Ingin Seperti Pendongeng Profesional? Ini Tipsnya

26 April 2014 Artikel Pendidikan


Agar buah hati tidak merasa bosan dengan dongeng yang Anda berikan, Anda perlu belajar tehnik-tehnik dasar mendongeng. Tehnik-tehnik ini tidak terlalu sukar untuk dipelajari, apalagi bila Anda mau belajar untuk menjadi orang tua yang kreatif dalam mendidik sang buah hati. Hal-hal yang perlu di pelajari dan perhatikan adalah:

1. Suasana

Suasana terbaik bagi anak untuk bisa menerima atau mendengarkan dongeng adalah suasana yang santai, tidak tegang, tidak formal, dan paling pas adalah saat sang buah hati mau tidur atau setelah makan malam dan belajar. Hal ini juga sangat bermanfaat untuk menyegarkan kembali pikiran anak dari ketegangan-ketegangan dan kekawatiran, serta perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan yang mungkin di rasakan si kecil pada saat sebelum tidur.

2. Pemilihan cerita yang berkualitas

Usahakanlah untuk memilih cerita yang berkualitas. Saat ini banyak sekali terbit buku-buku cerita yang menarik. Untuk mendapatkan referensi yang terbaik, Anda bisa mencari judul-judul cerita dari internet. Gunakan fasilitas google dan yahoo search engine agar Anda bisa mendapatkan banyak sekali judul-judul dongeng dan synopsis dongeng dari para penulis dongeng yang sudah terkenal. Misalnya dengan mengetik "sinopsis buku dongeng".

Anda akan mendapatkan banyak sekali referensi buku dongeng yang sudah terbit dan cerita singkatnya (synopsis). Untuk anak-anak, usahakan mencari buku yang tidak terlalu tebal, banyak gambar, gambarnya lucu, berwarna, dan memiliki pesan moral. Hal ini sangat penting agar sang buah hati tidak merasa bosan dengan cerita dan menarik minat anak untuk lebih bersemangat mendengarkan dongeng yang akan kita utarakan. Cerita yang baik adalah cerita yang mengandung unsure pendidikan, kedamaian, cinta kasih, kelembutan, dan kebaikan. Hindari cerita yang mengandung unsur perang-perangan, kekerasan, balas dendam, sihir, dan lain-lain. Unsur-unsur negatif yang ada di dalam cerita dipercaya bisa meracuni imajinasi positif seorang anak.

3. Penguasaan cerita

Cara terbaik menguasai sebuah cerita bukanlah menghafalkannya, melainkan memahami seluruh isi cerita. Biasanya dibutuhkan membaca berkali-kali agar kita bisa menguasai cerita itu sepenuhnya. Bila perlu, Anda juga boleh memodifikasi cerita agar lebih menarik. Selain itu, modifikasi cerita juga sangat penting untuk menghindari kata-kata yang belum layak di dengar oleh anak-anak. Misalnya ada kata-kata di dalam sebuah dongeng demikian,"Lalu sang pangeran mengambil pedang, dan menebas kepala naga. Dan seketika itu juga naga itu mati." Mungkin kita bisa memodifikasinya demikian,"Lalu sang pangeran mengambil sebilah pedang, dan keluar cahaya terang memancar dari pedang tersebut, dan membuat sang naga lari ketakutan terbirit-birit, lalu terbang ke langit. Sang naga pun tidak pernah berani muncul kembali".

4. Kontak Mata dan fisik

Kontak mata sangat penting untuk "mencuri perhatian" sang buah hati. Bila mata Anda tidak terfokus pada mata sang buah hati, maka ada kemungkinan mata sang buah hati menjalar kemana-mana dan kehilangan konsentrasi untuk mendengarkan cerita yang Anda bawakan. Kontak fisik juga sangat penting agar saat konsentrasi sang buah hati mulai memudar, Anda bisa mengekspresikan cerita yang Anda bawakan kepada sang buah hati. Bila perlu kita bisa memodifikasi cerita agar Anda bisa melakukan kontak fisik dengan si kecil, misalnya dengan berkata,"Karena Bunda Mela merasa iba melihat anak yang malang itu, maka Bunda Mela pun membelai kepala sang anak, mengusap pipinya dan berkata.."Nak... Dimana rumahmu?" Kontak fisik dan mata juga bermanfaat untuk menambah kedekatan dengan sang buah hati.

5. Penokohan

Mempelajar penokohan dalam suatu cerita juga sangat penting. Biasanya, semakin sedikit tokoh yang ada di dalam suatu cerita anak, maka cerita itu akan semakin mudah dan menarik untuk didongengkan bagi anak-anak. Hal ini juga memudahkan kita dalam mempelajari tokoh-tokoh yang ada di dalam sebuah cerita. Semakin kita memahami karakter yang ada di dalam sebuah cerita, maka kita akan semakin mudah mengekpresikan dan membuat variasi suara dan tingkah lakunya. Jangan lupa menggunakan ekspresi, gaya, dan suara yang lucu agar terlihat menarik.

6. Alur

Hal terpenting yang dipelajari dalam sebuah alur cerita adalah pembukaan (biasanya berupa masalah), isi (biasanya berupa konflik), penutup (biasanya berisi bagaimana konflik tersebut terselesaikan), dan kesimpulan (pesan moral). Wah.. seperti membuat sebuah karya ilmiah ya? Ya, tapi begitulah inti dari sebuah cerita. Hal ini juga berhubungan dengan penguasaan tokoh dan isi cerita. Setelah menguasai penokohan dan isi cerita, cobalah membuat alur cerita dalam sebuat kertas, sehingga bisa mempermudah anda dalam mengimprovisasi sebuah cerita.

7. Pengguanaan Media Gambar

Penggunaan media ini bisa dengan gambar yang sudah ada di dalam buku cerita. Namun sebagai pelengkap, jangan lupa mempersiapkan kertas gambar dan pensil. Siapa tahu si kecil belum tahu beberapa benda yang Anda ungkapkan. Nah... Bila si kecil belum tahu benda-benda yang kita ceritakan, kita bisa menggambarkannya buat sang buah hati.

Mudah bukan? Jadi yuk... belajar menjadi pendongeng professional dengan cara mendongengkan cerita kepada sang buah hati. Siapa tahu ternyata Anda memiliki bakat mendongeng dan bisa menjadi seorang pendongeng professional dan ikut meramaikan kasanah dunia dongeng dan dunia seni hiburan anak-anak.

Oleh: Indra K
(Dikutip dari berbagai sumber)