Kurangi Kasus Bunuh Diri, Beberapa Negara Terapkan Terapi Kematian!

12 November 2015 Artikel Pendidikan


Saat ini, semakin meningkat jumlah kasus bunuh diri setiap tahunnya. 2 orang meninggal karena bunuh diri setiap harinya di Malaysia. Bahkan lebih parahnya, 40 orang meninggal akibat bunuh diri di Korea Selatan! Survey mengatakan angka yang cukup besar itu disebabkan oleh tekanan hidup yang sangat berat, seperti susahnya mencari kerja dan beban keuangan.

Di tengah kondisi tersebut, Seoul Hyowon Healing Center, pusat terapi di Korea Selatan memberikan solusi unik, yakni dengan terapi kematian! Eits, bukan berarti terapi untuk orang mati atau mengajarkan cara mati, lho!

Terapi kematian atau terapi kan memberikan "pengalaman kematian" kepada klien. Tujuannya untuk mengenalkan bagaimana rasa meninggal dunia, sehingga diharapkan meeka lebih menghargai hidupnya masing - masing.

Para peserta terapi diminta untuk mengenakan jubah putih kemudian duduk di atas peti mati. Di dalam peti tersebut mereka mendengar ceramah singkat dari kepala pusat terapi, Jeong Yong Mun.

Dalam ceramahnya, Yong Mun mengatakan bahwa permasalahan itu merupakan bagian dari hidup. Sehingga harus menerima masalah itu dan mencoba mencari kesenangan di tengah kesulitan hidup itu. Masalah harus diselesaikan, bukan ditinggal lari, atau bahkan ditinggal mati.

Setelah mendengar ceramah, peserta diminta untuk menulis surat perpisahan dan keinginan di kertas yang disediakan. Sebelum waktu kematian dimulai, peserta diminta membaca dengan keras surat perpisahannya.

Peserta kemudian berbaring di peti mati dan peti ditutup. ‘Malaikat pencabut nyawa’ pun datang. Saat mata peserta benar - benar tertutup, barulah sang malaikat pergi meninggalkan ruangan. Suasana menjadi gelap dan sepi dirasakan peserta. Selama sekitar 10 menit, peserta dibiarkan dalam suasana tersebut untuk merenungkan bahwa suasana hampa itulah yang dirasakan saat kematian tiba.

Setelah waktu yang ditentukan, Jeong Mun menghampiri pesera dan memberi tahu bahwa mereka masih hidup.

Selain di Korsel, beberapa negara lainnya juga mempraktekkan terapi ini, seperti China dan Ukraina. Para peserta yang sudah melakukan terapi merasa lebih segar dan bebas. Hmm.. perlukah Indonesia menerapkan terapi kematian?

Oleh: Feliciany H T
(Dikutip dari berbagai sumber)