Artikel Pendidikan
8 September 2009

Ibu sebagai Guru Sejati

Simaklah konsistensi data tentang remaja tertular HIV/AIDS sejak lima tahun lalu. Tahun 2005 lalu, Prof Zubairi Djoerban, terjadi ledakan infeksi HIV/AIDS. Dari sebagian besar remaja pengguna narkoba, lebih dari 50 mengidap HIV/AIDS.

Pada tahun yang sama, Tempo Interaktif melansir data RSUP Adam Malik Medan, 60 persen pengidap HIV tertular melalui jarum suntik narkoba . Tiga tahun kemudian, tahun 2008, Kompas (28/8/08) menyajikan data 52 pengidap HIV/AIDS di Jawa Timur, berusia rata-rata 15-25 tahun.

Kebanyakan tertular melalui penggunaan jarum suntik narkoba. Kemudian, data Republika Online (6/8/09), hingga Maret 2009, di Jawa Barat, penderita terbanyak HIV/AIDS adalah usia produktif. Dari 4.520 kasus, 2.573 adalah mereka berusia antara 20-29 tahun, 90 kasus berusia 15- 19 tahun.

Sebanyak 66 penularannya melalui jarum suntik narkoba. Sisanya melalui transmisi seksual dan penularan oleh ibu ke anaknya. Data tersebut konsisten dalam kondisi yang relatif sama. Artinya diperlukan peningkatan intensitas gerakan untuk memeranginya. Tentu tidak ada orang apalagi seorang ibu menginginkan anaknya terlibat dengan kasus itu, apalagi menularkan HIV/AIDS kepada anak kandungnya sendiri, meski sudah ada kasus seperti ini.

Yang sangat ironis, pengguna narkoba masih usia remaja yang memerlukan pendampingan dan pengawasan orang tua. Tampaknya, penanganan kasus ini memerlukan gerakan yang simultan dari semua komponen potensial. Ibarat penyakit, diperlukan diagnosa yang akurat sehingga obatnya juga ampuh.

Jika diurai akar masalahnya, salah satunya adalah lemahnya pendidikan dan pengendalian orangtua, khususnya Ibu terhadap anaknya sejak dini. Kejahatan tersebut tidak terjadi dalam waktu yang singkat tetapi berproses dan luput dari pengawasan serta pencegahan dini.

Secara singkat akan diurai alternatif pemikiran sebagai solusi yang sangat mendasar. Satu kekeliruan yang dipastikan akan mendera suatu bangsa dikala perilakunya melawan Sunatullah. Mustahil kita bisa mengubah kodrat wanita. Bagaimanapun perkembangan teknologi, tumbuhan tetap memerlukan medium tanah, tidak mungkin tumbuh di atas keramik.

Itulah ayat-ayat Allah yang terkembang menjadi alam ini. Demikian juga pendidikan, tidak mungkin kita mampu membangun pilarpilarnya dengan meninggalkan basis pendidikan keluarga di rumah. Domain pendidikan yang dialami anak atau siapa saja hanya empat.

Pertama, keluarga sebagai basis utama dan awal mula pendidikan bagi anak. Tentu Guru yang sejati di rumah adalah ibu anak-anak. Kedua, sekolah dengan guru sebagai pendidik yang membimbing, melatih dan mengarahkan anak, bukan sekedar belajar bidang studi.

Ketiga, anak juga seyogianya memperoleh pendidikan pada masyarakat. Suasana sekolah sebaiknya tidak berbeda dengan suasana di masyarakat agar anak dapat menginternalisasi nilai sekolah dan nilai masyarakat. Keempat, tempat bekerja, instansi, perusahaan dan lain sebagainya juga tempat pendidikan.

Jika keempat domain ini tidak ditata simultan maka sangat sulit untuk mendorong pendidikan sebagai pilar perbaikan moral dan daya saing bangsa. Jika pendidikan negeri ini ingin kuat dan berhasil dalam arti komprehensif maka (1) kembalikan para ibu menjadi guru sejati bagi anak-anaknya, (2) hadirkan guru di sekolah, bukan sekedar pengajar bidang studi, (3) ciptakan suasana yang kondusif di masyarakat lewat kekuasaan para pemegang mandat publik, dan (4) bersihkan seluruh instansi dan lembaga manapun dari praktik-praktik anti pendidikan. Jika jenjang karir di instansi tidak berbasis kompetensi, inilah yang secara nyata mengancam pilar-pilar pendidikan.

Seorang ibu mampu menjadi guru jika dikembalikan menjadi mahluk yang berilmu, lembut, dan penuh kesabaran. Tidak wajar memerangi poligami, sementara banyak wanita yang diperlakukan tidak wajar bahkan berprofesi tidak wajar tidak digubris maksimal.

