Makna Ketupat pada Lebaran dan Tradisi Lebaran di Belahan Dunia

28 Juni 2017 Artikel Pendidikan


Tak terasa sebentar lagi saudara kita yang berkeyakinan Muslim akan merayakan Hari Raya Idul Fitri atau lebih dikenal dengan hari Lebaran setelah melaksanakan puasa selama 1 bulan penuh dengan menahan nafsu serta menjalankan ibadahnya.

Hari Lebaran seperti contohnya di Indonesia, pastilah identik dengan tradisi ketupat. Banyak orang yang mungkin bertanya-tanya kenapa setiap merayakan hari Lebaran, pasti akan ada simbol ketupat. Mengapa harus ketupat? Nah, asal usul tradisi membuat ketupat sudah ada sejak masuknya Islam ke tanah Jawa, sekitar tahun 1400-an. Ketupat sendiri juga memiliki makna yang tepat sesuai dengan Lebaran. Dalam bahasa Jawa, ketupat disebut kupat . Kata kupat berasal dari suku kata ku yang berarti ngaku (mengakui) dan pat dari kata lepat (kesalahan). Sehingga ketupat menjadi simbol mengakui kesalahannya.

Namun di era modern ini hanya beberapa daerah saja yang menggunakan tradisi ketupat dalam hari Lebaran. Tidak sedikit yang beranggapan jika merayakan Lebaran haruslah memiliki sesuatu yang baru seperti baju baru, sepatu baru, dan berbagai macam aksesori serta variasi makanan. Padahal sebenarnya Lebaran merupakan sebuah hari kemenangan untuk semua orang muslim di dunia. Kemenangan yang dimaksud ialah setelah sebulan penuh kita wajib menjalankan ibadah, berpuasa menahan lapar, menahan nafsu dan amarah kita. Tujuan kita berpuasa adalah agar kita bisa merasakan bagaimana merasakan menjadi orang miskin yang setiap harinya merasakan kelaparan, agar kita sebagai manusia tidak hanya memandang keatas, namun kita diberitahu bahwa masih banyak orang-orang yang belum dapat merasakan hidup seperti kita. Dan semua itu telah berujung pada hari dimana kita semua akan kembali fitri. Dan hal itu selalu diakhiri dengan saling berkunjung antar keluarga, tetangga, teman, sanak saudara agar membuka hati untuk saling memaafkan.

Di Indonesia selain memiliki tradisi ketupat, tradisi mudik pun menjadi salah satu pilihan yang sering digunakan untuk mempererat tali persaudaraan antar keluarga dan sesama dengan memanjangkan tali silahturahmi.

Tidak hanya di Indonesia, di luar negeri juga memiliki tradisi dalam merayakan hari Kemenagan Idul Fitri di masing-masing negara. Berikut tradisi Lebaran yang dijalankan saudara-saudara kita yang berada di luar negeri:

1. Turki
Di Turki, Idul Fitri dikenal dengan sebutan Bayram (dari bahasa Turki). Biasanya setiap orang akan saling mengucapkan "Bayramnz Kutlu Olsun", "Mutlu Bayramlar", atau "Bayramnz Mübarek Olsun". Pada Idul Fitri, masyarakat biasanya menggunakan pakaian terbaik mereka (dikenal sebagai Bayramlik) dan saling kunjung mengunjungi ketempat orang-orang yang mereka kasihi seperti keluarga, tetangga, dan teman-teman mereka serta menziarahi kuburan keluarganya yang telah tiada.

Pada masa itu, orang yang lebih muda akan mencium tangan kanan mereka yang lebih tua dan menempatkannya di dahi mereka selagi mengucapkan salam Bayram. Para anak-anak kecil juga biasa mendatangi rumah-rumah disekitar lingkungannya untuk mengucapkan salam, dimana mereka biasanya diberikan permen, cokelat, permen tradisional seperti Baklava dan Lokum, atau sejumlah kecil uang.

2. Nigeria
Nigeria adalah negara sekuler yang dihuni oleh sejumlah besar umat Islam dan Kristen. Oleh karena itu, sebagian Muslim merayakan perayaan Idul Fitri, dimana banyak pula orang Kristen turut berpartisipasi. Di Nigeria, Idul Fitri dikenal sebagai Sallah Kecil dan umumnya orang saling menyapa dengan ucapan tradisional: "Barka Da Sallah," yang berarti "Salam di Sallah" dalam bahasa Hausa. Umumnya di Nigeria, ketika Ied ditetapkan sebagai hari libur nasional yang ditetapkan selama dua hari. Banyak keluarga Muslim pulang ke kampung halaman masing-masing untuk mengunjungi keluarga dan kerabat.

3. Amerika Utara
Umat Muslim di Amerika Utara pada umumnya merayakan Idul Fitri dengan cara yang tenang dan khidmat. Pada umumnya, penghujung Ramadan diumumkan via e-mail, website, atau melalui sambungan telepon. Umumnya, keluarga Muslim di Barat akan bangun sangat pagi sekali untuk menyiapkan makanan kecil. Setiap orang didorong untuk berpakaian formal dan baru. Banyak keluarga-keluarga yang memakai pakaian tradisional dari negara mereka, karena kebanyakan Muslim disana ialah imigran. Selanjutnya mereka akan pergi ke majlis yang paling dekat untuk salat. Salat itu bisa diadakan di masjid lokal, ruang pertemuan hotel, gelanggang, ataupun stadion lokal.

