Jajanan Sekolah Banyak Mengandung Bahan Berbahaya

7 Agustus 2009 Artikel Pendidikan


Dalam jangka panjang jajanan makanan yang mengandung bahan berbahaya tersebut, bisa menyebabkan kanker, sedangkan dalam jangka pendek akan menyebabkan gangguan pencernaan, katanya disela-sela acara seminar Hasil Survey Makanan Jajanan Anak Sekolah, di Balai Kota Kota Depok, Selasa (28/7).

Dinkes Kota Depok melakukan survey jajanan makanan terhadap 60 SD di empat kecamatan (Sukmajaya, Cimanggis, Pancoran Mas, dan Sawangan), dengan metode pengumpulan data dan wawancara dengan para pedagang jajanan. Jajanan makanan tersebut juga dianalisa laboratotrium Saraswati Bogor, untuk mengukur kandungan Bahan Tambahan Pangan (BTP).

Survey tersebut dilakukan pada 10 Juni sampai 14 Juni 2009. SD yang disurvey antara lain SD Sukamaju 5, SD Kalimulya 5, SD Curug 1, SD Cimpauen 4, SD Cipayung 2, SD Depok Jaya 2, SD Muh. Darul Arqam, SD Bojong Sari 4, dan lainnya.

BTP yang berbahaya yaitu methanil yellow (pewarna kuning), rodamin B (pewarna merah), boraks (pengawet), formalin (pengawet), dan BTP melebihi kadar ialah siklamat (pemanis makanan berkalori rendah) dan benzoat (pengawet).

Bahan ini terkandung pada beberapa makanan seperti kerupuk mengandung methanil yellow sebesar 10, es puter mengandung Rodamin B sebesar 10, mie basah, bakso, lontong dan krupuk mengandung boraks sebesar 5, dan tahu, bakso mengandung formalin sebesar 10.

Kepada para pedagang yang masih menggunakan bahan berbahaya semacam itu akan dilakukan pendekatan persuasif, katanya.

Dikatakannya, Dinkes akan memberikan hasil survey itu ke sekolah-sekolah serta akan memberikan penyuluhan kepada pedagang.

Sementara itu, Kepala Bidang Perbekalan Kesehatan dan POM, Dinkes Kota Depok Herjubinatin mengatakan, wilayah pedagang jajanan SD yang banyak mengunakan BTP berbahaya dan melebihi kadar yaitu boraks di Sawangan, formalin di Sukmajaya, rhodamin B di Sawangan, Sukmajaya dan Cimanggis, benzoat pada saos yang melebihi kadar terdapat di Sukmajaya.

Ia menambahkan, hasil survey dan labotarium akan dibagikan ke setiap sekolah yang telah menjadi contoh. Pihak sekolah akan melakukan pengawasan dan pembinaan kepada pedagang untuk mengurangi pemakaian BTP berbahaya.

Masyarakat hendaknya dapat berperan dalam menyampaikan aduan masalah dan masukan untuk pencegahan beredarnya BTP berbahaya, katanya. (Ant/OL-02)

Sumber: Media Indonesia Online
http://www.mediaindonesia.com/read/2009/07/07/87497