Dampak Buruk Kurang Zat Besi pada Anak Dapat Beresiko Bodoh

13 Maret 2014 Artikel Pendidikan


Zat besi adalah suatu zat dalam tubuh manusia yang erat dengan ketersediaan jumlah darah yang diperlukan. Dalam tubuh manusia zat besi memiliki fungsi yang sangat penting, yaitu untuk mengangkut oksigen dari paru-paru ke jaringan dan mengangkut elektron di dalam proses pembentukan energi di dalam sel. Untuk mengangkut oksigen, zat besi harus bergabung dengan protein membentuk hemoglobin di dalam sel darah merah dan myoglobin di dalam serabut otot. Bila bergabung dengan protein di dalam sel zat besi membentuk enzim yang berperan di dalam pembentukan energi di dalam sel.

Kurang zat besi seringkali dihubungkan dengan risiko 5L yaitu lemah letih lesu lunglai lelah. Namun risiko tersebut ternyata hanya berlaku bagi orang dewasa. Risiko kurang zat besi pada anak, khususnya di 1.000 hari pertama kehidupannya bisa berakibat lebih buruk. Dokter spesialis anak Soedjatmiko mengatakan, kurang zat besi pada anak sebelum dua tahun berdampak pada kurang optimalnya pertumbuhan otak. Hal tersebut lantas menurunkan kecerdasan anak yang seharusnya tidak terjadi saat anak cukup asupan zat besi.

"Menurut penelitian, IQ anak yang kurang zat besi rata-rata 10-20 poin di bawah anak yang cukup asupan zat besi. Artinya zat besi sangat berpengaruh terhadap pembentukan kecerdasan anak. Jika kurang zat besi, anak jadi bodoh," paparnya dalam diskusi kesehatan di Jakarta.

Soedjatmiko menjelaskan, zat besi merupakan salah satu mineral yang terpenting dalam proses pembelajaran. Zat besi, kata dia, berperan dalam pembentukan sel-sel otak, sekaligus untuk membangun hubungan antara sel-sel tersebut atau yang dikenal dengan istilah sinapsis.

Jika cukup asupan zat besi, maka sel-sel otak akan terhubung dengan lebih optimal, sehingga rangsangan pun lebih cepat sampai. Dengan kata lain, otak lebih cerdas dalam merespon rangsangan. Sayangnya, menurut data dari organisasi kesehatan dunia (WHO), lebih dari 50 persen anak usia kurang dua tahun di Indonesia kekurangan zat besi. "Jumlah ini sangat besar, harus segera diperbaiki jika ingin anak-anak kita jadi anak cerdas," tegas konsultan tumbuh kembang anak di Rumah Sakit Dr Cipto Mangunkusumo (RSCM) ini.

Pada usia kurang dari dua tahun atau 1.000 hari pertama kehidupan, imbuh dia, anak mengalami perkembangan otak paling pesat. Delapan puluh persen otak orang dewasa terbentuk pada saat seorang individu dikandung (270 hari) dan dua tahun pertama kehidupannya (730 hari). Maka, jika pertumbuhannya tidak optimal di masa itu, otak tidak akan mampu mengejar ketertinggalan mencapai pertumbuhan optimalnya.

Karena itu, Seodjatmiko menegaskan agar asupan zat besi yang cukup perlu diberikan sejak ibu mengandung. "Beberapa tahun yang lalu 40 persen dari ibu hamil di Indonesia kekurangan zat besi, sekarang sudah menurun hingga 25 persen, tapi intervensi pemberian pil zat besi tetap perlu dilakukan," pungkasnya.

Oleh: Indra K
(Dikutip dari berbagai sumber)