Bahaya Terlalu Mengekang Anak

12 Maret 2019 Artikel Pendidikan


Antara menjaga keselamatan anak dan terlalu protektif terdapat batas yang tipis. Orangtua yang berhasil adalah yang tahu kapan harus melangkah mundur dan membiarkan anak terbang begitu dia siap. Di zaman seperti ini, rasanya semakin sulit menjaga anak agar selalu sehat dan selamat. Mengekang seorang anak seringkali dilakukan oleh orangtuanya dalam keadaan sadar atau tidak sebagai dalih kasih sayang. Mereka melakukannya sebagai bentuk rasa takut terjadi sesuatu yang menimpa anaknya. Tapi faktanya, tidak semua orangtua bisa memahami buruknya hal tersebut secara jangka panjang. Padahal, anak akan melihat keterkekangan sebagai bentuk tekanan serta pembatasan yang berakibat pada hal-hal berikut:

Memberontak

Anak yang dibesarkan dalam kekangan akan melakukan pemberontakan terselubung yang semakin matang seiring berjalannya waktu. Mereka bisa saja banyak memperlihatkan perlawanan setiap kali diatur. Seperti balon yang sewaktu-waktu bisa meletus, pada saatnya pemberontakan ini akan ditunjukkan secara terang-terangan yang membuat orangtua pada umumnya tidak memahami kendala anaknya.

Pribadi yang Liar

Ketika anak mendapatkan kebebasannya kelak, tidak jarang tumbuh kembangnya yang diiringi kekangan akan mengakibatkan munculnya pribadi liar dalam dirinya. Seakan baru membuka mata dan melihat dunia, mereka akan bertindak lebih liar dengan membenci segala batasan. Oleh karena itu, sangat penting untuk membesarkan anak tanpa larangan berlebih yang membuatnya merasa tidak nyaman. Karena seperti apapun, pendidikan kedisiplinan yang dilakukan dengan cara mengekang hanya akan menghambat pertumbuhan kepribadian seorang anak.

Tidak nyaman dengan orangtuanya

Akibat hidup dalam ketakutan, anak akan cenderung merasa tidak tenang dan terbelenggu. Buruknya mereka akan tidak merasa nyaman ketika berada di rumah sendiri, termasuk berada dekat dengan orangtuanya. Hal ini akan berdampak buruk jangka panjang, terutama soal kedekatan pada orangtuanya.

Tidak merasa bahagia

Kekangan akan dipandang seorang anak sebagai tuntutan berlebih dan pembatasan terhadap kebebasannya dalam bertindak, yang berarti kemajuannya. Apalagi jika alasan dari melarang tersebut tidak dapat dijelaskan dengan baik oleh orangtua sehingga membuatnya terbebani dan kehilangan kebahagiaan.

Sulit mencari jati diri

Anak yang hidup dalam kekangan akan merasa tidak bebas dalam melakukan sesuatu sehingga lebih sulit pula bagi dirinya untuk menemukan kebahagiaan serta jati diri yang sesungguhnya.

Cenderung labil

Anak yang biasa dikekang akan terlihat lebih dewasa dalam menyikapi beberapa hal. Terutama hal-hal yang berhubungan dengan hak dan kewajibannya. Di luar itu, hal tersebut hanyalah refleksi penyikapannya terhadap keadaan terkekang yang selama ini dialaminya. Padahal, pribadi sesungguhnya yang mereka miliki adalah jiwa yang labil dan mudah berubah akibat terbawa arus, serta perlu terus digali kebenarannya.

Nah, melihat dampak buruk yang timbulkan dari pola asuh seperti ini, tentu akan lebih bijak jika para orangtua tidak menerapkan pola asuh demikian. Namun ini bukan berarti para orangtua harus menerapkan pola asuh yang bebas atau tanpa peraturan. Alangkah jauh lebih baik jika orangtua dapat menerapkan susana yang demokratis dan nyaman dalam mendidik dan mengasuh anak-anaknya.

Oleh: Josua M
(Dikutip dari berbagai sumber)