Kenapa Pilih Sekolah yang Belum Juga Berubah?

14 Januari 2010 Artikel Pendidikan


Sudah saatnya pendidikan Indonesia meninggalkan paradigma lama, yang memandang pendidikan di sekolah hanya dari ukuran akademik, sementara non akademik selalu dibelakangi. Pembuat kebijakan, guru, serta orang tua murid masih seringkali lupa, bahwa belajar di sekolah bukan semata untuk mendapatkan nilai dan prestasi akademik.

Sekolah harus mampu menjadi media pendidik untuk membuat siswa bisa mengaplikasikan semua pelajaran yang diterimanya di kelas. Untuk itu, tujuan sekolah adalah menjadikan belajar sebagai sebuah proses seumur hidup, sebagai bekal anak didik menghadapi masa depannya, bukan nilai-nilai dan prestasi akademik semata.

Demikian dikatakan oleh Head of Business Management Sekolah High/Scope Indonesia (SHI) Upie Naimah di Jakarta, Kamis (14/1/2010), menyambut persiapan Open House SHI bertajuk Changing, So Why Choose a School That Hasn't Changed? di SHI TB Simatupang pada 23 Januari 2010 dan beberapa cabang SHI lainnya di Indonesia.

"Di sini kami ingin anak itu berkembang secara utuh mulai prasekolah hingga SMA, dengan proses belajar aktif dan kreatif ," ujar Upie.

Pada prasekolah, misalnya, fokus sekolah adalah harus mampu meningkatkan perkembangan sosial-emosional anak didik dengan melakukan berbagai stimulasi yang bisa membentuk kemampuan berpikir dan bertindak, yang selama ini lebih dikuasai oleh otak kanannya, dengan baik.

Di tingkat SD, pendidikan difokuskan pada basic skills si anak. Sekolah harus mampu membaca, menemukan, dan menggali kemampuan-kemampuan dasar anak didik sesuai perkembangan usianya, yaitu calistung. Lalu, di tingkat SMP, fokus pendidikan di sekolah adalah bisa menyesuaikan kebutuhan anak didik yang mulai beranjak pada tahap kemampuan menganalisa pikirannya.

"Secara fisik pertumbuhan mereka sangat terlihat, karena di fase inilah hormon-hormon mereka mulai tumbuh. Ya, mereka mulai berani melakukan apa yang ada dipikirannya dan berani mengambil risiko atas tindakannya," ujar Upie.

Sementara di SMA, fokus sekolah adalah harus dapat membuat peta kognitif siswa. Di sinilah siswa belajar bagaimana mereka mempelajari dan memahami apa sesungguhnya kemampuan yang mereka miliki selama menuntut ilmu.

Orang tua dan guru

Tetapi, untuk bisa merubah paradigma lama itu, fokus pendidikan sekolah tidak cukup hanya berpokok pada siswa. Upie mengatakan, orang tua murid dan guru pun harus dilibatkan secara aktif mendukungnya dengan bersikap maju dan open minded.

Untuk itulah, pihaknya juga harus "menyiapkan" orang tua dan guru. Segala kebijakan, pelaksanaan kebijakan, hingga hasil dan evaluasi pendidikan yang dijalankan di sekolah harus bersinergi dengan guru dan orang murid.

"Selain memiliki college counselor, kami juga menggelar parents workshop setiap bulan sekali untuk setiap jenjang pendidikan. Ini perlu dilakukan, sebab kami juga harus mengedukasi orang tua mengenai pendidikan anak-anaknya di sini," ujarnya.

Akhir kata, tambah Upie, menyelenggarakan pendidikan di sekolah melalui proses belajar dan mengajar yang aktif dan kreatif adalah untuk menyikapi perubahan paradigma pendidikan saat ini. Bukan hanya untuk anak, tetapi juga guru dan orang tua murid untuk belajar menerima perubahan ini demi masa depan pendidikan Indonesia.

Author: LTF/Editor: latief

Sumber: Kompas.Com