Bagaimana Menyikapi Anak yang Mulai Bertanya Tentang Seks?

22 Maret 2014 Artikel Pendidikan


Bila anak mulai bertanya mengenai seks, bukan berarti si anak berpikir jorok. Tapi anak-anak menanyakan hal-hal yang sedang ia amati, misalnya kenapa dada perempuan berbeda dari laki-laki. Berikut ini beberapa panduan menjawab pertanyaan anak.

1. Memberikan jawaban langsung

Orangtua sebaiknya menjawab pertanyaan anak saat itu juga. Namun jika orangtua merasa belum menemukan jawaban yang tepat, dapat ditunda dan berjanji mencari informasi itu segera. Perlu diingat, anak kecil memiliki kecenderungan untuk selalu mengingat janji. Jangan jadikan janji itu sebagai alasan untuk menghindar.

2. Orangtua menyiapkan diri

Paling baik tentunya orangtua sudah mempersiapkan diri dengan membaca buku atau menceritakan pada anak dari buku atau kejadian sehari-hari yang dilihat anak. Mulailah dari cerita tentang hewan atau tumbuhan yang berkembang biak. Semua ini analoginya akan terkait pula dengan manusia.

Ketika hal itu dipahami anak dengan baik, akan lebih memudahkan orangtua menjelaskan bagaimana bayi dilahirkan. Jika anak tidak diberikan dasar-dasar pemahaman tersebut, akan repot bagi orangtua untuk menjelaskannya.

3. Sesuaikan dengan kemampuan berpikir anak dan jangan berlebihan

Dalam memberikan penjelasan, gunakan bahasa yang sederhana dan jelas. Jika anak tidak bertanya bermacam-macam cukuplah jawaban sebatas yang dia tanyakan. Hal ini berarti kemampuan menangkapnya sesuai yang dipahaminya saat itu.

4. Jangan membohongi anak

Dalam menjawab pertanyaan anak, berikanlah informasi yang sebenarnya dan jangan berbohong. Misal, menceritakan datangnya bayi karena dibawa burung bangau atau diberi oleh dokter. Siapa pun jika dibohongi akan merasa tidak dihargai, dianggap bodoh, rendah, dan layak diberi kabar yang tidak benar.

Lagi pula peluang untuk terbukanya kebohongan yang dilakukan orangtua cukup besar, sementara anak seiring usia bertambah akan tahu apa yang diceritakan orangtuanya adalah salah. Dampaknya, anak akan kehilangan kepercayaan kepada orangtuanya, akhirnya anak akan mencari orang lain yang dianggap bisa dipercaya.

Selain itu, gunakan istilah yang tepat, seperti penis dan vagina. Kalau mau memberi "nama" dengan bahasa yang dipakai anak-anak, boleh saja asalkan mempunyai asosiasi yang sama dengan kata penis, seperti kata "titit". Jangan mengatakan sesuatu dengan arti kata dan asosiasi yang berbeda, semisal penis diistilahkan dengan "burung".

5. Lihat reaksi anak

Bagaimana reaksi anak ketika ayah-ibu memberikan jawaban? Apakah ia kaget, bingung, atau malu-malu? Dengan demikian Anda dapat menentukan sikap selanjutnya. Misalnya, ketika anak bereaksi kaget dengan jawaban yang diberikan orangtua, ada kemungkinan anak tidak siap atau mendapat informasi berbeda sebelumnya.

Tanyakan dengan baik-baik alasan kenapa anak bereaksi demikian. Perbaiki jika anak mendapat jawaban yang keliru. Perhatikan juga reaksi anak ketika Anda memberikan jawaban dalam porsi tertentu. Jangan membuat anak semakin bingung atau penasaran.

Semoga bermanfat untuk Anda.

Oleh: Iman S
(Dikutip dari berbagai sumber)