Hindarkan Anak dari Kebiasaan Mencontek

28 Maret 2014 Artikel Pendidikan


Berbagai upaya dilakukan manusia untuk mencapai tujuan. Segala upaya ditempuh menuju keberhasilan. Upaya tersebut ditempuh dengan cara yang benar, namun ada pula cara yang curang. Cara curang disini hanya menguntungkan diri sendiri dan merugikan orang lain. Curang merupakan karakter negatif yang harus dihindari. Salah satu perilaku curang adalah mencontek.

Kebiasaan yang muncul pada anak yang suka mencontek biasanya didapat anak dari lingkungannya. Dalam hal ini anak mulai melakukan perbuatan tidak jujur, karena mencontek adalah mencuri informasi dengan cara yang tidak terpuji. Jika perilaku atau perbuatan mencontek pada anak muncul dengan frekuensi yang terus menerus maka orangtua diharapkan dapat memberikan perhatian yang lebih pada anak agar kegiatan atau perilaku mencontek tidak menjadi suatu kebiasaan yang menetap pada anak.

Menurut psikolog anak dari Universitas Indonesia Luh Surini Yulia Savitri, M.Psi., salah satu penyebab perilaku mencontek pada anak adalah tuntutan yang terlalu tinggi dari orangtua maupun sekolah. Hal ini mendorong anak melakukan segala cara untuk mencapai tuntutan tersebut. Perilaku mencontek dapat disebabkan oleh sistem pendidikan yang lebih mengarah nilai bukan proses belajar. Anak merasa tuntutan yang dibebankan terlalu tinggi sehingga memilih cara mudah untuk mendapatkan nilai bagus.

Alasan lain yang membuat anak mencontek adalah karena tidak sempat belajar atau malas. Bila anak sakit atau ada keperluan mendesak sebelum ujian, coba bicarakan pada guru untuk mencari jalan keluar yang terbaik bagi anak dan sekolah. Jika anak mencontek karena malas belajar, orangtua harus mencari tahu penyebabnya, lalu mendiskusikan solusi dan konsekuensinya bersama anak.

Psikolog anak, Dra. Psi Sandra Talago MSc., mengatakan perilaku mencontek dapat diatasi dengan memaksimalkan peran orangtua. Misalnya, dengan mendampingi anak saat belajar, memberi pengertian kalau mencontek itu bukan tindakan terpuji, serta tidak memberi tuntutan yang tinggi pada anak. Seringkali, orangtua membebankan pada anak berbagai kegiatan ekstrakurikuler yang membuat anak terlalu lelah dan tidak semangat belajar di rumah.

Orang tua dapat berdialog mengenai konsekuensi yang didapat anak ketika anak mencontek sehingga anak mengetahui akibat dari perbuatannya. Dialog dapat membantu anak belajar mencari solusi, menumbuhkan pengertian dalam diri anak bahwa tidak semua pelajaran dapat dikuasai seseorang dengan baik, serta menanamkan rasa percaya diri pada anak. Dialog juga dapat menggali lebih dalam alasan anak mencontek. Peran orangtua diperlukan untuk menanamkan nilai kejujuran, tenggang rasa, toleransi, dan norma-norma pada anak. Sehingga muncul rasa tanggung jawab dan kesadaran dari diri mereka sendiri, tanpa perlu terus- menerus diawasi orangtua dan guru.

Ajak anak untuk mendalami arti kejujuran melalui sesuatu yang menarik perhatian. Contohnya, dengan menyaksikan film yang mengajarkan arti kejujuran atau permainan yang membutuhkan sikap jujur dan adil. Hal ini dapat membantu anak terbebas dari kebiasaan mencontek.

Jangan lupa untuk memberi pujian pada anak bila berhasil mengerjakan ujian atau tugas sekolahnya tanpa mencontek meskipun tidak mendapatkan nilai yang sempurna.

Oleh: Josua M
(Dikutip dari berbagai sumber)