Cara Jitu Merangsang Anak Hobi Belajar

27 Oktober 2014 Artikel Pendidikan


Hampir sebagian orang jika melakukan kegiatan belajar, pembawaannya berat dan malas sekali. Perasaan malas mungkin sering kali hinggap ketika hendak melakukan kegiatan belajar. Bahkan jika disuruh memilih tentunya ingin segera menghindari kegiatan belajar dan lebih tertarik melakukan kegiatan lain yang lebih menyenangkan seperti bermain, jalan-jalan dan bercanda. Kegiatan belajar mungkin merupakan aktifitas yang paling tidak diminati. Pendidikan pastilah menjadi prioritas orangtua dalam membesarkan anak, menjaganya agar selalu berprestasi, cerdas, serta gigih mencari ilmu. Dalam mewujudkan itu seringkali kita mendapatkan perlawanan yang tak kalah gigih dari anak. Rasa malas, dorongan hasrat bermain, serta keletihan kerap menghalangi anak untuk belajar. Untuk itulah suasana yang menyenangkan adalah syarat mutlak yang diperlukan supaya anak suka belajar.

Menurut hasil penelitian tentang cara kerja otak, bagian pengendali memori di dalam otak akan sangat mudah menerima dan merekam informasi yang masuk jika berada dalam suasana yang menyenangkan. Membuat anak senang belajar menjadi lebih penting daripada menuntut anak untuk belajar supaya menjadi juara atau mencapai prestasi tertentu.

Anak yang punya prestasi tapi diperoleh dengan terpaksa tidak akan bertahan lama, sementara anak yang bisa merasakan bahwa belajar adalah sesuatu yang menyenangkan akan mempunyai rasa ingin tahu yang besar, akan lebih mantap serta bertahan lebih lama dalam mempengaruhi kesuksesan belajarnya di masa yang akan datang.

Kenali tipe dominan cara belajar anak, bagaimana ia dapat lebih mudah menyerap sesuatu, apakah tipe auditory, anak mudah menerima pelajaran dengan cara mendengarkan. Visual, melalui penglihatan. Ataukah kinesthetic, mengandalkan fisik.

Meminta anak secara terus menerus belajar dengan cara yang tidak sesuai dengan tipe cara belajar anak, akan membuat anak tidak mampu menyerap isi pelajaran secara maksimal, hasilnya anak tidak berkembang dengan maksimal. Maka fokuskan metode pendidikannya pada tipe cara belajarnya. Belajar dengan jeda waktu istirahat setiap 20 menit akan lebih efektif daripada belajar tanpa henti selama 1 jam.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak mampu melakukan konsentrasi penuh paling lama 20 menit. Lebih dari itu anak akan mulai menurun daya konsentrasinya. Jeda waktu istirahat 1-2 menit akan mengembalikan daya konsentrasi anak kembali seperti semula.

Biarkanlah ia beristirahat sekaligus menenangkan pikiran, tetapi jangan dibiarkan terlalu lama, karena istirahat yang berkepanjangan akan menimbulkan rasa malas muncul, selain itu perhatiannya akan beralih, pun melupakan apa aktifitas sebelumnya.

Oleh: Josua M
(Dikutip dari berbagai sumber)