Melatih Toleransi Sejak Dini

12 Maret 2014 Artikel Pendidikan


Masyarakat Indonesia yang beragam dari berbagai aspek, membutuhkan sikap toleransi untuk menjaga keutuhan. Meskipun tak dipungkiri kenyataan munculnya konflik di berbagai daerah akibat perbedaan tersebut. Hal itu menjadi isyarat pentingnya mengajarkan sikap toleransi kepada anak sejak dini.

Toleransi adalah menerima adanya keragaman dan kalau bisa atau idealnya adalah menghormati keragaman itu lalu menggunakannya untuk kebaikan. Toleransi adalah kemampuan sehingga bisa dilatih. Momen seperti lebaran atau berbagai perayaan keagamaan yang lain sangat pas untuk dijadikan latihan. Latihan ini sangat penting karena toleransi merupakan sikap yang paling positif dan konstruktif terhadap takdir Tuhan yang bernama keragaman.

Perbedaan adalah sesuatu yang selalu kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Jangankan yang besar seperti perbedaan agama, sehari-hari tentu kita sering menghadapi perbedaan pendapat, antara ayah dengan ibu, anak dengan saudara atau temannya, atau anak dengan orangtua. Perbedaan itu tidak bisa dihindari, yang penting adalah bagaimana kita menyikapinya.

Berikut yang perlu dilakukan untuk melatih sikap toleransi anak-anak:
1.Membantu anak memahami dengan akal sehat tentang pentingnya toleransi terhadap perbedaan. Kita bisa melatih kecerdasan anak untuk menjawab pertanyaan misalnya apa yang terjadi jika perbedaan itu dijadikan ajang kebencian? Akal sehatnya pasti akan berbicara

2.Memfasilitasi anak untuk mendapatkan pemahaman keagamaan yang mendorong toleransi, misalnya bacaan, tayangan, informasi, pendidikan, dan lain-lain.

3.Mengajak anak untuk memahami kenyataan bahwa semua umat beragama itu meyakini agamanya paling benar. Ini sudah benar, tapi yang salah adalah menyalahkan agama orang lain.

4.Mengajarkan dan mendorong anak untuk mendalami agamanya sehingga dia menjadi orang yang kuat pendiriannya karena memahami ajaran agamanya, namun tetap toleran terhadap agama lain.

5.Memberi contoh toleransi secara ucapan, sikap, dan tindakan terhadap orang yang beragama lain dari lingkungan terdekat, misalnya tidak menyalahkan, tidak menghina, dan seterusnya

6.Memberi pengetahuan dan pemahaman pada anak bahwa ada banyak agama yang berbeda di dunia ini, dan bahwa kita tidak boleh memaksakan ajaran agama kita kepada orang lain yang berbeda agama. Tugas kita adalah menjadi orang yang menghasilkan kebaikan dengan agama kita.

Yang perlu dipahami, toleran bukan berarti bersikap tidak peduli. Dalam perbedaan pendapat misalnya, anak perlu memahami dan belajar kapan waktunya ia harus mengalah dan mengakui bahwa pendapatnya salah dan menerima pendapat lawan bicaranya, kapan ia harus mempertahankan pendapatnya, atau apabila memang sudah tidak berhasil menyamakan visi, kapan harus sepakat untuk tidak sepakat, yang berarti kita tetap pada pendapat kita, dan membiarkan orang lain dengan pendapatnya tanpa perlu ada konflik diantaranya.

Oleh: Josua M
(Dikutip dari berbagai sumber)