Gertakan di Dunia Maya Lebih Sakit Dibanding Pemukulan Fisik... Oh Ya?

24 September 2010 Artikel Pendidikan


WASHINGTON - Gertakan di dunia maya (cyber-bullying) dapat lebih menyakiti korban dibanding pemukulan fisik atau ejekan, menurut peneliti Amerika Serikat pada Selasa. Tidak seperti penggertak tradisional, penggertak di dunia maya tampaknya kurang merasa depresi dibanding korban mereka, demikian temuan tim dari National Institute of Health (NIH).

Jing Wang, Tonja Nansel dan Ronald Iannotti dari NIH bagian Kesehatan Anak dan Pengembangan Manusia menganalisa data survei internasional dari 2005-2006, mengikutsertakan 4.500 remaja dan pra-remaja. Mereka ditanya secara spesifik mengenai perasaan depresi, mudah marah, menggerutu, dan kemampuan untuk berkonsentrasi, serta bertanya secara spesifik apakah mereka sudah pernah dipukul, diejek, dihindari atau dikirimi pesan negatif lewat komputer atau telepon seluler -atau melakukan tindakan-tindakan itu kepada orang lain.

"Tidak seperti gertakan tradisional yang biasanya terjadi dalam konfrontasi tatap muka langsung, korban di dunia maya tidak melihat atau mengenali pengganggu mereka," tulis tim Iannotti dalam Jurnal Kesehatan Remaja. "Dengan demikian, korban di dunia maya dapat lebih merasa terkucil, terlecehkan atau tak berdaya saat diserang.

Gertakan secara fisik dan verbal juga kerap membuat korban depresi, namun tim NIH menemukan sedikit perbedaan karena depresi yang disebabkan gertakan di dunia maya memiliki tingkatan yang lebih tinggi dibanding gertakan secara fisik. Gertakan dapat menjadi isu kebijakan pemerintah karena dapat mengganggu proses belajar dan dapat mengurangi nilai ujian sekolah. Sekolah-sekolah di AS makin ditekan untuk meningkatkan nilai mereka dan memperlihatkan kemajuan yang teratur.

Tahun lalu, tim yang sama menemukan lebih dari 20 persen dari semua remaja AS di sekolah telah mengalami gertakan secara fisik setidaknya satu kali dalam dua bulan terakhir dan 53 persen digertak secara verbal sedangkan 51 persen digertak secara sosial dengan cara dikucilkan dan 13,6 persen digertak menggunakan media elektronik.

Sumber: republika.co.id