Kapan Saatnya Orangtua Melarang Remaja Berpacaran?



Gaya berpacaran remaja lebih pada having fun dan bukan hubungan yang mengarah komitmen, seperti masa pacaran di atas usia 20 tahun. Di atas usia ini, hubungannya lebih intimate atau eksklusif secara emosional, passionate, dan mengarah pada pernikahan. Namun, dengan konsep diri yang terbangun baik, remaja lebih percaya diri dan tidak akan melakukan tindakan negatif saat berpacaran.

"Remaja sekarang mempunyai pilihan, termasuk dalam berteman. Apalagi dengan kecanggihan teknologi di mana anak bisa membangun pertemanan melalui jejaring sosial, misalnya. Remaja dengan konsep diri yang baik akan tahu cara menggebet yang benar. Peran orangtua adalah sebagai teman dan tidak menggurui," ujar psikolog remaja, Roslina Verauli, dalam media briefing kompetisi foto bagi remaja, "Lomba Serangan Cinta Cornetto", di Jakarta, Kamis (29/4/2010).

Menjadi mengkhawatirkan jika anak usia remaja menjalani pacaran dengan gaya usia matang. Anda bisa mengamati ciri-cirinya, di mana anak mulai mengalami ketergantungan kepada orang lain, termasuk kepada sang pacar.

"Remaja yang kesepian, merasa tidak punya kelebihan yang bisa dibanggakan, dan tidak mengenali dirinya cenderung akan bergantung kepada orang lain. Termasuk saat memasuki masa gebet-menggebet yang tidak lagi untuk bersenang-senang," jelas Vera, menambahkan, orangtua perlu lebih tegas dengan membantu anak memperbaiki konsep dirinya.

Artinya, jika anak remaja Anda sudah menunjukkan tanda berpacaran seperti orang dewasa, sebaiknya minta anak untuk menyudahi pacaran. Ajak anak mengenali dirinya dengan melibatkan dalam kegiatan ekstrakurikuler, ajang kompetisi, memiliki pertemanan yang sehat, dan mendukungnya untuk berprestasi.
C1-10/Editor: dinSumber: Kompas.Com