4. Australia
Meskipun Australia sebuah negara non-Muslim dan sekuler, tetapi umat Islam di sini diberikan ruang kebebasan untuk mempraktikkan agama mereka dengan besar. Banyak perusahaan besar di Australia memberikan libur khusus bagi pegawainya umat Islam untuk mengambil libur Idul Fitri. Beberapa kota dimana Islam menjadi mayoritas memungkin jalanan umum dipelataran mesjid ditutup ketika Shalat Idul Fitri berlangsung. Sejak tahun 1987, tradisi Idul Fitri di Australia di meriahkan dalam format festival multi kultur yang diselenggarakan di Sydney. Festival ini telah berkembang dengan melibatkan puluhan ribu Muslim dan non-Muslim. Bahkan beberapa tamu penting hingga pejabat negara berkenan hadir sebagai tamu undangan. Sekarang festival ini telah diadopsi di banyak kota di Australia.

5. China
Di Republik Rakyat Cina, dari 56 kelompok etnis yang diakui secara resmi, 10 kelompok etnis diantaranya adalah mayoritas beragama Islam. Kelompok-kelompok Muslim ini secara total tercatat berjumlah 18 juta jiwa lebih menurut statistik resmi. Di Cina, tepatnya di Xinjiang, perayaan Lebaran justru tampak meriah. Kaum pria mengenakan jas khas dan kopiah putih, sementara wanita memakai baju hangat dan kerudung setengah tutup. Seusai salat Idul Fitri, pesta makan dan bersilaturahim pun dilakukan. Lebaran atau Iedul Fitri berhak dan ditetapkan sebagai hari libur.

Di propinsi Yunnan, beberapa umat Muslim pada Idul Fitri, mengunjungi makam leluhur dan makam tokoh Muslim setempat. Di sana, mereka akan melakukan pembacaan dari Al Qur’an dan membersihkan makam. Hal ini mengingatkan festival tahunan bersejarah Qingming Cina, di mana orang pergi kuburan nenek moyang mereka, menyapu dan membersihkan daerah itu dan membuat persembahan makanan. Ritual doa ini dilakukan doa khusus untuk menghormati ratusan ribu Muslim tewas selama Dinasti Qing, dan ratusan tewas selama Revolusi Kebudayaan.

6. Arab Saudi
Di Arab Saudi, tepatnya di Riyadh, umat Islam mendekorasi rumah saat Idul Fitri tiba. Sejumlah perayaan digelar seperti pagelaran teater, pembacaan puisi, parade, pertunjukan musik, dan sebagainya. Soal menu Lebaran, umat Islam di sana menyantap daging domba yang dicampur nasi dan sayuran tradisional. Hal ini juga terjadi di Sudan, Suriah, dan beberapa negara Timur Tengah lainnya.

7. Indonesia
Di Negeri kita sendiri, Umat Islam menjadikan Idul Fitri sebagai hari raya utama, momen untuk berkumpul kembali bersama keluarga, apalagi keluarga yang karena suatu alasan, misalnya pekerjaan atau pernikahan, harus berpisah. Mulai dua minggu sebelum Idul Fitri, umat Islam di Indonesia mulai sibuk memikirkan perayaan hari raya ini, yang paling utama adalah Mudik atau Pulang Kampung, sehingga pemerintah pun memfasilitasi dengan memperbaiki jalan-jalan yang dilalui. Hari Raya Idul Fitri di Indonesia diperingati sebagai hari libur nasional, yang diperingati oleh sebagian besar masyarakat Indonesia yang memang mayoritas Muslim. Biasanya, penetapan Idul Fitri ditentukan oleh pemerintah, namun beberapa ormas Islam menetapkannya berbeda.

Idul Fitri di Indonesia disebut dengan Lebaran, dimana sebagian besar masyarakat pulang kampung (mudik) untuk merayakannya bersama keluarga. Selama perayaan, berbagai hidangan disajikan. Hidangan yang paling populer dalam perayaan Idul Fitri di Indonesia adalah ketupat, yang memang sangat familiar di Indonesia, Malaysia, Brunei, dan Singapura. Bagi anak-anak, biasanya para orang tua memberikan uang raya kepada mereka. Selama perayaan, biasanya masyarakat berkunjung ke rumah-rumah tetangga ataupun saudaranya untuk bersilaturahmi, yang dikenal dengan "halal bi-halal", memohon maaf dan keampunan kepada mereka. Beberapa pejabat negara juga mengadakan open house bagi masyarakat yang ingin bersilaturahmi.

Semoga semangat saling memaafkan tidak hanya terjadi pada sehari atau dua hari saa melainkan berjalan pada hari-hari selanjutnya agar tercipta kerukunan dalam bersosial dan antar umat di seluruh dunia.

Selamat Hari Raya Idul Fitri !

Oleh: Josua M
(Dikutip dari berbagai sumber)