Buta Warna, Jangan Masuk SMK!

2 Juli 2009 Artikel Pendidikan


JAKARTA, KOMPAS.com - Calon Peserta Didik Baru, khususnya tingkat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang telah dinyatakan diterima, dapat didiskualifikasi apabila saat lapor diri tidak memenuhi persyaratan, sebutlah satunya buta warna.

Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 8 Jakarta Soegiarto, di Jakarta, Rabu (1/7). Dia menambahkan, untuk beberapa jurusan memang berbeda persyaratannya dan itu sudah diatur dan bisa dilihat di situs Siap PSB Real Time Online DKI Jakarta.

Untuk Calon Peserta Didik Baru di semua Kompetensi Keahlian pada Bidang Studi Keahlian Teknologi dan Rekayasa, Program Studi Keahlian Tata Boga, serta Tata Busana disyaratkan tidak buta warna. Si calon siswa harus melampirkan surat keterangan tidak buta warna dari dokter saat pendaftaran Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB).

"Kalau dulu ada Puskesmas yang ditunjuk, tapi kalau sekarang bisa di mana saja terserah siswa dan orang tuanya," ujar Soegiarto.

Sementara itu, lanjut dia, siswa pun tidak memiliki kendala fisik untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar sesuai karakteristik Kompetensi Keahlian yang dipilih. Selain itu, untuk Calon Peserta Didik Baru Bidang Studi Keahlian Teknik Mesin, Teknik Otomotif, Tekhnologi Pesawat Udara, Akomodasi Perhotelan, Tata Boga, dan Usaha Perjalanan Wisata, Administrasi Perkantoran harus memiliki tinggi badan minimal 158 cm untuk pria, dan 153 cm untuk wanita.

"Ya, lucu dong kalau anak jurusan teknik tidak bisa membedakan warna kabel, itu bahaya buat masa depannya," ujar Soegiarto. "Jadi jangan sampai kecewa kalau merasa sudah diterima di saat pengumuman ternyata malah tidak diterima di saat lapor diri," tambahnya.

Untuk jadwal pendaftaran PPDB Tahap I sudah dimulai hari ini (1/7) hingga Jumat (3/7). Pengumuman Tahap I diumumkan pada Sabtu (4/7), sekaligus sebagai hari pertama jadwal pendaftaran lapor diri yang berlangsung sampai Senin (7/7).

"Tetapi tidak perlu berkecil hati, sebab kalau tidak diterima mereka biasanya diarahkan ke jurusan yang lain sepanjang masih ada bangku kosong," ujar Soegiarto.