Cintai Kesenian Tradisional Kita...

8 Januari 2010 Artikel Pendidikan


La si do si do mi, mi do la fa la si do si do mi.

Itu sebait nada lagu Mojang Priangan yang tengah dihafalkan para pelajar yang bergelut sebagai seniman angklung. Mereka tak mau warisan bangsa ini tergerus zaman.

Nada-nada itu dengan bangga mengalun dari bibir mereka, sambil sesekali berdiskusi tentang alat musik tradisional itu, angklung.

Dulu, angklung digunakan pada ritual tanam padi dan panen raya, untuk menarik perhatian Nyi Sri Pohaci, dewi pemberi kesuburan agar hasil panen bagus dan terhindar dari hama.

Kini, angklung tak sekadar alat musik tradisional yang dimainkan saat tanam padi atau panen raya (seren taun). Alat musik bambu ini telah dimainkan di acara besar nasional dan internasional.

Masyarakat yang ingin bermain angklung dengan mudah menjumpai sanggar-sanggar yang mengajarkan teknik bermain angklung. Angklung juga telah menjadi bahan ajaran di beberapa sekolah. Mereka menjadikan angklung sebagai sarana pengembangan minat dan bakat siswa, contohnya KaSepuh (Kelompok Paduan Angklung SMAN 10 Bandung).

Penomoran angklung yang memiliki dua buah tabung dimulai dari 0 sampai 31. Pada angklung besar penomoran disesuaikan dengan tangga nada internasional, C, Cis, D, Dis, E, F, Fis dan seterusnya.

Alat musik bambu lain yang biasa mengiringi angklung adalah accompagnement, yang punya tiga tabung dan dibuat dalam tangga nada internasional. Ada juga arumba yang cara memainkannya mirip kolintang.

Pemain pemula akan sedikit kesulitan saat memainkan angklung. Ini karena tangan masih kaku.

Namun, itu hanya tahap awal dari pembelajaran bermain angklung. Pemain dituntut berkonsentrasi agar semua nada dapat dimainkan dengan sempurna.

Proses bermain angklung tak hanya menjadi ajang kesenangan, tetapi mengandung nilai pendidikan. Kita juga diajar saling membantu dan bekerja sama.Bermain angklung mengasah kreativitas dan konsentrasi.

Bermain angklung dapat menyeimbangkan kemampuan otak kiri dan kanan. Ini akan memicu kecerdasan pada otak. Karena selama ini otak terus dibebani hal-hal yang bersifat logika dan matematis, dengan berkesenian, daya imajinasi dan pengembangan intuisi perasaan terarahkan.

Kian terlupakan

Arus globalisasi yang kian deras membawa pengaruh besar pada generasi muda. Salah satunya adalah kita terbiasa dengan musik Barat. Ini pun memengaruhi perilaku dan pola pikir kita.

Bukan bermaksud mengutuk kemajuan teknologi. Bagaimanapun kemajuan adalah bentuk peradaban suatu bangsa.

Namun, tak dapat dimungkiri moral generasi muda menjadi merosot.

Banyak faktor yang membuatremaja kurang tertarik memainkan angklung. Padahal, dengan angklung, kita diajarkan bergotong royong dan toleransi.

Memang, kini angklung mulai diperbincangkan. Di luar negeri, angklung mendapat tempat istimewa di hati penikmatnya. Sebaliknya, di negeri sendiri, dari beberapa pergelaran angklung yang turut mengundang staf pemerintah, sedikit yang hadir.

Bagaimana mereka tahu keinginan seniman angklung jika diundang saja tak datang, demikian kata seniman angklung..

Baru-baru ini angklung diklaim sebagai alat musik asli Malaysia. Pemerintah lalu berusaha membuat hak paten atas angklung. Apa harus semua aset kesenian asli diklaim pihak asing dulu agar mendapat perhatian?

Perlu konservasi

Perlu konservasi dan inovasi pada kesenian daerah. Tak berarti mengubah makna penting kesenian itu, justru membuat kesenian daerah tak kalah dengan kesenian lain. Ini diperlukan mengingat konservasi menjamin keberadaan kesenian dalam kehidupan masyarakat. Di antaranya dengan memperkenalkannya kepada remaja. Mereka punya kesempatan memperkenalkan angklung dan melestarikannya.

Sedangkan inovasi diperlukan untuk membuat angklung suguhan

menghibur sekaligus menarik minat remaja.

Sudah selayaknya kita mencintai dan merasa memiliki kebudayaan ini. Kesenian daerah bukan musik jadul. Buktinya, mereka bisa bersaing dan berkembang di tengah rongrongan zaman.

(Tim SMAN 10 Bandung: Nurul Aini Hermawan, Nenden Siti Nur Alfiah, Swazy Nila Hendraswari, Dwi Astuti, Fatimah Azzahra)

Sumber: Kompas Cetak (kompas.com)