"Bullying Insight"

4 Juni 2014 Artikel Pendidikan   |    Hanlie Muliani, M. Psi, Psi


Bullying adalah masalah universal yang ada di sekolah. Dari dulu sampai sekarang, bahkan di sekolah yang sangat menekankan nilai agama sekalipun tidak luput dengan masalah bullying pada siswa siswinya.

Sebagai konselor pendidikan, cukup banyak saya menerima anak dan remaja korban bullying di ruang konseling, mulai dari anak kelas 3 sampai kelas 12. Banyak di antara mereka menjadi enggan ke sekolah dan merosot akademisnya. Ada yang depresi, bahkan beberapa mengatakan, "I hate my life", dan "Kadang-kadang saya mau meninggal saja". Memprihatinkan bukan? Namun sayangnya, banyak pihak belum cukup paham mengenai bullying.

Menganggapnya sebagai kenakalan biasa, atau justru menyangkal adanya bullying di sekolah. Lebih memprihatinkan lagi, korban bully tetap disalahkan, misal dengan mengatakan, "Makanya kamu perlu mengembangkan diri kamu supaya tidak diledek lagi oleh teman-temanmu." Ya, ada benarnya bahwa setiap orang perlu mengembangkan diri. Namun, apakah juga berarti: "Karena seseorang culun maka dia layak dibully?" Sebuah pertanyaan untuk kita refleksikan bersama.

Topik bullying pada anak laki-laki berbeda dengan anak perempuan. Seseorang yang terlihat "berbeda" menjadi sasaran empuk bullying milik anak laki-laki dan perempuan, juga senioritas. Sedangkan yang berbeda adalah:

Topik bullying khas anak laki-laki adalah mengenai prestasi, dan bullying di lingkungan anak laki-laki lebih terlihat.

Topik bullying khas anak perempuan adalah berhubungan dengan perasaan iri hati (envy) terhadap temannya, yaitu iri hati terhadap penampilan fisik, popularitas di sekolah, popularitas di tengah-tengah lawan jenis, dll. Bullying anak perempuan lebih tidak terlihat dan biasanya ke arah psychological bullying. Bahkan, bullying pada anak perempuan dapat lebih buruk dibandingkan anak laki-laki.

Bullying pada umumnya tidak dilakukan di hadapan figur otoritas. Inilah salah satu faktor yang membuat bullying menjadi hal kompleks. Faktor lainnya adalah, berkembangnya Informasi Teknologi. Di jaman Informasi Teknologi ini, ancaman bullying menjadi semakin meningkat dan tidak terbatas ruang dan waktu.

Kita mengenalnya dengan istilah Cyber Bullying. Cyber membuat bullying semakin mudah dilakukan bahkan sulit untuk diketahui siapa pelakunya. Cyber bullying dapat dilakukan melalui email, sosial media, sms, dll. Apakah orang tua tahu anaknya menerima pesan-pesan di email, fb, atau sms dari seseorang bernama T3DD1 (sebagai contoh), dengan isi pesan, "Dasar loe cewek lebay! Muak liat muka loe di sekolah!" Bayangkan, bagaimana perasaan anak kita, apalagi kalau dia menyimpannya sendiri? Apakah T3DD1 adalah Teddi? Atau apakah dia ternyata adalah Melinda (sebagai contoh), teman baiknya sendiri. Cyber bullying most happen now!

Bagaimana mengatasi bullying? Sayangnya, yang datang menemui konselor adalah para korban bullying. Untuk mengatasi bullying, semua pihak harus berperan. Sistem sekolah yang membentuk budaya sekolah, para pendidik di dalamnya, orang tua dan siswa siswinya.

Caranya? Ketahuilah, aturan sekolah sekeras apa pun tidaklah cukup. Saya beri contoh, ada pelaku bullying, diberikan skorsing karena melakukan bullying terhadap temannya. Pertama, pelaku ini mungkin berubah menjadi baik atau..., menjadi lebih buruk namun dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Kedua, apabila pelaku dikeluarkan, pelaku ini mungkin bertobat dan berubah menjadi baik di sekolah baru atau..., tetap menjadi pelaku bullying di sekolah yang baru.

Cara efektif untuk mengatasi bullying adalah dengan To EDUCATE Compassion dan To Change The Wrong Mindset, dari "red bubble thoughts" (istilah untuk pemikiran yang keliru) yaitu mengapa saya melakukan bullying, menjadi "green bubble thoughts" (istilah untuk pemikiran baru yang benar) yaitu apa yang perlu saya sadari dari red bubble thoughts saya sehingga menjadi green bubble thoughts, kepada semua siswa-siswi.

Semoga tulisan ini bermanfaat dan membuat kita lebih aware terhadap bullying di sekitar kita dan anak-anak kita. Tips buat orang tua, jalinlah komunikasi yang terbuka dan saling percaya dengan anak. Sehingga anak mau bercerita pada Anda mengenai apa yang dialaminya sehari-hari.

(Penulis adalah Clinical Psychologist, Parenting & Education Consultant, Bullying Prevention Consultant dari Sahabat Orang Tua & Anak - Parenting & Education Consulting)
Website: www.sahabatorangtuaanak.com