Bantu Motivasi Anak dengan Komunikasi yang Baik

13 Juni 2018 Artikel Pendidikan


Komunikasi adalah cara untuk membangun ikatan yang kuat dengan orang-orang di sekitar kita, termasuk anak-anak. Hal yang semestinya dilakukan oleh para orangtua bukanlah membanding-bandingkan anak. Misalnya ketika anak tidak bisa berhitung, dan orangtua membandingkan anaknya sendiri dengan anak sesusianya. Hal yang demikian sering sekali terucap ketika para orangtua sedikit kesal dengan ketidak mampuan sang anak. Padahal membandingkan anak sendiri dengan anak lain, yang mungkin lebih menonjol dalam sesuatu hal, dengan maksud agar anak termotivasi untuk maju dan belajar lebih giat lagi, bukanlah tindakan yang tepat.

Kadangkala orang tua tidak menyadari ungkapan membandingkan seperti itu justru membuat anak menjadi lebih minder dan tidak percaya diri. Hal ini tentu saja berpengaruh dalam perkembangan psikologis anak. Psikolog Dr Rose Mini Adi Prianto M Psi, mengatakan perkembangan masing-masing anak berbeda. Ada yang tingkat kemampuan berjalannya lebih cepat, ada yang kemampuan membacanya yang lebih dulu berkembang dibandingkan yang lain walaupun pola tumbuh kembangnya sama. Anak yang tidak bisa matematika atau nilai matematikanya rendah belum tentu anak yang bodoh. Bisa jadi dia lebih pintar di bidang lain yang lebih diminatinya. Solusinya, lakukan komunikasi dengan anak dan kenali apa yang menjadi hambatannya. Jangan menebak-nebak apa yang ingin dia katakan atau lakukan dan jangan sekali-kali memasang wajah cemberut ketika berbicara.

Berikut beberapa tips yang bisa dilakukan orang tua dalam berkomunikasi dengan anak:
1. Cobalah memahami dan merasakan apa yang telah mereka ungkapkan.
2. Pergunakan bahasa yang spesifik, mudah dimengerti oleh anak. Hindari istilah-istilah sulit dan kalimat yang susah dimengerti.
3. Tunjukkan perhatian dan luangkan waktu untuk mendengarkan anak berbicara. Hentikan sementara aktifitas yang sedang Anda lakukan dan berkonsentrasilah pada apa yang sedang mereka katakan.
4. Buatlah suasana santai dan rileks agar anak lebih mudah dan lebih banyak berbicara dan bercerita.
5. Munculkan bahasa tubuh yang hangat, menerima dan menaruh konsentrasi penuh. Jangan cuek atau acuh tak acuh. Usahakan untuk memposisikan diri sejajar dengan anak agar dapat langsung menatap ke arahnya.
6. Perhatikan bahasa tubuh yang tampil dari anak. Terkadang ada anak yang sedikit sekali berbicara namun lebih memunculkan respon lewat gerakan tubuh.
7. Jadilah pendengar yang aktif dengan ekpresi kalimat dan gerakan tubuh seperti menganggukkan kepala, menggeleng, ekspesi mata dan sebagainya.
8. Biarkan cerita anak mengalir, hindari memotong pembicaraan atau bahkan menilai dan menghakimi cerita anak.

Namun akan lebih bijak, bila komunikasi orang tua lebih mengedepankan hati dan kasih sayang orang tua sebagai bentuk cinta orang tua terhadap sang anak, daripada hanya mengandalkan power semata.

Oleh: Josua M
(Dikutip dari berbagai sumber)