Membina Relasi di Era Digital

5 Agustus 2014 Artikel Pendidikan   |    dra. Catherine DML. Martosudarmo, M.Sc


Kita tidak dapat lagi menghindar dari era digital yang sedang kita alami ini, yaitu ketika semua informasi dapat diterima dan dikirimkan serba cepat, serba mudah, serba singkat dan terus berubah dan bertambah setiap saat. Kita hidup dalam lautan informasi.

Pertama-tama kita perlu menentukan bagaimana sikap kita terhadap perkembangan dan kemajuan teknologi sekarang ini? Apakah kita mau ikut di dalam perubahan jaman ini atau tidak? Kalau pun Anda tidak mau ikut, pasti terkena imbasnya secara langsung atau pun tidak langsung. Kalau mau ikut masuk dalam jaman digital ini, tentukan sikap sejak sekarang. Ada banyak ranjau yang membahayakan disana, seperti pornografi, games yang mengandung kekerasan dan menghabiskan banyak waktu, dst., dst.

Di lain pihak, sebenarnya kita patut bersyukur, karena banyak kemudahan yang kita nikmati gara-gara era digital ini, seperti mudahnya mencari informasi, cepatnya mengirim dan menerima pesan dari orang lain sehingga menghemat waktu kita, relatif murah biaya dalam berkomunikasi walaupun secara fisik berjauhan, dst., dst., Disini kita bersyukur karena manusia dapat menciptakan macam-macam alat komunikasi yang memudahkan kita. Apakah kita dapat mensyukuri berkat ini?

Berhentilah sejenak dan pikirkan relasi kita di era digital ini. Apakah gadget "mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat?" Inilah motto yang seharusnya kita miliki "Mendekatkan yang jauh dan mengakrabkan yang dekat". Dengan menentukan sikap kita terhadap gadget, kita dapat menentukan tingkah laku kita yang sesuai dengan sikap kita ini. Sebagai contoh, kalau gadget itu menjauhkan yang dekat, berarti tidak sesuai dengan motto kita, seperti perkawinan menjadi kering, karena menjadi jarang berdiskusi tatap muka, jarang melakukan aktivitas bersama karena masing-masing sibuk dengan gadgetnya. Jika kita sudah menentukan sikap kita terhadap gadget, kita dapat secara kritis memilih tingkah laku kita yang sesuai dengan sikap kita tersebut.

Relasi dengan pasangan: Apakah gadget merusak atau meningkatkan relasi Anda dengan pasangan? Romantisme dibangun dengan seluruh jiwa raga. Melalui gadget, romantisme yang dibangun terbatas pada tulisan, gambar. Kalau pun ada suara dan tatap muka, sifatnya tetap terbatas karena tidak ada sentuhan fisik. Sentuhan fisik pada pasangan suami isteri berbicara banyak hal bagi masing-masing pasangan.

Relasi dengan anak: Apakah gadget meningkatkan relasi atau menghancurkan relasi anda dengan anak? Seringkali kita melihat sebuah keluarga pergi makan bersama di sebuah restoran, tetapi masing-masing memegang gadgetnya sambil senyum-senyum sendiri. Mereka berada di tempat yang sama tetapi tidak berkomunikasi, sehingga tidak ada keakraban disana. Apakah kita berani "memarkir" gadget kita sejenak ketika sedang makan bersama? Juga ketika sedang bermain bersama?

Di lain pihak, jika kita dapat memanfaatkan kemajuan teknologi di era digital ini dengan bijaksana, ada beberapa manfaat yang saya lihat membantu klien-klien yang sedang bermasalah dalam relasi mereka:

