Mbah Guno dan Pelajaran Melawak

15 Juni 2010 Artikel Pendidikan


Memasuki usia 83 tahun, pelawak yang biasa dipanggil Mbah Guno ini justru semakin berkibar. Di lingkungan tempat tinggalnya, Jeron Beteng Keraton Yogyakarta, ia dikenal sebagai orang tua yang lucu. Lewat acara obrolan yang diasuhnya di radio swasta di Yogyakarta, lawakan Mbah Guno pun disiarkan hingga Suriname.

Mbah Guno atau KRT Susanto Gunoprawiro mulai menjadi pelawak sejak menjuarai lomba lawak tingkat nasional di Jakarta tahun 1956. Meski medali emas murni yang dijanjikan belum diterima hingga kini, trofi sempat diberikan Ibu Negara Fatmawati Soekarno. Itu menjadi kenangan indah baginya.

Berawal dari trofi itulah tawaran melawak membanjir. Kala itu, Mbah Guno mengecap popularitas dengan beragam permintaan wawancara dari media massa. Panggilan melawak berdatangan dari sejumlah kota besar di Jawa, Kalimantan, dan Sumatera. Mbah Guno pula yang menjadi dosen lawak pertama di Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta.

Di rumahnya nan sunyi, di antara gang-gang sempit yang terlarang untuk menghidupkan mesin kendaraan bermotor, ia berkisah tentang hidupnya. Ruang tamu rumahnya yang berukuran 2 x 3 meter tak sanggup membatasi gerak Mbah Guno.

Dari lawak, ia tak mendapat kelimpahan materi, tetapi merasa hidupnya diperkaya dengan melawak. Di salah satu sudut ruang tamu itu, berderet piala dari beragam kejuaraan melawak tertutup debu. Dengan tenaga yang tersisa, Mbah Guno tetap aktif menghadiri seminar, sarasehan, dan mengasuh acara obrolan lawak sekali dalam sepekan di radio.

Tak lagi sanggup pergi sendiri karena rematik, ia diantar anaknya dengan membonceng sepeda motor. Melawak itu kebahagiaan. Kalau Anda ingin hidup senang, berilah kesenangan kepada orang lain. Jika Anda ingin bahagia, berilah kebahagiaan kepada orang lain. Saya menemukan keasyikan melawak ketika orang lain suka, katanya.

Berbincang selama hampir tiga jam dengan Mbah Guno jadi tak membosankan. Kalimatnya masih jelas dengan pola pikir jernih, tidak termakan usia. Gelak tawa sering mewarnai perbincangan, seperti ketika dia berkisah tentang wayang.

Ini petikannya: Alkisah anak Raja (Astina), Lesmana, hilang, Pendeta Durna ditanya apakah bisa mencari. Dia mengatakan bisa saja. Sengkuni lalu mengatakan apa-apa kok bisa. Di mana? Durna menjawab, pokoknya cari saja ke selatan, kalau tidak ada, ya ke utara, atau barat, atau timur. Ini lawakan terselubung. Lucunya, orang itu pandai, tetapi jawabannya bodoh, kata Mbah Guno.

Di mana pun, dia seakan bisa membuat orang tertawa. Maka, begitu mudah orang mencari rumah Mbah Guno. Begitu memasuki lingkungan Keraton Yogyakarta, warga dari anak-anak usia SD hingga kakek penjual bakso, semua kenal Mbah Guno.

Dunia pendidikan
Benih lawak bersemi saat Mbah Guno menetap di Yogyakarta sebagai mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Universitas Gadjah Mada (UGM). Tahun 1950, pada masa perploncoan mahasiswa, ia membentuk grup pelawak mahasiswa. Grup lawak itu dibentuk bersama tiga rekannya dari Fakultas Hukum, Fakultas Pertanian, dan Fakultas Kedokteran UGM.

Tak berhasil menyelesaikan pendidikan setelah menjalani kuliah selama tiga tahun, ia menjadi guru Kimia di SMA Pancasila selain juga guru Kimia dan guru karawitan di Sekolah Guru Pendidikan Jasmani. Di sini Mbah Guno suka melawak di ruang kelas sebelum dipanggil melawak tanpa bayaran ke berbagai sekolah.

Dua tahun menjadi guru honorer, Mbah Guno diangkat menjadi guru negeri di Sekolah Teknik Menengah Jetis dan mengajar hingga 1987. Tepat satu hari setelah pensiun sebagai guru, dia ditawari menjadi dosen lawak pada ISI Yogyakarta. Jadilah Mbah Guno dosen lawak pertama.

Kala itu, Rektor ISI Yogyakarta Prof Dr Soedarsono memintanya secara pribadi untuk menjadi dosen lawak pada Jurusan Teater. Jadilah Mbah Guno menjadi dosen ISI hingga usia 73 tahun pada tahun 2000. Dia mengajarkan Teater Jawa dan Teater Indonesia.

Saya diajak mengajar lawak karena, katanya, ISI berkali-kali kesulitan mencari dosen lawak, ujar Mbah Guno.

Saat awal mengajar, ia disepelekan mahasiswa, bahkan mayoritas mahasiswa kabur dari kelas. Seiring dengan berjalannya waktu, ia tergolong pengajar favorit. Sampai kini mantan mahasiswanya yang telah menjadi dosen suka datang ke rumahnya. Mereka belajar filsafat lawak.

Sejak tahun 1956, Mbah Guno menjalani profesi sebagai pelawak selain menjadi guru. Ia menggandeng seorang muridnya di SMA Pancasila, almarhum S Bagyo, yang kemudian menjadi pelawak populer. Ia termasuk angkatan pertama Dagelan Mataram Yogyakarta, yang banyak memakai bahasa Jawa, seangkatan dengan pelawak Pangkur Jenggleng Basiyo.

Namun, di antara pelawak tua, Mbah Guno menjadi pelawak tertua yang masih aktif hingga kini. Dia bercerita, dulu, melawak 10 menit saja ia mampu membuat penonton tertawa. Tetapi, kini, Saking banyaknya pelawak di dunia nyata seperti dalam percaturan politik, jadi susah saya membuat orang tertawa.

Mbah Guno melihat dunia lawak semakin suram. Pelawak yang ada cenderung suka meniru lawakan yang sudah ada sebelumnya. Mereka enggan belajar menyanyi dan berbagai bahasa untuk memperkaya lawakannya.

Selain bisa menyanyi, Mbah Guno juga fasih berbahasa Belanda dan Jepang. Dia pun piawai dalam seni pedalangan, keroncong, dan macapat. Dia bersahabat dengan penyanyi keroncong Waljinah.

Tahun 1990-an Mbah Guno merilis album humor berisi parodi lagu-lagu keroncong yang dilantunkan Waljinah. Judulnya, Kembang Kacang. Setiap Minggu malam, Mbah Guno tetap setia melawak lewat radio Retjo Buntung Yogyakarta. Lawakannya mengudara sampai Suriname.

Buku karyanya, Dasar-dasar Melawak, hingga kini menjadi pegangan pendidikan lawak di ISI Yogyakarta.

Sumber: oase.kompas.com