Guru Masa Kini Harus "Up to Date"

7 Agustus 2009 Artikel Pendidikan


Banyak orang dari berbagai kalangan bilang kalo tahun 2009 adalah tahunnya guru. Gimana nggak, soalnya gaji guru meningkat lebih dari 200 persen alias 2 x lipat dibanding tahun 2005.

Kondisi ini langsung disambut gegap gempita para guru. Tapi (ada tapinya), tetap ada syarat dan ketentuannya loh, mudaers! Guru yang mau kantongnya tebel minimal harus sekolah sampai S-1. Hal ini dilakuin pemerintah yang katanya ingin meningkatkan kualitas guru dengan program Sertifikasi Guru.

Oke dech, kita lupain dulu soal gaji guru yang naik itu. Kita di sini ingin ngebahas tentang guru masa kini, udah up to date (mutakhir) atau belum sich? Up to date atau mutakhir di sini maksudnya udah ngikutin perkembangan zaman apa belum.

Gimana nggak? Kalau gurunya nggak up to date, otomatis murid-muridnya kurang berkembang. Kan nggak fair kalau gajinya naik, tapi ngajarnya tetep zadul. Setuju kan, mudaers?

Nggak bisa dimungkiri kalau banyak mudaers yang merasa ada aja guru yang ngajarnya super-zadul (meskipun ini tidak mewakili semua guru). Mulai dari hal-hal sepele seperti ngasih pe er yang di otak mudaers terlalu banyak dan kurang efektif sampe hal berat seperti guru yang nggak mau diprotes kalau salah. Guru yang kayak gini nih yang bikin mudaers makin ogah belajar, apalagi ngerjain pe er.

Gue pernah diajarin sama seorang guru dan ngajarnya nggak bener banget dan nggak pernah sesuai sama buku. Hasilnya, gue sama temen-temen gue tambah nggak ngerti! ucap Desi (16), salah satu murid SMAN di Jakarta.

Bahkan cewek yang satu ini bilang kalau gurunya tuh ngajarnya termasuk kategori zadul abis karena hanya berpatok pada teori guru itu sendiri. Nggak jauh beda dari Desi, Niko (17) mengaku kalau gurunya tuh maunya menang sendiri. Pas guru gue salah, dia tuh nggak mau diprotes, ungkap Niko.

By the way, selain sifat yang maunya menang sendiri, guru masa kini yang berlabel zadul juga punya metode ngajar yang beda 180 dengan guru-gurunya Desi maupun Niko.

Nggak sedikit loh guru-guru sekarang yang masih menganut kurikulum CBSA. Eits! Mudaers jangan mikir kalau CBSA sebagai kurikulum waktu ortu kita sekolah dulu. CBSA ini maksudnya catet buku sampai abis.

Guru yang menganut sistem ini biasanya jiplak abis buku pelajaran yang dia pakai. Parahnya lagi, guru macam inilah yang nyuruh muridnya nyatet sampe bukunya abis. Mulai dari nyalin catetan di papan tulis sampai ngasi tugas ngerangkum yang seabrek-abrek. Nggak cuma itu, guru macam ini biasanya termasuk guru yang malas ngajar murid-muridnya.

Ya, gue sich jujur aja, kalau disuruh nyatet, malesnya setengah mati. Tapi kalau itu penting buat gue, baru dech gue nyatet. Nah, masalahnya, catetannya nggak kira-kira. Ini mau belajar apa tebel-tebelan buku catetan sich? ucap Bunga (17).

Berharap guru CBSA lebih baik daripada guru otoriter? NO WAY! Malah guru CBSA dianggap lebih buruk loh!

Bagi Tesa (15), belajar sama guru CBSA-holic sama sekali ngebosenin. Baginya, masuk ke ruang kelas hanya sebagai kegiatan megelin-in tangan. Nggak ada mood (semangat) waktu belajar malah bikin illfeel. Gue cuma bisa terima nasib dech! keluhnya.

Intinya, buat generasi penerus kayak kita ini, guru yang up to date jelas mutlak dibutuhin. Guru yang bikin suasana belajar jadi enak dan menyenangkan serta menjadikan muridnya sebagai sobat yang sama-sama belajar. Dengan begitu, udah pasti muridnya jadi lebih gampang nyerap pelajaran. Lagi pula, beda zaman, beda gaya belajar. Setuju kan, mudaers?

Jalan keluar

Banyak sobat muda kita yang nyoba keluar dari masalah yang kelihatan sepele ini. Padahal, masalah yang kelihatan sepele ini bisa jadi bumerang loh kalau kita milih jalan keluar yang salah.

Salah satu mudaers yang menolak disebutkan namanya mengaku sempat bermain api dengan guru yang berlabel zadul. Siswa SMA ini mengaku bosan tiap gurunya ngajar. Alhasil, dia malah ikut-ikutan temannya ngambil jalan pintas. Yap! Dia cabut pas jam pelajaran gurunya itu.

Guru gue zadul abis dech. Kerjanya ceramahin kelas doang, katanya. Bahayanya, sobat kita ini nggak nyesel cabut pelajaran itu. Dia justru bilang kalau ini dilakuin kelasnya supaya tuh guru sadar. Emang dia pikir dia satu-satunya guru di dunia ini apa? lanjutnya.

Apesnya nih, mudaers, sobat kita ini ngaku kalau rencana cabut akbarnya ini gatot alias gagal total. Pas pelajaran guru yang nyebelin (menurut dia), kelas sobat kita ini nggak kompak untuk cabut pelajaran tuh guru. Akhirnya, gurunya langsung ngelapor ke wakasek bagian kesiswaan. Apes kan?

Nggak dimungkiri banyak mudaers yang jadiin guru zadulnya sebagai tameng untuk cabut. Memilih jalan keluar yang negatif dianggap halal karena faktor guru yang ngajar pelajaran itu. Ujung-ujungnya, udah jatuh, tertimpa tangga pula.

Tapi, gak semua teman-teman kita yang memilih jalan keluar yang negatif loh, mudaers! Karena ada juga yang milih jalan keluar yang positif. Sadar atau nggak, guru kategori zadul justru memengaruhi kita untuk belajar lebih giat. Hasilnya, banyak juga mudaers yang berlomba-lomba buat ikut bimbingan belajar (bimbel) di luar sekolah (meskipun hanya segelintir orang).

Veti (16), Tama (16), dan Rio (16) adalah contoh segelintir siswa SMA yang rela nambah jam belajar mereka di bimbel demi menggenjot prestasi mereka. Nggak sedikit juga uang yang dikeluarkan ortu mereka demi bayar bimbel.

Ortu gue selalu support gue untuk belajar di bimbel. Soal biaya, mereka rela kok, ucap Veti. Sejujurnya, mereka mengaku ogah untuk nambah jam belajar, tapi keadaan gurunya yang berlabel zadul itulah yang memaksa mereka untuk belajar lebih.

Ya mau gimana lagi! Seenggaknya, guru masa kini yang zadul bikin gue buat lebih belajar lagi, jawab Tama penuh semangat.

Intinya, guru masa kini yang masih berlabel zadul mesti cepet-cepet berubah. Tapi, sezadul-zadulnya guru, mereka juga memberikan dampak positif toh bagi mudaers.

Yang terpenting, kita juga mesti introspeksi diri dan jangan kerjanya nyalahin guru doang karna biar gimana pun kita juga punya tanggung jawab atas prestasi belajarnya kita. Toh kalo kita pada dasarnya udah pinter dan mau serius belajar, guru berlabel zadul pun gak akan jadi halangan buat kita. Ingat: Teacher is still and always our hero without honor.

Sumber: Kompas Cetak