Kalimat yang Tidak Boleh Didengar Anak

7 Desember 2017 Artikel Pendidikan


Sebagai orang tua, sudah sepatutnya jika Anda selalu menginspirasi anak dengan berbagai kalimat pembangkit semangat. Namun, situasi hati yang sedang tak menentu kadang membuat kalimat yang keluar dari mulut kita justru membuatnya patah semangat. Berkomunikasi dengan anak-anak dengan efektif bisa sangat sulit, terkadang kata yang kita sampaikan artinya bisa berbeda ketika sampai di telinga mereka. Karena, anak-anak tidak bisa diharapkan untuk mampu mencerna kata-kata dan konteks kalimat dengan cara yang sama dengan orang dewasa

Berbagai masalah rumah tangga, pekerjaan, sampai kenakalan anak, tak jarang membuat Anda lepas kontrol dan marah. Bahkan tak jarang, anak-anak menjadi sasaran kemarahan , entah melalui sikap ataupun kata-kata kasar yang keluar dari mulut Anda. Hati-hati bila Anda sering kelepasan bicara seperti ini.

Chick Moorman, penulis buku Parent Talk dan Spirit Whisperers mengatakan: Kata-kata bisa menjadi sumber inspirasi, tapi juga bisa melukai perasaan. Meskipun anak menimbulkan banyak masalah, namun sebagai orangtua tak sepatutnya melontarkan kata-kata yang menyakitkan bagi anak. Karena efek dari ucapan yang kasar tersebut seringkali lebih merugikan daripada yang dibayangkan.

Berikut beberapa kata yang tidak boleh didengar anak:
1. Kalau nakal, Ibu akan meninggalkanmu di sini.
Anda mengancam dan menakuti anak-anak dengan harapan agar mereka patuh pada perintah. Perlu diketahui, ketakutan terbesar anak-anak kecil adalah tersesat sendirian, dan merasa tidak aman. Oleh karena itu, tindakan meninggalkannya sendirian akan menimbulkan trauma bagi dirinya.Alih-alih mengancam dan menakuti anak, lebih baik katakan keinginan Anda dengan baik. Alternatif lainnya adalah dengan beristirahat sejenak. Kenakalan anak dan kemarahan Anda mungkin saja merupakan tanda bahwa Anda atau anak butuh istirahat.

2. Kamu seharusnya malu.
Banyak orangtua yang beranggapan bahwa dengan mengungkapkan hal tersebut anak akan malu dan akan mengubah sikapnya sesuai dengan yang mereka inginkan. Tetapi, anak kecil belum dapat memahami rasa malu yang terjadi akibat kesalahan yang diperbuatnya. Karena itu, hal ini belum tentu langsung berhasil. Jika terlalu sering mengatakan hal ini, mereka hanya akan berpikir bahwa segala sesuatu yang dilakukannya selalu salah.

3. Seandainya kamu tidak pernah ada.
Kalimat ini punya makna: Ayah dan ibu tidak pernah menginginkanmu. Karenanya, kalimat ini tidak sepantasnya diucapkan oleh orangtua. Kalimat ini akan sangat menyakitkan bagi si anak, maupun orang lain yang mendengarnya. Terlepas dari kenakalan yang telah dilakukan anak, ia hadir karena kehendak orang tua. Maka, bersikaplah sebagai orangtua yang bertanggungjawab dengan mengasuh dan mendidik anak dengan baik, bukannya menyalahkannya karena lahir di dunia.

4. Kenapa kamu tidak seperti saudaramu yang lain.
Dengan mengatakan hal ini maka secara tidak langsung Anda membandingkan anak-anak dengan saudaranya yang lain, bahwa anak tidak cukup pintar, cukup baik, ataupun cepat belajar dibanding saudaranya. Pembandingan ini juga akan meningkatkan persaingan antarsaudara meningkat, yang kelak akan merusak hubungan persaudaraan dan mengembangkan keterpisahan. Terima setiap anak dalam keluarga, karena mereka memiliki keunikan dan keistimewaan sendiri. Bantu anak untuk melihat keistimewaan mereka dengan berfokus pada masing-masing individu tanpa menggunakan perbandingan.

5. Biar Ibu yang menyelesaikan.
Mungkin, maksud hati ingin membantunya menyelesaikan pekerjaan rumah yang sulit dikerjakan. Namun, jika terlalu sering melakukan hal ini, maka Anda telah mengambil alih pekerjaan anak yang seharusnya bisa dikerjakannya sendiri. Hal ini justru malah akan melemahkannya. Mengambil alih pekerjaan anak mungkin bisa menghemat waktu Anda di masa sekarang, tetapi Anda meninggalkan beban di masa depan karena anak jadi tak terbiasa mandiri.

Gaya bicara seperti ini menimbulkan rasa kesal pada anak, bahkan mungkin rasa benci dan persaingan untuk berebut kekuasaan dalam rumah. Cobalah untuk menggunakan bahasa yang lebih baik untuk mengungkapkan ketidaksetujuan anak, sehingga mereka lebih menghormati dan mengerti apa yang Anda rasakan.

Oleh: Josua M
(Dikutip dari berbagai sumber)