  1. Membantu pasangan suami isteri melakukan klarifikasi tentang suatu masalah yang membuat mereka bertengkar. Ketika relasi mengalami ketegangan, SMS/email/surel dapat membantu, karena tidak usah berhadapan muka dan tidak ada intonasi marah atau sinis. SMS dapat dibaca ulang, disimpan dan direnungkan kembali ketika suasana hati sudah mulai tenang dan tidak emosi. Akan tetapi, SMS/email hanyalah tulisan, tidak ada intonasi suara, sehingga dapat disalahtafsirkan, karena tergantung juga pada "mood" si pembaca. Merangkai kata-kata dengan baik, tetap sopan dan menghargai si penerima pesan sangatlah perlu dilatih agar salah tafsir dapat diminimalisir.
  2. Membantu pasangan yang sulit berkata "maaf" dan "terimakasih". Beberapa orang mengalami kesulitan mengakui kesalahannya atau mengucapkan terimakasih secara verbal di hadapan pasangannya. Mereka dapat menggunakan SMS/email, sehingga ketika berhadapan secara fisik, ucapan "maaf" dan "terimakasih" bukanlah sesuatu yang diucapkan untuk pertama kalinya, sehingga terasa lebih mudah dan ringan.
  3. Membantu pasangan untuk memulai lagi pembicaraan tentang topik tertentu. SMS/email dapat digunakan untuk memberikan introduksi tentang topik yang sensitif, yang mudah memancing kemarahan atau emosi yang lain, seperti perasaan sakit hati, benci, terhina, dsb. SMS/email bersifat searah, dapat dipikirkan dengan baik, dapat ditulis dan diedit sebelum dikirimkan. Sebaliknya bagi si penerima, SMS/email dapat dibaca ulang ketika emosi mereda dan mampu berpikir lebih jernih. SMS/email yang sama dapat mempunyai makna berbeda ketika emosi kita berbeda.
  4. Membantu pasangan yang tidak terlalu ekspresif dalam berkata-kata di hadapan pasangannya. Ternyata wanita sangat ingin mendengar kata-kata yang mesra, meneguhkan, yang bersifat menghargai eksistensinya. Sebaliknya, banyak pria yang mengalami hambatan dalam mengungkapkan hal-hal seperti ini jika berhadapan dengan isterinya. SMS/email dapat membantu mereka, sehingga ketika bertemu secara fisik, sang isteri sudah terlihat berbeda emosinya.
  5. Membantu pasangan untuk memberi ranking pada beberapa masalah yang akan dibicarakan, sehingga persoalan dapat diselesaikan satu per satu menurut prioritas. Kepala sering terasa mau pecah, ketika masalah datang bertubi-tubi. Dengan menuliskan pada sms/email, ranking prioritas dapat dibuat, sehingga akar masalah pun dapat terlihat jelas untuk selanjutnya dapat didiskusikan bersama pasangan untuk mencari solusinya.
  6. Memberi waktu bagi pasangan untuk berpikir lebih jernih. SMS/email bukanlah sesuatu yang harus dijawab langsung seperti kita berbicara berhadapan muka atau via telepon. Kita mempunyai waktu untuk menghela nafas, berpikir sejenak sebelum menjawabnya. Hal ini sangat membantu melatih pasangan yang sangat emosional dan reaktif. Kita pun dapat memilih untuk tidak menjawab, jika isinya hanyalah teror yang datang bertubi-tubi.
  7. Menjadi dokumentasi yang berharga. Jika Anda mengalami perbaikan relasi, email/surel dapat dikumpulkan menjadi dokumen berharga. Apabila suatu hari Anda lupa bagaimana memperbaiki relasi yang retak, Anda dapat mempelajarinya kembali. Hal ini sangat berharga, karena kita sering lupa bahwa kita pernah berhasil di masa lalu. Mempelajari kembali kesuksesan yang pernah kita raih akan membuat percepatan dalam pertumbuhan kita sebagai pribadi dan dalam membangun relasi.
  8. Membina relasi lebih baik lagi bagi pasangan yang sudah OK komunikasinya dan sudah bahagia perkawinannya. Alat komunikasi di era digital perlu dimanfaatkan untuk lebih menumbuhkan relasi kita.
  9. Mendekatkan pasangan yang karena alasan tertentu harus tinggal berjauhan. Alat komunikasi yang canggih membuat mereka tetap dapat mendengar suara dan melihat wajah pasangannya pada waktu berbicara. Wajah mencerminkan apa yang ada di dalam hati, sehingga melihat wajah lawan bicara akan menjalin komunikasi yang lebih baik, walaupun tidak berjumpa secara fisik.


Manfaat yang sama dapat kita terapkan pula dalam membangun relasi dengan anak-anak kita. Pertemuan secara fisik tetap sangat diperlukan, karena pada dasarnya manusia membutuhkan perjumpaan fisik secara nyata dengan manusia lain, tidak dapat disamakan dengan perjumpaan di dunia maya.

Dengan demikian, perkembangan teknologi di era digital ini dapat digunakan untuk tujuan yang baik atau buruk, demikianlah jadinya. Teknologi bersifat netral, kita lah sopirnya yang mengendalikan arah. Kita mempunyai pilihan untuk memanfaatkannya guna membangun atau menghancurkan relasi. Kita mempunyai pilihan untuk menjadikannya berkat atau penjahat bagi orang lain.

(Penulis adalah Psikolog, Terapis Perkawinan dan Keluarga)