Kenalkan Anak dengan Bagian Tubuhnya

20 Januari 2010 Artikel Pendidikan


Pengenalan tubuh sejak usia dini bermanfaat bagi anak sebagai bentuk edukasi seks.

Wahyu Dilts, founder Dilts Foundation, berkisah tentang pengalamannya dalam mengasuh anak-anak jalanan, pemulung, anak terlantar, termasuk buah hatinya ketika memberikan pendidikan seks. Ada sejumlah tahap edukasi yang disusunnya untuk mereka, seperti:

Pengenalan anatomi tubuh
Penggunaan buku anatomi tubuh perempuan dan laki-laki menjadi titik mula untuk mengenalkan pada anak bagaimana membedakan organ tubuh dan fungsi-fungsinya.

"Penggunaan bahasa anak-anak, bicara dengan bercerita dan nada jenaka akan membuat pengenalan ini menjadi lebih nyaman," ujarnya kepada Kompas Female.

Pengenalan kemaluan dan cara menjaganya
Pengertian lain yang diberikan kepada anak sejak dini, seperti, "Duduk tidak boleh terbuka lututnya, karena kalau kelihatan celana dalamnya akan malu dan tidak bagus. Celana dalam fungsinya untuk menutupi kemaluan yang biasanya buat buang air kecil, dan kelak akan melahirkan anak dari rahim perempuan. Jadi harus dilindungi, orang lain tidak boleh melihat bahkan menyentuhnya, kecuali minta tolong sama ibu di rumah," Wahyu mencontohkan.

Pengenalan payudara
Wahyu menjelaskan kepada anak didiknya bahwa anak perempuan memiliki payudara yang membesar ketika dewasa, karena ketika melahirkan perempuan akan menyusui anaknya. Anak didiknya pun diajarkan untuk membiasakan diri menjaga kebersihan payudara sejak kecil.

"Mandi bersama dengan anak dilakukan sejak kecil, sehingga mereka tidak kaget kalau melihat orang telanjang atau pun duduk terlihat celana dalamnya," ujar Wahyu. Menurutnya, cara ini menghindarkan anak-anak mengintip sekadar melepas rasa penasarannya.

Pengenalan tentang bayi dan rahim ibu
Wahyu menggunakan contoh kupu-kupu atau binatang lain yang disukai anak-anak dalam tahap pengenalan ini. Wahyu menjelaskan orang dewasa harus menjadi suami-istri untuk mempunyai anak. Alasan yang jelas pun harus diterangkan seperti orang dewasa punya anak karena sudah bisa bertanggung jawab. Anak kecil tidak dibolehkan punya anak karena masih perlu pertolongan orang tuanya.

Lebih lanjut, Wahyu menegaskan anak untuk kembali kepada tugas utamanya seperti belajar, membantu ibu, menjaga badannya seperti tidak ada yang boleh melihat tubuhnya kalau sedang telanjang, tidak ada yang boleh menyentuhnya sembarangan, tidak ada yang boleh melukai atau menyakitinya. Ia juga menyarankan anak untuk segera melapor kepada ibunya jika ada seseorang yang melakukan hal yang dilarang tadi terhadapnya.

Pendidikan semacam ini diberikan Wahyu kepada anak usia di bawah 15 tahun. Di atas usia itu, Wahyu selalu memberi penyuluhan tentang perkawinan dini yang selalu punya resiko penyakit berbahaya dan juga akan ikut andil lahirnya anak-anak terlantar.

C1-10/Editor: din

Sumber: Kompas.Com