Hati-Hati Jika Anak Mengaku Punya Teman Khayalan

23 Januari 2015 Artikel Pendidikan


Memiliki sahabat tentu saja menyenangkan. Kita jadi memiliki seseorang yang bisa menjadi tempat cerita, ngobrol, melakukan banyak hal dan tumbuh bersama-sama. Namun apa jadinya jika yang menjadi sahabat adalah sosok yang hanya ada dalam khayalan? Terkadang orang tua khawatir karena anaknya sering berbicara sendiri disela-sela melakukan aktivitas. Sebaiknya orang tua jangan selalu menanggapi hal yang terjadi pada buah hati sebagai hal-hal yang berbau gaib, mistis, atau berkaitan dengan indera keenam. Jika anak menginjak usia 3-4 tahun hal tersebut adalah hal yang wajar terjadi pada saat anak usia tersebut. Tetapi yang perlu orang tua perhatikan lebih lanjut adalah apabila kebiasan berimajinasi dan memiliki teman khayalan tersebut berlanjut hingga usia lebih dari 3-4 tahun.

Bisa jadi buah hati mengalami gejala awal autis. Sebagai orang tua sebaiknya jangan membiarkan anak tenggelam dalam situasi imajinasi tersebut. Alihkan perhatian anak dari imajinasinya dengan cara melakukan aktivitas-aktivitas positif, misalnya dengan segera mengajak anak berbicara dan bermain ketika asyik berimajinasi. Anak autis memang biasanya memiliki kemampuan berimajinasi yang tinggi. Anak dengan autis biasanya memiliki dunia sendiri bahkan teman khayalan.

Langkah pencegahan sejak dini adalah hal penting untuk menyembuhkan anak dari gejala awal autis. Daya imajinasi yang tinggi pada anak dengan autis sering kali membuat anak dengan autis mengisolasi diri dari lingkungan sekitarnya. Mereka menghindari berinteraksi dengan teman-teman sepermainan dan malah lebih memilih asyik bermain dengan teman khayalan.

Berikut beberapa tips yang dapat dilakukan untuk menangani khayalan pada anak:
1. Tempatkanlah posisi teman khayalan sebagai pihak yang positif. Teman khayalan bisa membantu anak dengan autis untuk mengekpresikan diri dan membuat sang anak menjadi merasa tidak kesepian. Teman khayalan bisa membuat anak dengan autis terpancing daya kreativitas dan rasa keingintahuannya.

2. Tidak mehancurkan hubungan anak dengan teman khayalannya, tetapi berusaha agar anak tidak terlalu terlibat interaksi dengan teman khayalannya. Maksudnya adalah mengikuti skenario anak tetapi orang tua juga turut memperingatkan kalau teman khayalan sang anak adalah tidak nyata.

3. Sesekali selipkan kalimat-kalimat pada saat orang tua berbicara anak bahwa teman khayalan tidaklah nyata, misalnya dengan mengatakan "Senangnya pura-pura bermain dengan Ani". Paling tidak anak lama kelamaan akan sadar bahwa teman khayalan mereka ternyata tidak nyata.

4. Yang patut diwaspadai oleh orang tua adalah jika anak dengan autis terlalu berinteraksi dengan teman khayalannya. Hal ini dapat membuat pribadi anak menjadi lebih tertutup dan tidak mudah berinteraksi sosial dengan orang lain.

Jangan biarkan kebiasaan anak berinteraksi dengan teman khayalan ini berlajut hingga dewasa. Karena penangannya jauh lebih sulit, lebih baik dilakukan terapi atau penanganan sejak dini. Memiliki teman khayalan adalah hal wajar yang bisa saja dialami oleh setiap anak tetapi menjadi hal yang tidak wajar lagi jika terjadi pada usia anak yang semakin dewasa. Bisa saja ini merupakan tanda adanya gangguan autis pada anak.

Oleh: Josua M
(Dikutip dari berbagai sumber)