Bantu Anak Atasi Trauma Pasca Gempa

2 November 2009 Artikel Pendidikan


Bencana alam bisa menyebabkan peristiwa yang sangat traumatis bagi anak-anak dan remaja sehingga menyebabkan stres meski bencana sudah berlalu. Bagaimana peran Anda sebagai orangtua dan guru membantu anak-anak pasca gempa? Anda bisa mencoba beberapa tip berikut ini.

1. Para guru dan orangtua sebaiknya bersikap tenang karena anak-anak akan melihat orang dewasa sebagai figur mereka dalam menjalani hidup setelah bencana.

2. Ajaklah mereka dalam kegiatan sekolah sehingga rasa takut perlahan berubah menjadi suatu pengalaman hidup. Sekolah mempunyai peran penting dalam proses kestabilan emosi serta menciptakan lingkungan yang familiar untuk mereka.

3. Ajaklah berdiskusi mengenai perasaan mereka dan kekhawatiran mereka, dengarkanlah dan berikanlah mereka empati karena hal ini sangat penting, biarkanlah mereka tahu bahwa reaksi mereka adalah wajar.

4. Buatlah suatu kesempatan untuk berdiskusi mengenai kejadian tersebut dan pengalaman mereka, berikanlah kesempatan pada mereka untuk melakukannya baik verbal maupun nonverbal. Jika Anda butuh bantuan, jangan segan untuk meminta psikolog atau psikiater untuk membantu.
5. Perhatikan tanda stres psikologis. Perasaan syok masih bisa terbawa meski gempa sudah berakhir. Hal yang membedakan gempa dari bencana alam lainnya adalah tidak ada yang bisa memastikan apakah gempa sudah berakhir atau belum, dan juga gempa bumi muncul tanpa adanya gejala awal sehingga membuat korban lebih sulit untuk mengatasi perasaan stress mereka terutama saat mereka melihat puing-puing bangunan yang tersisa. oleh sebab itu suatu goncangan kecil mungkin bisa langsung menyebabkan stres psikologis.

6. Reaksi dari anak-anak dan remaja berbeda dan tergantung dari peristiwa yang saat itu mereka alami, apakah orang yang mereka sayang terluka, seburuk apa situasi yang berlangsung, apakah mereka kehilangan rumah dan lingkungan mereka, terlukakah mereka secara fisik. Para orang tua haruslah menghubungi bantuan profesional jika perubahan tingkah laku atau gejala gejala berikut ini terus berlangsung:

-Anak usia prasekolah menghisap jempol, mengompol, bergantung pada orang tua dan menangis saat ditinggal pergi, takut kegelapan, perubahan tingkah laku yang menunjukkan regresi, menarik diri dari lingkungan, teman teman dan kegiatan rutin mereka.
- Anak Sekolah Dasar tingkah laku yang agresif, mimpi buruk, perasaan bergantung berlebihan terhadap orangtua, menghindari sekolah, ketidakmampuan untuk berkonsentrasi, serta menarik diri dari pergaulan.
-Remaja gangguan tidur dan makan, cemas berlebihan, adanya perasaan tidak nyaman baik fisik dan mental, perubahan tingkah laku yang drastis serta ketidakmampuan untuk berkonsetrasi.

7. Ada kemungkinan sebagian kecil anak-anak akan mengalami suatu gangguan stres pasca trauma/post traumatic stress disorder(PTSD). Gejala bisa dari yang disebutkan diatas ditambah dengan perasaan ketakutan bahwa bencana bisa timbul kembali bahkan bisa saja mereka tidak bisa bisa mengungkapkan emosinya secara baik dan yang paling parah meski jarang terjadi, bisa sampai terjadi kecenderungan untuk bunuh diri pada remaja.

8. Jangan lupa berikanlah mereka aktivitas dimana mereka diajarkan untuk mengatasi masalah yang berkaitan dengan bencana tersebut. Bantulah mereka untuk mengatasi rasa cemas dan takut itu dengan menanyakan pada mereka apa yang biasanya mereka lakukan jika mereka sedih, takut atau cemas. Ketahuilah bahwa anak anak dengan dukungan emosional yang kuat akan lebih bisa menerima keadaan seiring dengan berjalannya waktu.

9. Pada beberapa kejadian di mana banyak sanak saudara terpisah akan membuat Anda lebih sibuk dalam menemukan mereka dan bisa menyebabkan anak merasa diabaikan, untuk itu ajaklah mereka untuk beraktivitas dalam grup kecil dengan sesama anak-anak sehingga mereka bisa berbaur sewaktu Anda mencari saudara yang terpisah.

10. Mintalah sekolah melakukan identifikasi siapa saja remaja yang dalam resiko tinggi mengalami depresi dan stres sehingga merencanakan intervensi dengan mengajak ikut kegiatan sukarelawan.

11. Dan yang paling penting dari semua ini adalah luangkan waktu untuk diri sendiri sejenak dan biarkan diri anda mengatasi perasaan setelah bencana terjadi. Jika anda dalam kondisi yang baik dan stabil maka anda akan bisa lebih membantu anak anak dalam proses penyembuhan.

Perlu diingat bahwa proses penyembuhan bisa berlangsung cukup lama meskipun bencana hanya berlangsung sebentar, para korban yang selamat bisa tetap mengalami perasaan stres bahkan bisa sampai tahunan. Suatu kerjasama antara sekolah, komunitas serta pemerintah sangatlah diperlukan.

Sumber: Kompas.com