Jika Si Kecil Memiliki Teman Khayalan

25 Februari 2015 Artikel Pendidikan


Teman khayalan, mungkin terdengar sesuatu yang menyeramkan bukan? Hal tersebut sering dialami anak yang mempunyai imajinasi yang tinggi. Menurut penulis "Imaginary Companions and the Children Who Create Them" Marjorie Taylor, Ph.D., teman bermain khayalan ini dapat membuat anak punya tempat untuk mengeksplorasi dunia, termasuk hal-hal yang mungkin baru atau mengesalkan.

Laura Davis dan Janis Keyser dalam buku Becoming the Parent You Want to Be: A Sourcebook of Strategies for the First Five Years mengatakan, teman khayalan biasa dialami oleh anak usia 3-6 tahun.

Namun, tidak hanya usia 3-6 tahun, bahkan hingga anak-anak mencapai usia sekolah.

"Ketika kami memulai penelitian ini sekitar 10 tahun yang lalu, kami memperkirakan hanya sekitar satu dari tiga anak usia prasekolah yang memiliki teman khayalan," ujar Taylor dalam artikelnya The Characteristics and Correlates of Fantasy in School-Age Children: Imaginary Companions, Impersonation, and Social Understanding.

Mengenai kehadiran teman khayalan pada anak, orangtua harus mulai mewaspadai anak yang lebih banyak menghabiskan waktunya setiap hari berbicara dan bermain dengan teman khayalannya. Hal itu bisa berarti adanya perasaan tidak aman dan dapat mempengaruhi psikologis anak.

Lalu, bagaimana seharusnya orang tua menyikapi teman khayalan si kecil?

Secara umum, seorang teman khayalan adalah sebuah tanda anak sedang berhadapan dengan hal kompleks, ketika dia sedang berusaha berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Jangan merendahkan hubungan anak dengan teman khayalan tapi jangan terlalu terlibat.

Ikuti saja apa yang anak Anda lakukan. Sesekali, Anda boleh mengingatkan anak bahwa teman khayalannya itu tidak nyata. Teman khayalan merupakan hasil dari keingintahuan dan kreativitas anak dalam usahanya mencoba menalar apa yang terjadi disekitarnya. Anak yang punya teman khayalan akan tumbuh menjadi orang yang penuh rasa ingin tahu dan kreatif.

Akan tetapi, sebenarnya anak-anak menyadari bahwa mereka sedang berpura-pura dan pada kenyataannya, teman khayalan akan cepat menghilang ketika hadir teman lain. Namun apabila tidak ada perkembangan, sebaiknya konsultasikan dengan ahlinya dalam menangani masalah ini.

Oleh: Faqih F
(Dikutip dari berbagai sumber)