Mungkin lembaga manapun yang mengklaim irinya sebagai pejuang perempuan, gerakan mengembalikan ibu kandung menjadi guru bagi anaknya adalah jauh lebih penting dari pada memperjuangkan persamaan gender yang nyaris meminimumkan perannya sebagai guru anak-anaknya.

Persamaan gender amat tidak relevan manakala gerakan itu akan menipiskan peran ibu sebagai mahluk lembut yang dapat menaklukkan kenakalan seorang anak. Kenakalan yang potensial menjadi kejahatan tidak dapat ditangani dengan pendekatan hukum, tetapi hanya dengan kasih sayang dan kelembutan hati serta kesabaran seorang Ibu.

Ramadhan kali ini akan membawa kesadaran untuk mengembalikan seluruh aspek kehidupan politik, ekonomi, dan demokrasi sesuai ilmu Allah. Tidak mungkin menggantikan Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi Keuangan Yang Maha Kuasa, seperti kata Arif Rahman. Semangat pergeseran dari melawan Sunatullah menuju kepatuhan yang hakiki akan membawa negeri ini menjadi rahmat bagi seluruh alam ini. Tidak saja bagi manusia, tetapi juga bagi semut, tumbuhan kecil, atau bahkan bagi sebidang tanah yang terancam oleh keganasan manusia yang melebihi keganasan arus sungai.
Satu dari sekian banyak Sunattulah yang perlahan, diam-diam atau terangterangan mulai terlanggar adalah menurunnya peran Ibu menjadi guru sejati bagi anak-anaknya. Atas nama perjuangan kesamaan gender, atas alas an untuk menopang ekonomi keluarga, atas nama karir dan atas nama kejenuhan menjagai harta suami, banyak para Ibu kandung mulai menjauhi rumah.

Secara matematis, bagi kaum ekonomi menengah ke atas, seharusnya alas an untuk menopang ekonomi keluarga amat tidak tepat, sebab rupiah yang dicari seorang Ibu tidaklah sebanding dengan korbannya suasana kelembutan dan kasih sayang terhadap anak-anaknya.

Belum dihitung biaya yang harus dikeluarkan kepada pekerja rumah tangga untuk mengasuh anak-anak. Tidak terbayang sebenarnya seorang Ibu yang memiliki anak semata wayang yang masih berumur satu bulan harus dipisahkan dan diasuh pekerja rumah tangga hanya alasan untuk bekerja.

Pengeluaran untuk susu kaleng yang memerlukan uang yang besar telah dua kali merugi karena telah mengorbankan tali kasih sejati antara anak dan Ibu. Dan yang lebih fatal, anak harus kehilangan daya tahan tubuh karena kehilangan ASI. Tidak mungkin susu sapi jenis apapun dapat menggantikan ASI yang diproduk dengan ilmu Allah.

Jika atas nama karir, juga tidak rasional, sebab karir terbaik seorang Ibu adalah mengasuh anak penuh kelembutan dan dengan itu pula para Ibu telah mendirikan dan menopang tiang negara. Sebaiknya, kembalikan ibu menjadi mahluk yang lembut bagi anak-anaknya, cantik dan berbakti bagi suaminya, serta ramah bagi lingkungannya sehingga kejahatan narkoba, perampokan dan berbagai kriminal lainnya jauh dari perilaku anak-anak bangsa ini.

Secara umum, tidak ada mahluk yang dapat bersikeras terhadap Ibunya asal saja Ibunya benar mahluk berilmu, lembut dan sabar. Apalagi manusia sebagai mahluk tersempurna karya Allah S.W.T. Tuhan telah menciptakan manusia sesempurna kejadian, tetapi lalu menempatkannya serendah- rendah keadaan, kecuali mereka yang beriman, beramal soleh, dan bagi mereka itulah mengalir pahala yang tiada hentinya.

Bangsa yang kuat adalah bangsa yang memiliki wanita yang kuat, khususnya sebagai ibu-ibu yang sejati. Tentu masih banyak Ibu yang memerankan dirinya sebagai guru bagi anak-anaknya. Tetapijuga adalah fakta yang tak terbantahkan, kejahatan yang dilakukan remaja sangat berkorelasi dengan hilangnya kendali kasih sayang seorang ibu kandung atas berbagai alasan yang disebutkan diatas.

Jika ingin negeri ini menjadi negeri yang kuat dan bermartabat, kembalikan Ibu menjadi mahluk berilmu yang lembut serta penuh kesabaran sebagai guru sejati bagi anak-anaknya.

Penulis adalah Rektor Unimed.

Sumber: waspada.co.id

Artikel Pendidikan Lainnya...

Direktori Sekolah Info Beasiswa Solusi Pendidikan Promo Tahukah Kamu? Hiburan Tutorial Karir Iklan Baris