Bermain Sehat dengan Mainan Tepat

6 April 2010 Artikel Pendidikan


Kedua tangan Benedic Geralbadi, 5 tahun, menimang-nimang tang milik orang tuanya. Di dekatnya, sebuah obeng tergeletak di lantai. Eral, panggilan bocah itu, bergantian memainkan kedua perkakas itu dengan mimik serius.

"Sudah dua tahun ini Eral suka memainkan perkakas kami," kata Priza Audermando, 35 tahun, ayah Eral. Gunting, mur-baut, bahkan gergaji sering menjadi mainan Eral. Ia pun amat suka memainkan telepon seluler bekas yang sudah mati. "HP itu dipegang-pegangnya aja," ujar Priza.

Pernah Eral terluka karena kebiasaannya itu meski tidak fatal. Saat itu para tukang sedang merenovasi rumah mereka di Jatiasih, Bekasi. Eral ikut "membantu" para tukang dengan meminjam alat-alat mereka. "Dia ikut menggergaji kayu," kata Priza.

Tindakan anak tunggal pasangan Priza dan Clementina Prihatini, 34 tahun, ini jelas membuat risau. Tindakan pengamanan yang bisa dilakukan adalah menyimpan jauh-jauh segala perkakas dari jangkauan Eral, seperti di lemari dan dimasukkan ke kotak yang terkunci.

Cara lainnya adalah memberikan mainan mirip perkakas yang terbuat dari plastik, meskipun ini tak bisa bertahan lama lantaran sejak bayi Eral tak suka mainan yang biasa dimainkan teman sebayanya. "Mainannya menumpuk begitu saja di dalam gudang," ujar Priza.

Psikolog anak, Mutiara Padmosantjojo, mengatakan kebiasaan seperti Eral ini, meski masih normal, tetap berbahaya. Bagi Eral, katanya, kegiatan itu adalah bentuk permainan. Tapi permainan bisa berakibat negatif bila alat yang digunakan tak sesuai dengan usianya. "Berikan mainan yang sehat untuk si buah hati," kata Mutiara.

Dunia anak-anak adalah dunia bermain. Karena anak tak bisa membedakan antara permainan dan bekerja. Saat bermain, anak belajar melatih pancaindranya. Insting yang dimiliki anak-anak, ada rasa ingin tahu yang sangat besar. Mereka selalu ingin meniru aktivitas orang dewasa di sekitarnya. "Karena itu, mainan yang diberikan orang tua harus sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak," katanya.

Menurut Mutiara, ada empat bentuk permainan dan mainan yang seharusnya diberikan kepada anak-anak. Pertama, bermain sensori-motor, yaitu kegiatan bermain yang diterapkan kepada anak dari bayi hingga berusia 2 tahun. "Di fase ini, permainan ditekankan untuk mengendalikan pancaindra dan gerakan," ujarnya.

Biasanya, mainan yang diberikan kepada anak adalah mainan yang bisa mengeluarkan bunyi riang dan berbentuk makhluk hidup. Contohnya mainan gantungan di atas tempat tidur, yang bisa mengeluarkan suara gemerincing. Ada pula bentuk mainan tidak berbahaya bila dimasukkan ke mulut anak, biasa disebut teether. "Semua mainan ini untuk merangsang anak menggunakan pancaindranya," kata Mutiara.

Pada masa transisi, saat hendak memasuki fase berikutnya, yakni sekitar umur 12-13 bulan, anak masuk ke tahap bermain pura-pura. Ini adalah permainan yang mulai menirukan kegiatan orang dewasa. Maka mainan yang biasa diberikan adalah mobil-mobilan, boneka, dan permainan alat masak-memasak. "Dengan catatan ukuran mainan itu tak boleh kecil karena kecenderungan anak yang suka menelan mainan," katanya.

Saat di atas usia 2 tahun, anak biasanya sudah bisa berjalan, melompat, berbicara, dan mengenal sesuatu. Maka permainan yang bisa diberikan adalah mainan yang bisa merangsang kegiatan fisik anak. Contohnya sepeda, bola, dan permainan yang merangsang otak anak. "Mainan yang diberikan harus bisa merangsang saraf motorik kasarnya," kata Mutiara.

Setelah di atas usia 4 tahun, baru masuk ke permainan yang lebih matang. Bentuk mainan juga sudah variatif. Segala bentuk mainan bisa digunakan ke fase ini, termasuk video game. Dalam tahap ini, dengan permainan ini anak akan belajar berinteraksi sosial dengan sesamanya. "Kejujuran, kerja keras, dan solidaritas sudah dibangun di fase ini," ujar Mutiara.

Meski sudah diberikan permainan yang sehat, mainan untuk anak bisa tak berguna dan tetap berbahaya bila penggunaannya tidak diawasi. Orang tua wajib menyingkirkan benda orang dewasa yang bisa membahayakan, tapi tetap memberikan pemahaman kepada anak tentang mainan mereka.

Bagilah waktu luang Anda agar tetap bisa mendampingi anak saat bermain. Karena kebersamaan inilah yang paling penting demi membangun keakraban antara anak dan orang tua. Juga bisa mencari solusi saat anak tertimpa masalah. "Hal-hal yang tersirat dari anak adalah bisa keluar saat mereka bermain," katanya.

Tips Memilih Mainan Sehat
Sesuaikan mainan anak dengan usia anak. Saat ini banyak mainan yang sudah diproduksi untuk umur-umur tertentu.Perhatikan bentuk dan keamanan mainan. Jangan membeli mainan yang terbuat dari bahan dan berbentuk berbahaya, seperti berbentuk pisau dan binatang berbahaya.Perhatikan nomor induk produksi mainan. Dengan nomor ini, Anda bisa mengetahui mainan itu sudah seusai standar apa belum.Harga bukan segalanya. Mainan boleh mahal, tapi keselamatan anak bisa lebih mahal daripada harga sebuah istana.Jangan ragu berkonsultasi kepada penjual mainan. Tanyailah fungsi mainan yang hendak dijualnya serta risiko bila mainan itu diberikan kepada anak.Usahakan untuk melibatkan anak saat membeli mainan. Selain untuk menyesuaikan kesukaan anak, baginya hal ini bisa menimbulkan perasaan dihargai oleh orang tua.
MUSTAFA SILALAHI


Sumber: Tempointeraktif.Com