Kembangkan Kreatifitas Anak di Sekolah

6 September 2016 Artikel Pendidikan   |    Kak Zepe


Banyak orang tua sibuk dengan segala pekerjaan dan aktivitasnya, sehingga beberapa diantara mereka kurang memikirkan bagaimana cara mengembangkan kreatifitas buah hatinya. Padahal anak-anak berusia dini perlu distimulasi secara intens agar kreatifitas mereka bisa berkembang secara maksimal. Sekolah adalah salah satu tempat yang pas agar anak-anak bisa mengembangkan kreatfitas mereka, dan tentu saja dengan bimbingan bapak dan ibu guru mereka. Sebagai pendidik, Kak Zepe juga ingin berbagi pengalaman tentang cara mengembangkan kreatifitas anak, khususnya saat anak-anak berada di lingkungan sekolah.

1. Memberikan Kebebasan

Anak-anak kreatif biasanya akan cenderung sulit mengikuti aturan yang baku. Mereka akan memiliki cara tersendiri untuk mendapatkan hasil yang menurut mereka baik. Sebagai pendidik, kita tidak boleh memberikan aturan yang terlalu kaku, misalnya pada saat kita meminta membuat suatu hasta karya. Instruksi yang baku memang perlu, namun jangan sampai instruksi tersebut terlalu kaku, sehingga anak-anak terjebak dengan kata harus begini dan harus begitu. Misalnya pada pelajaran menggambar. Kita hanya perlu memberikan instruksi kepada anak-anak didik untuk menggambar dengan tema tertentu, lalu meminta mereka menggambar dengan cara mereka sendiri. Biarkan mereka memilih warna kesukaan mereka, dan biarkan mereka berkreasi dengan bentuk atau gambar benda yang mereka suka.

2. Mau Mendengarkan Ide

Anak-anak sangat suka berbicara, termasuk dalam hal mengungkapkan ide-ide mereka. Pendidik harus bisa menjadi pendengar yang baik dalam hal ini. Jangan hentikan ide mereka, walaupun itu hanya bersifat imajinasi atau terdengar tidak penting banget. Kita harus bisa menjaga perasaan mereka, sehingga mereka akan tetap semangat dalam memberikan ide dan mengembangkan ide yang mereka punya.

3. Variasi Aktivitas

Ada anak-anak yang sangat suka menggambar, ada anak yang sangat suka membuat hasta karya, ada anak yang sangat suka menari, dan lainnya. Beberapa anak hanya menyukai satu aktivitas saja, dan kadang terlihat tidak suka saat diminta melakukan hal yang lain. Sebagai pendidik, kita harus bisa menyemangati anak-anak didik kita agar mereka mau melakukan variasi aktiitas, meskipun bukan aktivitas favorit mereka. Bukan dengan cara memaksa mereka. Mengajak anak melakukan sesuatu yang tidak mereka suka memang kadang tidak mudah. Ada banyak cara yang bisa kita lakukan agar mereka menjadi mau. Misalnya dengan mengajak mereka melakukannya secara berkelompok, meminta mereka mencobanya, mendampinginya, memotivasinya, dan masih banyak cara lainnya. Yang penting pendidik tidak boleh menyerah untuk mengajak semua anak gemar melakukan variasi aktivitas.

4. Menyediakan Permainan Kreatif

Ada banyak mainan yang bisa dimainkan anak-anak di waktu senggang mereka. Jangan biarkan anak-anak hanya berlarian atau bermain kejar-kejaran berasam teman yang lain. Sekolah harus bisa menyediakan berbagai mainan edukatif, sehingga anak-anak bisa belajar banyak hal di waktu senggang mereka, dengan cara bermain balok, puzzle, lego, dan berbagai mainan edukatif lainnya.

5. Mengarahkan Talenta Anak

Anak-anak memang perlu belajar banyak aktivitas. Namun mereka juga perlu fokus pada salah satu bidang yang menjadi bakat terbesar mereka. Karena biasanya dengan bakat alami yang paling dominan, anak-anak akan terlihat sangat percaya diri. Komunikasi dengan orang tua sangat perlu dalam hal ini, sehingga anak-anak bisa mendapatkan penanganan yang berkesinambungan dalam rangka mengembangkan talenta yang ia miliki.

6. Luangkan Waktu "Chit-Chat" dengan Anak Didik

Sosok guru saat mengajar dan sosok guru di luar jam mengajar tidaklah sama. Saat guru mengajar, guru akan lebih terlihat serius dan tegas dalam memberikan instruksi, meskipun sesekali harus memunculkan candaan yang menghibur anak, sehingga suasana di kelas tidak tegang. Namun guru juga harus muncul sebagai sosok yang ramah, humoris, dan santai. Di luar jam pelajaran, guru harus bisa akrab dengan anak-anak. Bila perlu, luangkan waktu untuk bisa "chit-chat" atau mengobrol hal-hal yang bersifat santai dan tidak menyangkut pelajaran di sekolah, misalnya tentang hobi mereka, apa aktivitas di rumah, dan lainnya. Dengan adanya keakraban antara guru dan siswa, siswa pun akan cenderung lebih ekspresif dan percaya diri saat mereka diminta melakukan sesuatu waktu pelajaran formal. Suasana di kelas menjadi semakin santai, bila anak-anak merasa dekat dengan gurunya, sehingga kebebasan berkreasi mereka semakin baik.

7. Free Time

Free time adalah waktu bebas dimana anak-anak boleh melakukan apa pun yang mereka suka, namun tetap mengikuti aturan yang berlaku dan harus berlangsung tertib. Di saat "free time" ini, anak-anak diperbolehkan mempresentasikan apa pun yang mereka suka. Mereka boleh melakukan presentasi secara individu maupun berkelompok. Biasanya di saat "free time" ini anak-anak akan memilih aktivitas atau hobi favorit mereka. Pendidik pun menjadi semakin paham akan talenta-talenta yang dimiliki oleh anak-anak didiknya.

8. Aturan yang Bersifat Mengingatkan, Bukan Menghukum Pelanggarnya

Aturan-aturan bagi anak usia dini bukanlah aturan yang kaku, dimana nantinya akan memberikan hukuman bagi pelanggarnya. Aturan bagi anak usia dini hanyalah bersifat mengingatkan. Mengingatkan mereka akan hal-hal yang baik dan tidak baik atau yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan. Dan bila mereka melanggarnya, kita tidak boleh menghukumnya, namun hanya mengingatkannya. Kita juga bisa memberikan konsekuensi yang edukatif bila seorang anak melanggar aturan, misalnya dengan meminta mereka menyanyi di depan kelas, menjawab pertanyaan, menyebutkan sesuatu (misalnya sebutkan 10 nama buah), dan konsekuensi edukatif lainnya.

(Penulis adalah Praktisi Pendidikan dan Pencipta Lagu Anak dalam aplikasi gratis" Lagu Anak Kak Zepe Vol 1 dan 2)