Hyperparenting dan Dampak Negatifnya Terhadap Perkembangan Anak

28 Oktober 2019 Artikel Pendidikan


Di zaman yang sudah maju seperti ini, pola pengasuhan (parenting) orang tua sangat berperan penting dalam perkembangan anak. Beragam gaya orang tua mengasuh anaknya yang tidak jarang menuntut anaknya untuk maju dan mengikuti zaman meskipun di luar kemampuan anak tersebut.

Waktu bermain mereka semakin berkurang dengan adanya kursus yang harus didatangi, tugas sekolah yang menumpuk serta kegiatan ekstrakulikuler yang wajib diikuti. Orang tua menerapkan hal itu dengan berbagai tujuan, meski alasan terbesar adalah mempersiapkan anak agar ‘siap’ dan ‘sukses’ dalam kehidupannya kelak.

Di antara berbagai macam pola pengasuhan anak, ada pola parenting yang cenderung berlebihan untuk memenuhi harapan orang tuanya. Pola ini disebut pola pengasuhan Hyperparenting. Pola pengasuhan seperti ini ternyata menurut beberapa peneliti sangat membahayakan keluarga.

Pola pengasuhan tersebut membuat orang tua ‘lupa’ kalau membesarkan anak tidak bisa disamakan dengan suatu rencana bisnis. Dalam parenting harus ada curahan kasih sayang, saling menghargai, dan tenggang-rasa dalam kehidupan sehari-hari yang harus dimiliki semua anggota keluarga.

Beberapa dampak negatif yang dapat terjadi karena orangtua yang Hyperparenting:

Menjadi Pemarah

Anak yang sering tertekan dan disibukkan oleh jadwal kegiatan diluar sekolah menciptakan pribadi anak yang pemarah, emosional dan pendendam

Mudah Cemas

Dengan pola asuh yang seperti ini, anak akan mudah cemas dalam menghadapi sesuatu dan memiliki kekhawatiran yang berlebihan

Kesehatan Terganggu

Jelas sekali jika anak terlalu diporsis tenaga maupun pikiran, lambat laun akan jatuh sakit karena tidak kuat menghadapi kegiatan yang segudang.

Depresi

Tidak menutup kemungkinan anak yang sering disibukkan kegiatan dan tugas yang diberikan akan mencetak pribadi anak yang mudah murung, kurang ekspresif, bahkan ia akan sulit mendapat teman .

Oleh: Josua M
(Dikutip dari berbagai sumber)