Membedakan Dua Douwes Dekker

7 Agustus 2014 Artikel Pendidikan   |    Drs. Dedik Ekadiana


Kita seringkali mendapati guru-guru sejarah di sekolah lanjutan, keliru membedakan dua nama Douwes Dekker. Nama pejuang keadilan ini dipakai oleh dua orang. Tapi anehnya, orang kerap menyamakan antara Douwes Dekker Multatuli dan Douwes Dekker Setiabudi. Padahal, mereka berbeda.

Perlu kita ketahui, dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, ada dua nama Douwes Dekker. Pertama adalah Eduard Douwes Dekker, penulis Max Havelaar. Douwes Dekker yang satu ini dikenal sebagai Multatuli, nama samarannya dalam Max Havelaar. Multatuli lahir pada tanggal 2 Maret 1820 di Korsjespoortseeg, Amsterdam. Ayahnya seorang kapten kapal. Semula, Multatuli dimasukkan ke sekolah pendeta. Tapi, akhirnya ia bekerja di kantor dagang. Setelah itu ia berlayar ke Hindia Belanda. Tanggal 4 Januari 1839 Multatuli mendarat di Batavia.

Selama tinggal di Hindia Belanda, Multatuli beberapa kali pindah pekerjaan. Pertama ia bekerja sebagai ambtenar di Dewan Pengawas Keuangan di Batavia. Karena kurang cocok, ia pindah ke Natal - Sumatera Barat. Di padang Hulu, Multatuli menjadi kontrolir. Setelah itu ia terus pindah dari satu tempat ke tempat lain, di antaranya: Kerawang, Bagelan, Manado, Ambon hingga akhirnya menjadi Asisten Residen di Lebak. Ketika bertugas di Lebak, Multatuli melihat beberapa penyimpangan dan penderitaan rakyat. Rupanya penindasan tidak hanya dilakukan oleh kaum penjajah. Tapi juga oleh para penguasa pribumi yang menjilat kepada kaum kolonialis. Multatuli tidak tahan melihat hal itu, ia ingin meluruskan dengan mengirim surat protes kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia. Tapi, kenyataannya malah dia yang dibebastugaskan, karena dianggap kurang memahami pemerintahan colonial. Ia betul-betul kecewa.

Karena frustasi, Multatuli kembali ke Eropa. Ia tinggal di Belgia sambil menulis buku Max Havelaar. Buku itu menjadi karya besar. Max Havelaar telah membuka mata dunia tentang kebiadaban pemerintah colonial di Indonesia. Dalam buku tersebut diceritakan kisah cinta Saidjah dan Adinda yang harus terputus karena kekejaman pemerintah kolonial Hindia Belanda. Multatuli meninggal pada tanggal 19 Februari 1887 di Neider Ingelheim, Belgia. Sebagai penghormatan dan perjuangannya menegakkan keadilan di Hindia Belanda, jenazahnya dikremasikan di Gotha.

Douwes Dekker yang satu lagi adalah Dr. Danudirja Setiabudi. Nama lengkapnya adalah Ernest Eugene Francois Dauwes Dekker. Setiabudi adalah seorang Indo yang tidak mau mengakui ke-Indoannya. Dia masih keponakan jauh dari Multatuli. Setiabudi lahir pada tanggal 28 Oktober 1879 di Pasuruan - Jawa Timur.

Setiabudi adalah seorang patriotic. Semula ia bekerja di perkebunan, dan pernah menjadi guru kimia di Malang. Selain itu ia pun pernah menjadi sukarelawan dalam perang Boer melawan Inggris di Afrika Selatan. Dalam perang itu, ia ditawan pasukan Inggris dan dipenjarakan di Srilanka. Setelah bebas dan kembali ke Indonesia, Setiabudi bergerak dan berjuang sebagai wartawan dengan menerbitkan harian De Express. Tahun 1912 bersama Ki Hajar Dewantara dan Dr. Cipto Mangunkusumo, Dr. Setiabudi mendirikan partai politik Indische Partij, merupakan partai politik pertama yang lahir di Indonesia. Dalam sejarah perjuangan, mereka bertiga disebut Tiga Serangkai. Keinginan untuk menyatukan golongan Indo dengan pribumi merupakan niat luhur dari Setiabudi. Sebab, baginya golongan Indo merupakan kelompok yang terlunta-lunta. Mereka tidak pernah menganggap Indonesia sebagai tumpah darah mereka, tapi di negeri Belanda sendiri mereka tersisih.

Tahun 1913 bersama rekan-rekan seperjuangan, Setiabudi membentuk komite Bumiputera. Komite itu dibentuk untuk menentang peringatan bebasnya negeri Belanda dari penjajahan Perancis. Karena kegiatan komite Bumiputera, Setiabudi akhirnya ditangkap dan diasingkan ke negeri Belanda. Pada masa kemerdekaan, Setiabudi pernah duduk sebagai Menteri dalam kabinet Syahrir. Waktu Agresi Militer II, ia kembali ditangkap dan dipenjarakan. Dr. Danudirja Setiabudi meninggal pada tanggal 28 Agustus 1950 di Bandung.

Nah, sekarang jelas sudah perbedaan dua nama Douwes Dekker tadi. Semoga saja, cakrawala pandang kita terhadap pengetahuan sejarah perjuangan bangsa semakin terbuka lebar.

(Penulis adalah Guru Bantu SMP Widuri Jaya, Duri Kepa-Kebon Jeruk-Jakarta Barat)