Mana yang Harus Lebih Dulu, Keinginan atau Kebutuhan?

10 Agustus 2014 Artikel Pendidikan


Manusia memang memiliki hal-hal yang ingin dimiliki. Baik itu rasa kasih sayang, mobil baru, handphone baru dan lain-lain. Tapi apakah rasa ingin memiliki satu hal tersebut suatu kebutuhan atau hanya keinginan?

Sebelum kita lebih jauh, ada baiknya kita mengetahui apa itu kebutuhan dan keinginan.

Kebutuhan adalah fungsi dasar atas sesuatu yang secara esensial diperlukan: makan untuk memenuhi nutrisi, tempat tinggal untuk istirahat, transportasi untuk bekerja, pendidikan untuk masa depan anak dan lain-lain.

Sedangkan keinginan adalah semua fungsi tambahan yang jika tidak ada sebenarnya tidak mengganggu hidup Anda akan tetapi Anda mengharapkan untuk bisa mendapatkan fungsi tambahan tersebut. Makanan yang mahal, rumah yang besar dan mewah, mobil baru dan mengkilat, dan seterusnya. Keinginan seringkali merupakan perwujudan untuk menegaskan status sosial seseorang sekaligus membuktikan kepada orang lain bahwa dia mampu memilikinya.

Dari pengertian diatas kita dapat simpulkan mana yang lebih penting bukan? Yap, jawabannya adalah kebutuhan. Karena kebutuhan merupakan hal dasar yang diperlukan manusia. Sedangkan keinginan merupakan pelengkap dari kebutuhan itu sendiri.

Standar kebutuhan dan keinginan berdasarkan kondisi lingkungan, aktivitas harian, tuntutan pekerjaan atau profesi dan sebagainya. Bagi sebagian orang, motor sudah merupakan kebutuhan. Untuk bisa menunjang aktifitasnya di luar rumah dan sering bepergian, maka motor adalah alat transportasi yang menjadi kebutuhan. Lain hal nya dengan orang yang aktifitasnya jarang keluar, maka motor bukan suatu kebutuhan melainkan hanya keinginan.

Ketika seseorang menginginkan sesuatu, seringkali aspek emosional lebih mendominasi daripada aspek rasional. Bayangkan ketika berjalan-jalan ke mall kemudian melihat tas yang bagus. Ada rasa sangat ingin memilikinya karena tas tersebut akan match dengan gaya sekaligus dapat ditunjukkan kepada rekan-rekan waktu pertemuan bersama minggu depan. Aspek emosional yang muncul adalah hasrat kuat untuk memiliki sehingga seolah-olah menjadi kebutuhan.

Untuk itu perlu pertimbangan yang matang dan jernih untuk menentukan apakah tidak masalah membeli tas baru itu. Lalu, apakah setiap keinginan selalu tidak baik dan tidak boleh dipenuhi? Jawabannya adalah tergantung kondisi dan kemampuan saat itu. Jika Anda memiliki banyak uang, membeli barang yang mahal dan memiliki prestise tentu sah-sah saja asalkan bukan dengan niat menyombongkan diri. Sebaliknya jika penghasilan Anda masih terbatas tapi memaksakan, maka di sinilah letak permasalahannya. Orang yang memiliki uang banyak sekalipun bukan berarti bisa memenuhi apa yang diinginkannya. Prinsip utama adalah pengendalian diri, pengendalian keinginan, dan menilai secara bijak apa yang perlu dipenuhi dan apa yang tidak. Dengan demikian Anda menjadi pengambil keputusan yang bijaksana.

Semoga bermanfaat!

Oleh: Ariyanti S
(Dikutip dari berbagai sumber)