Efek Negatif Sering Menakuti Anak

8 Maret 2016 Artikel Pendidikan


Secara tidak sadar, banyak orangtua yang menerapkan pola asuh menakut-nakuti atau mengancam buah hatinya. Anehnya, tujuan menakut-nakuti agar anak menuruti keinginan orang tua. Entah berapa kali para orang tua menakuti anak dan menganggap sepele akan hal ini. Menakuti anak adalah cara yang kurang tepat dalam mendidik anak. Banyak dampak negatif dengan sering menakuti anak-anak.

Berikut dampak negatif sering menakuti anak yang harus diketahui:
1. Usia di bawah 1 tahun

Dampak menakuti anak atau bayi di bawah usia 1 tahun juga akan memberikan sisi negatif terhadap perkembangan anak meskipun usianya masih dini. Menakut-nakuti bayi akan memberikan rasa tidak nyaman pada bayi. Selain itu bayi juga akan merasa tidak aman. Pola menakut-nakuti bayi dengan alasan apapun akan diserap oleh otak bayi dan hal ini akan membuat bayi tidak merasa aman dan nyaman.

2. Usia 1 hingga 3 tahun
Menakuti anak pada usia batita akan membuat anak selalu bergantung pada orang tua. Anak akan merasa takut karena anak selalu mendengar yang seram dan hal ini akan dianggap sesuatu yang nyata oleh anak. Untuk menghilangkan rasa takutnya maka anak akan selalu minta bantuan orang tua untuk menemaninya. Jika hal ini dibiarkan saja maka anak akan tumbuh menjadi anak yang penakut dan kurang berani.

3. Usia 3 hingga 5 tahun
Pada tahap usia ini, anak sudah mulai bisa mengembangkan daya imajinasinya. Dengan kebiasaan orang tua menakut-nakutinya akan membuat rasa takutnya semakin tinggi dan hal ini akan berakibat anak akan lebih rentan mengalami mimpi buruk ketika tidur. Mimpi buruk yang dialaminya akan membuat anak menjadi lebih tegang, rasa cemas yang selalu muncul dan anak akan lebih mudah bingung dan panik.

4. Usia 6 hingga 9 tahun
Pada tahap usia ini, anak sudah mulai masa bereksplorasi. Dampaknya adalah anak akan mengalami hambatan dan gangguan dalam bereksplorasi akibat dari rasa takut yang ada dalam dirinya. Jika orang tua masih saja menakut-nakuti anak maka hal ini bisa mengganggu kemampuan berpikir anak dan tingkah laku anak. Bisa saja anak akan berlaku tidak rasional dan mengambil keputusan yang tidak logis.

5. Anak umur 9 hingga 12 tahun
Rasa takut yang ada pada dirinya akan membuat kegiatan belajarnya menjadi terganggu. Anak akan lebih fokus kepada bagaimana cara mengatasi ketakutan yang ada pada dirinya daripada anak konsentrasi belajarnya. Oleh karena itu orang tua sebaiknya berhati-hati dalam menakut-nakuti anak pada anak usia 9 hingga 12 tahun.

Ada banyak cara kreatif lainnya yang bisa dilakukan para orang tua, daripada memberikan rasa takut kepada anak hanya sekedar anak mau menurut kepada orang tua. Beberapa cara yang bisa dilakukan orang tua:

  • Sebaiknya orang tua berhenti menakut-nakuti anak. Langkah yang sebaiknya dilakukan adalah membujuk anak dengan memberikan penjelasan dan pengertian kepada anak. Meskipun hal ini akan lebih sulit namun akan lebih membangun pola pikir anak dan minim efek negatif.
  • Untuk usia bayi hindari menakut-nakuti anak agar anak merasa aman dan nyaman. Bisikan-bisikan yang di sampaikan orang tua akan diserap oleh otak bayi, oleh karena itu berikan hal-hal yang lebih lembut dan menenteramkan untuk bayi. Suasana kondusif yang diberikan orang tua akan lebih memberikan rasa aman dan nyaman untuk bayi.
  • Berilah pengertian dan penjelasan kepada anak agar anak terbiasa berpikir. Oleh karena itu orang tua juga harus bisa berpikir kreatif agar anak bisa terbujuk.
  • Bangunlah kedekatan dengan anak dan sering berkomunikasi agar anak tidak memendam rasa takutnya. Berikanlah solusi atas rasa takut yang ada pada dirinya sehingga anak muncul keberaniannya.
  • Berkonsultasi kepada dokter spesialis anak atau ahli jika anak sudah merasa takut yang berlebihan agar hal tersebut tidak berkelanjutan dan mengganggu perkembangannya.


Kebiasaan orang tua menakut-nakuti anak sebaiknya mulai dihindari sejak awal. Banyak cara kreatif lainnya untuk sekedar membujuk anak. Jadilah orang tua cerdas agar anak tumbuh menjadi anak yang pemberani dan cerdas.

Oleh: Josua M
(Dikutip dari berbagai sumber)