Memotivasi Anak Agar Berprestasi

5 Januari 2015 Artikel Pendidikan   |    Kak Zepe


Setiap anak memiliki bakat yang berbda-beda. Ada anak yang berbakat di dalam bidang seni, ada anak yang berbakat di bidang olahraga, ada anak yang berbakat dalam bidang ilmu alam, dan masih banyak bidang lain yang bisa menjadikan seorang anak disebut sebagai anak yang berprestasi. Namun di zaman sekarang, kebanyakan orang tua hanya menilai prestasi anak dari bidang akademis saja, misalnya mendapat nilai yang bagus di sekolah atau mendapatkan peringkat tiga besar di kelas. Padahal banyak bidang pendidikan yang bisa menjadi ladang bagi anak untuk bisa berprestasi.

1. Mengenal Bakat Anak Sejak Dini

Penganalan bakat dan minat pada anak sejak dini sangat penting. Dengan mengenal bakat dan minat anak sejak dini, maka kita akan lebih mudah dalam memotivasi anak dan mengarahkan mereka. Saat anak menginjak usia lebih dari 3 tahun, bakat dan minat anak akan semakin terlihat. Anak yang berminat dalam bidang musik, biasanya akan sangat cepat menguasai lagu dan menyanyikannya dengan baik. Anak yang berbakat di bidang komunikasi / public relation, biasanya suka berbicara dan bahkan kadang tergolong cerewet. Anak yang berbakat di bidang olahraga, biasanya suka bergerak dan berlari-lari.

2. Mengarahkan Bakat Anak

Bila kita sudah mengenal minat dan bakat sang buah hati, kita bisa mengarahkan mereka agar bakat mereka bisa berkembang secara maksimal. Bila buah hati kita berbakat di bidang tarik suara. Kita bisa memotivasi sang buah hati dengan mengajaknya ikut di dalam lomba nyanyi, kursus olah vokal, atau membelikan buku dan peralatan yang menunjang bakatnya.

3. Menjadi Sahabat Anak

Satu hal yang harus kita percaya adalah bahwa orang-orang yang ada di sekitar kita bisa merubah diri kita. Bahkan diri kita pun bisa merubah orang-orang di sekitar kita. Perubahan bisa terlihat dalam hal sifat, minat, selera, dan kebiasaan. Itulah perlunya seorang ayah atau bunda bisa menjadi sahabat bagi sang buah hati. Mengajak anak bernyanyi bersama, menggambar bersama, bermain sepak bola bersama, dan kegiatan lain yang sesuai dengan hobi sang anak adalah sebuah semangat tersendiri bagi anak. Anak bisa termotivasi dalam mengembangkan bakat mereka. Itulah pentingnya kebersamaan anak dan orang tua. Jangan sampai segala kesibukan dan pekerjaan membuat orang tua menjadi lalai dalam mengembangkan bakat anak.

4. Perbanyak Pujian dan Kata-kata Penyemangat, Buka Celaan atau Larangan

Dalam keseharian mereka pun kita bisa memotivasi dengan memberikan pujian-pujian atau kata-kata yang meotivasi agar sang anak lebih bersemangat menekuni bidangnya. Pujian-pujian dan kata-kata kita mampu menjadi cambuk bagi anak-anak agar tetap bersemangat dalam mengembangkan bakat dan minat mereka. Saat hendak mengikutkan anak pada sebuah lomba pun kita perlu mengingatkan pada anak, bahwa perlombaan yang mereka ikuti bukanlah hanya ajang untuk mendapatkan kemenangan. Namun mengikuti perlombaan adalah sebuah ajang untuk mencari pengalaman, pelajaran, dan teman-teman yang baru. Sehingga bila sang buah hati mengalami kekalahan dalam suatu perlombaan, ia tidak menjadi pesimis, rendah diri, dan kehilangan semangat berlomba lagi. Dan kita pun perlu mengingatkan anak, bila menang ia tidak boleh menjadi sombong dan males belajar atau berlatih lagi.

5. Mengenalkan Sosok Teladan, Tanpa Membanding-bandingkan

Meskipun bakat sang anak belum terlalu kelihatan pada usia dini, kita tidak boleh meremehkan kemampuan anak, apalagi membanding-bandingkan dengan orang lain yang lebih hebat. Dalam hal membanding-bandingkan, biasanya orang tua suka membanding-bandingkan dengan saudara kandungnya atau dengan saudara sepupunya, misalnya dengan mengatakan,"Lihat kakakmu selalu dapat nilai raport yang baik, sedangkan kamu lomba nyanyi aja gak pernah menang, nilai raport juga biasa-biasa aja." Lebih baik kita mengenalkan anak seorang tokoh hebat dan terkenal pada anak. Tentunya tokoh tersebut adalah seorang tokoh yang memiliki prestasi atau bakat yang sesuai dengan bakat anak. Sehingga anak tidak hanya akan termotivasi untuk menjadi anak yang sukses di bidangnya, namun bisa belajar dari cara tokoh tersebut memperoleh kesuksesannya. Tokoh-tokoh tersebut bisa sosok ilmuwan, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan lain-lain.

6. Beri Dukungan Mulai Dari Apa Yang Dia Suka

Saat kita melihat sebuah potensi yang dimiliki oleh sang buah hati, kita tetap tidak boleh memaksa. Kita harus peka dalam hal ini. Berbakat dalam suatu bidang, bukan berarti anak akan langsung berminat dalam bakat yang dia miliki itu. Misalnya, kita tahu kalau buah hati kita memiliki suara yang bagus. Lalu kita memaksanya dengan mengikutkan pada banyak lomba dan kursus tehnik vokal. Itu bukanlah hal yang bijak. Dengan memaksa anak melakukan sesuatu yang tidak atau belum dia suka, kita malah bisa menghancurkan semangat dan ketertarikannya pada bakatnya itu. Meskipun buah hati kita memiliki suara emas sekalipun, kita juga harus memperhatikan kesiapan mentalnya, ketertarikannya pada bidang tarik suara, dan masih banyak lagi faktor-faktor lain yang harus kita perhatikan. Oleh karenanya orang tua juga harus bersabar, peka, dan mau mendengarkan curahan isi hati sang anak. Biarlah anak berkembang mulai dari apa yang dia suka, bukan dari apa yang dia bisa.

7. Sukses Bisa Diraih di Dalam Tim

Seseorang bisa menjadi sukses seperti Shakespear, Albert Eintein, maupun seperti Michael Jackson. Mereka menjadi sukses atas nama mereka sendiri dan karena mereka secara individu adalah orang yang hebat, serta bisa menghasilkan banyak karya. Namun tidak semua orang bisa seberuntung Shakespear, Albert Eintein, maupun Michael Jackson. Banyak orang bisa menjadi sukses karena mereka memiliki tim yang hebat. Misalnya, di dalam sebuah tim sepakbola, seorang striker terhebat di dunia pun belum tentu mampu bermain bagus tanpa ada rekan-rekan satu tim yang hebat.

Dalam kehidupan anak, kita juga harus menanamkan dalam diri sang anak bahwa manusia memiliki kemampuan dan bakat yang berbeda-beda. Dan dengan perbedaan itu, manusia akan saling membantu untuk bisa melakukan segala sesuatu dengan lebih baik dan menghasilkan sesuatu yang lebih baik, daripada saat melakukannya sendiri. Oleh karenanya, kita perlu memberikan pengertian kepada anak untuk menghindari sifat "minder", hanya karena seorang teman yang lebih baik dalam satu hal. Jadi tanamkan dalam diri sang anak bahwa setiap manusia pasti memiliki sesuatu yang lebih baik daripada orang lain.