Melaskar-Pelangikan Pendidikan

14 Mei 2010 Artikel Pendidikan


MuDAers, manusia selalu menginginkan kebebasan, apalagi remaja pelajar yang notabene masih dalam proses pencarian jati diri. JJ Rousseau mengatakan, Manusia dilahirkan bebas, dan di mana-mana ia terbelenggu. Hal inilah yang kerap dialami kaum muda.

Ketika setiap hari harus memakai seragam, sepatu hitam, dan membawa buku-buku yang berat, pelajar sering menginginkan kebebasan meninggalkan semua yang membelenggu itu. Pertanyaannya, apakah kebebasan hanya berarti terlepas dari rutinitas dan peraturan?

Di sinilah muncul berbagai pelanggaran aturan, hanya untuk memperoleh kebebasan. Membolos dan aksi vandalisme oleh pelajar merupakan contoh produk yang kurang melandasi pendidikan dengan kebebasan.

Menurut pengamat pendidikan dari SMA Kolese De Britto Yogyakarta, St Kartono, pendidikan bebas merupakan sistem pendidikan yang menempatkan semua siswa sebagai pribadi yang bebas.

Pendidikan bebas menempatkan prinsip cura personalis (pendidikan yang memerhatikan masing-masing pribadi dengan segala kelebihan dan kekurangannya) menjadi aspek yang penting dalam pendidikan bebas.

Pendidikan bebas mengolah sisi akademis dan nonakademis siswanya secara seimbang. Sangat tak adil jika kecerdasan kognitif menjadi panglima bagi aspek hidup yang lain, khususnya hati nurani. Prinsip cura personalis diaplikasikan untuk mendidik siswa agar dengan kebebasannya dapat mengembangkan diri secara utuh (bisa menerima kekurangan dan kelebihan diri).

Pada akhirnya, refleksilah yang menjadi kunci keberhasilan pengolahan pengalaman yang terjadi dalam diri, kata St Kartono.

Pendidikan bebas juga memiliki dinamika khusus (pedagogi reflektif) yang memungkinkan siswa bertanggung jawab secara otentik dan keluar dari hati. Jika ini tak dilakukan dalam dinamika pendidikan bebas, ada kekhawatiran siswa bertindak hanya karena takut pada peraturan dan tata tertib.

Jadi, pendidikan bebas tak sekadar tampil beda. Siswa dididik untuk secara bebas menaati peraturan, bukan karena takut sanksi.

Laskar Pelangi

Laskar Pelangi adalah ikon yang pas untuk menggambarkan dinamika pendidikan bebas. Ikal, Lintang, Sahara, Mahar, A Kiong, Syahdan, Kucai, Borek, Trapani, Harun, Flo adalah anggota Laskar Pelangi yang secara tak langsung merasakan dinamika pendidikan bebas.

Mereka tak terikat dengan baju yang harus seragam, tidak pula dengan buku pelajaran yang harganya begitu mencekik leher. Namun, tanpa seragam dan buku yang seragam pula, tak berarti Laskar Pelangi tidak dapat berkembang. Dengan prinsip cura personalis, Bu Muslimah mendidik mereka. Guru mengetahui apa yang menjadi kelebihan siswanya.

Layaknya pendidikan lain, pendidikan bebas pun menimbulkan ekses dalam penerapannya. Kebebasan sering disalahartikan menjadi asal tampil beda, berani melawan peraturan, dan terkadang hanya dipahami sebagai suatu simbol, misalnya sepatu sandal yang digunakan siswa SMA Kolese De Britto Yogyakarta.

Padahal, kebebasan tiap siswa dibatasi siswa lain sehingga dibuatlah aturan bersama untuk menjaga kebebasan tiap siswa agar sesuai pada rel-nya. Terkadang kaum muda melupakan nilai tanggung jawab, yang tak kalah penting dalam dinamika pendidikan bebas.

Tak ada salahnya pelajar Indonesia belajar dari Laskar Pelangi. Mengembangkan kelebihan tanpa melemahkan aspek hidup yang lain. Tak ada ruginya bila kaum intelektual muda mulai berani sedikit demi sedikit menerapkan pendidikan bebas dalam kehidupan mereka.

Mulailah dengan menaati peraturan karena pendidikan bebas diciptakan bukan untuk mendidik siswa menjadi pemberontak. Jadilah pribadi yang tak takut berbuat salah, berani berkorban, bertanggung jawab, berubah, dan tidak nekat jika tahu bahwa itu salah.

Hal-hal inilah sebenarnya esensi dari pendidikan yang benar-benar membebaskan, bukan seragam, bukan pula buku pelajaran wajib.

Tim SMA Kolese De Britto Yogyakarta: Silvio, Michael, Nino, Ferdi, Rakta, dan Gandhi

Sumber: Kompas Cetak (kompas.com)