mengingat puisi, sajak, syair, pantun adalah susunan kosa kata yang memberikan ruang penghayatan bagi penikmatnya melalui teks, seperti pengalaman bathin, terapi psikis baik personal hingga sosial.

Pada bentuk puisi Sonian, kita tidak hanya diajak untuk melatih berimajinasi namun juga melatih kita untuk menumbuhkan empati pada kehidupan sehari-hari dimana proses ini akan mampu menjadikan penulis (penyair) untuk tetap menjaga hubungan secara personal dengan kesehariannya baik dalam lingkup sosial maupun alam semesta.

Selain itu, puisi Sonian juga mampu mengajak kita dalam bereksplorasi dalam memilih kata (diksi) dengan pola penulisan 6-5-4-3 suku kata perlarik untuk puisi sebanyak empat baris. Salah satu contoh puisi Sonian karya Soni Farid Maulana yang menggambarkan suasana sore hari dengan bahasa sederhana dan sarat filosofi sebagai bentuk puji syukur pada Sang Pencipta dapat dilihat dari puisinya berjudul "KISAH SORE" dari buku Jazz Dini Hari di tahun 2015.

KISAH SORE

dedaunan gugur
angin berhembus
kicau burung
di hati

Hemat saya, puisi Sonian mampu menjadi metode pengajaran sastra (menulis puisi) untuk kemajuan pendidikan Bahasa Indonesia di tanah air.
Selamat berkarya dengan Sonian.

(Tulisan dari Okty Budiati bisa dilihat disini)