Memberi Pujian Sekaligus Teguran pada Anak

11 Januari 2010 Artikel Pendidikan


Memuji saat anak Anda berani mengikuti lomba di sekolah. Menegur ketika anak terlalu lama bermain game di depan komputer. Dua hal ini bisa terjadi dalam satu hari saja. Lalu sejauh mana pengaruh tindakan Anda tersebut terhadap kepribadian anak nantinya?

Tika Bisono, konsultan psikologi TIBIS Sinergi, berkeyakinan bahwa segalanya berawal dari rumah atau pendidikan keluarga. Pengasuhan rasional (rational parenting) sudah semestinya diterapkan dalam pendidikan keluarga. Pola pengasuhan ini adalah dengan menempatkan segala sesuatu dengan lebih rasional, atau memperlakukan anak secara rasional dan logis.

Sederhananya, terlalu sering memberikan pujian tak selamanya baik, apalagi jika tidak logis. Tidak pernah memberikan pujian juga tidak lebih baik. Orangtua harus lebih berhati-hati dalam memberikan apresiasi sekaligus mendidik anak untuk melihat kesalahan dengan cara yang adil dan rasional.

Hal ini menjadi penting karena menurut Tika, pendidikan moral, martabat, atau lebih luasnya nilai-nilai kearifan, berawal dari rumah. Bagaimana anak melihat dirinya, menghargai diri tanpa harus bergantung pada penilaian orang lain pun bergantung dari pola asuh sejak dini. Baik-buruk atau benar-salah keputusan yang diambil anak saat menghadapi situasi apa pun nantinya, juga sangat dipengaruhi bagaimana pendidikan dalam keluarga.

Lebih jauh Tika menerangkan, model pendidikan dari rumah yang kuat akan sangat bergantung pada peran orangtua. Jika role model dari rumah sudah kuat, anak akan membuat keputusan yang tepat untuk dirinya. Moralitas, etika, kehormatan diri, kemartabatan dan self esteem pun akan terbentuk kuat.

"Seseorang kemudian akan mendapati penghargaan dari dalam dirinya sendiri, dan tidak menggantungkan diri pada lingkungan untuk mendapat pujian ataupun pengakuan," katanya lagi.

Jadi, bagaimana Anda memberikan teguran dan pujian kepada anak di rumah? Sudah seimbangkah? Rasionalkah? Karena pada kenyataannya, dari cara sederhana tersebut, akan terlihat seperti apa kepribadian anak setelah dewasa. Lebih penting lagi, bagaimana anak setelah dewasa bisa menghargai dirinya.

C1-10/Editor: din

Sumber: Kompas.Com