Honor Guru Honorer Kecil, Tetapi Peminatnya Banyak

6 Maret 2012 Artikel Pendidikan


Kadek Hendrayadi (25), warga Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, dengan nada senang menyatakan menjadi guru adalah cita-citanya sejak di bangku sekolah menengah atas.

Ia pun mengaku tahu berapa gaji guru, terutama guru honorer, kecil dibandingkan pegawai yang minimal lebih dari Rp 1,2 juta per bulan.

Ia tetap melamar menjadi guru honorer SD Negeri 12 Panjer, Kota Denpasar, empat bulan lalu. Ia pun diterima dengan honor Rp 400.000 per bulan dengan mengajar 50 anak per kelas dan harus bersedia menggantikan guru lainnya jika berhalangan hadir.

"Saya punya banyak teman yang tahunan menjadi guru honorer dan belum diterima jadi pegawai negeri sipil. Tapi, saya tetap senang menjadi guru," kata Hendrayadi.

Honor yang diterimanya sekarang, lanjutnya, hampir tak jauh beda dengan temannya sesama guru honorer yang sudah lebih dari satu tahun. Cukupkah? Hendrayadi yang belum berkeluarga ini pun tegas berkata tidak cukup. Apalagi, ia jauh dari rumah dan harus indekos di Denpasar.

Kekurangan itu ia siasati dengan membantu teman gurunya yang menerima pelajaran tambahan alias les di rumah. Lumayan, satu anak membayar Rp 30.000 setiap kali les. Ia pun mampu mengajar untuk lima anak.

Sementara guru honorer di SDN 9 Padangsambian, Kota Denpasar, menerima lebih tinggi sekitar Rp 200.000 dari honor Hendrayadi. Kepala SDN 9 Padangsambian Nyoman Sukarja (47) menjelaskan, honor guru honorer sebanyak lima orang di sekolahnya bervariasi mulai Rp 600.000 hingga Rp 800.000 tiap bulannya.

Sukarja menjelaskan, pihaknya tidak bisa sembarangan mengangkat guru honorer karena harus mempertanggungjawabkannya dalam laporan dana bantuan operasional sekolah (BOS). Padahal, ia mengaku masih kekurangan guru.

Jumlah guru di sekolah Sukarja tercatat 33 guru pegawai negeri sipil dan lima guru honorer. Namun, sekolah itu memiliki hampir 300 siswa karena berasal dari penggabungan empat sekolah sejak 2000 lalu. Jadi, setiap kelas sekitar 40 anak. "Kami kesusahan menangani jika ada guru yang pensiun atau cuti melahirkan, tetapi dana juga terbatas," jelas Sukarja.

Guru honorer di Kota Denpasar sepertinya memiliki nasib lebih baik ketimbang rekan-rekannya di delapan kabupaten lain di Pulau Dewata. Guru honorer di SDN 2 Batungsel, Kabupaten Tabanan, hanya menerima Rp 175.000 per bulan dengan mengajar 17 anak per kelas.

Kepala SDN 2 Batungsel Made Winra (54) hanya bisa menghela napas saat disinggung soal guru honorer di sekolahnya. Ia menjelaskan, hanya memiliki empat guru pegawai negeri sipil. Karena itu, ia beranikan untuk menerima guru honorer meski terpaksa dengan honor yang sangat minim.

"Tidak tega, tetapi kami hanya memiliki dana BOS yang bisa dibagi 20 persennya untuk guru honorer, ya , kecil. Kami tak berani mencari tambahan dana lagi. Takut salah," kata Winra.

Winra menambahkan, ada guru honorer di sekolahnya yang sudah mengabdi lebih dari lima tahun, tetapi selalu gagal menjadi PNS. Ia pun heran mengapa begitu sulitnya nasib guru honorer. Winra maupun Sukarja sama-sama kekurangan tenaga pengajar SD. Padahal, siswa terus saja bertambah. Soal kualitas pun, mereka tak berani sembarangan.

"Kami ingin menambah guru honorer, tapi tak berani. Padahal, pelamarnya banyak," ujar Sukarja.

Guru PNS di Pulau Dewata terdata sebanyak 53.538 orang dan hampir lebih dari separuhnya adalah guru sekolah dasar. Namun, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Provinsi Bali Sujaya mengaku tak memiliki data berapa banyak guru honorer di Bali karena memang belum mendata.

Sumber: kompas.com