Hubungan Orang Tua dan Guru Dekat, Prestasi Anak Pun Meningkat

3 Mei 2016 Artikel Pendidikan   |    Kak Zepe


Seberapa kerasnya usaha guru dalam membangun karakter anak-anak didiknya, anak-anak didik akan kembali lagi ke rumah mereka, dan dididik oleh kedua orang tua mereka. Mereka akan meluangkan waktu lebih banyak bersama orang tua mereka. Maka bisa disimpulkan bahwa kedekatan antara guru dan orang tua akan menentukan prestasi anak. Tentu saja kedekatan ini tidak bisa tercapai tanpa adanya usaha dari dengan guru. Bila guru cenderung tertutup, tentu saja orang tua juga akan sungkan dalam menjalin komunikasi dengan guru. Namun bila seorang guru bisa lebih terbuka, maka terbukalah jalinan komunikasi antara guru dan orang tua, dan selanjutnya jalinan komunikasi bisa lebih intens. Bagaimana agar hubungan guru dan orang tua bisa dekat?

1. Bersikap Jujur

Kejujuran guru dalam mengungkapkan permasalahan anak sangat penting. Beberapa guru terkadang kurang bisa jujur atau terkesan tertutup karena suatu alasan, tapi bagaimanapun orang tua perlu tahu segala hal yang terjadi di kelas dari guru. Dengan bersikap jujur, orang tua pun bisa cepat mengambil tindakan bila ada hal-hal yang memang mendesak untuk diselesaikan.

2. Menyapa Orang Tua Sepulang Sekolah

Tidak ada salahnya bila guru mengantarkan anak-anak didiknya menuju ruang atau tempat orang tua menunggu anaknya (ruang jemput). Di tempat ini kita bisa menyapa orang tua, dan sesekali melaporkan perkembangan pendidikan anak dan hal-hal yang perlu ditingkatkan. Dan bila anak mengalami persoalan di kelas, kita bisa melaporkannya secara langsung, sehingga bisa langsung dicari jalan keluarnya secara bersama.

3. Menyediakan "BUKU KOMUNIKASI"

Buku ini adalah buku penghubung komunikasi antara guru dan orang tua. Buku ini biasanya berisi tentang mata pelajaran, jenis kegiatan dalam suatu mata pelajaran, dan pengumuman-pengumuman. Dalam buku ini, orang tua bisa berkomentar yang berisi perkembangan anak dan hal-hal yang perlu ditingkatkan.

4. Tidak Terlihat Sibuk, Walaupun Memang Sibuk

Meskipun tugas kita sebagai guru sangat banyak, kita harus tetap bisa memberikan kesan pada orang tua bahwa hati kita tenang. Tidak perlu terlihat "kemrungsung", apalagi sampai tidak ada waktu untuk tersenyum dan menyapa orang tua. Bila sekiranya obrolan kita membutuhkan waktu yang panjang, kita bisa mengatakan kepada orang tua bahwa waktu kita terbatas, ada pekerjaan yang perlu diselesaikan, atau memberikan alasan yang lain. Sehingga waktu obrolan kita dengan orang tua benar-benar bisa efektif. Karena biasanya orang tua sangat gemar curhat pada guru.

5. Fokus pada Permasalahan Anak, Bukan Permasalahan Kelas atau Siswa Lain

Andi merasa marah disaat ia secara tidak sengaja disenggol oleh temannya, bernama Beni. Kata-kata yang kita sampaikan bukanlah perihal Beni yang berlari di kelas, lalu menyenggol Andi. Tapi fokus kita lebih pada masalah Andi yang masih perlu belajar mengontrol emosi saat terjadi suatu permasalahan dengan teman sekelas.

6. Tonjolkan Kebaikan Anak

Orang tua tidak terlalu tahu apa yang terjadi di kelas. Sehingga bila kita menceritakan sesuatu perlu berhati-hati. Hal-hal yang perlu kita tonjolkan terlebih dahulu adalah kebaikan-kebaikan anak. Setelah itu, kita bisa memberikan hal-hal yang perlu diperbaiki atau ditingkatkan. Misalnya, "Andi bisa mengerjakan tugas dengan cepat. Ia juga semangat dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Namun, ia terkadang masih mudah tergoda teman untuk ngobrol di kelas." Jadi jangan langsung mengatakan dengan nada was-was, "Aduh Ma.... Andi tuh kok suka ngobrol di kelas. Padahal ini kan mau ujian,". Bila secara tiba-tiba kita mengatakan hal-hal yang negatif tentang anak didik, bisa-bisa anak didik kita diomelin sama orangtuanya sesampai di rumah.

7. Jangan Memberikan Kesan bahwa Orang Tua Salah Mendidik Anak

Beberapa orang tua sangat gemar memanjakan anaknya. Sehingga di dalam kelas ia menjadi mudah mengeluh. Walaupun kita tahu bahwa penyebabnya adalah karena orang tua terlalu memanjakan anaknya, kita tidak boleh serta merta menyalahkan orang tua. Kita harus tetap memposisikan anak didik sebagai anak kita sendiri saat mereka di sekolah. Jadi bila kita punya anak didik yang mudah mengeluh karena terlalu dimanja oleh orang tuanya, kita bisa mengatakan kepada orang tua bahwa buah hatinya masih perlu dimotivasi agar bisa lebih semangat dalam mengerjakan tugas dan perlu mengurangi kebiasaannya yang suka mengeluh.

8. Membuat Janji dengan Orang tua

Ada kalanya masalah yang dibahas bersama orang tua adalah suatu masalah yang serius. Misalnya karena ada orang tua yang merasa tidak terima buah hatinya diperlakukan tidak baik oleh teman lainnya. Bila kita merasa bahwa hal ini bisa menimbulkan obrolan yang panjang dan bisa mempengaruhi emosi kedua orang tua anak didik kita yang sedang bermasalah, akan lebih baik bagi kita untuk membuat kesepakatan (janji) supaya kita bisa membantu menyelesaikan permasalahan ini secara kekeluargaan dan dalam suasana hati yang tenang.

9. Berikan Kesan bahwa Kita Memperhatikan Anak-anak Didik

Hal-hal sederhana yang terjadi pada diri anak perlu kita perhatikan. Semua bisa menjadi bahan obrolan menarik saat kita berjumpa dengan orang tua. Misalnya tentang sepatu baru, aktivitas setelah liburan, dan bahan-bahan pembicaraan sederhana lainnya. Pembicaraan ini bisa memberikan kesan bahwa kita sangat perhatian kepada anak-anak didik, walaupun sebagai pendidik kita juga disibukkan dengan berbagai macam administrasi kelas.

Perilaku anak di sekolah akan mempengaruhi prestasi belajar anak di kelas. Banyak factor X yang mempengaruhi perilaku anak. Semoga dengan adanya hubungan antara orang tua dan guru yang dekat, perilaku anak pun bisa lebih diperhatikan. Sehingga bila terjadi suatu persoalan, akan cepat ditemukan penyelesaian, dan tentu saja prestasi anak pun menjadi semakin sesuai dengan yang kita harapkan.

(Penulis adalah Praktisi Pendidikan dan Pencipta Lagu Anak dalam aplikasi gratis" Lagu Anak Kak Zepe Vol 1 dan 2)