Awasi Fantasi Erotis Anak

20 Januari 2010 Artikel Pendidikan


Perkembangan media seperti internet makin tak terbendung. Kawasan kota besar menjadi sasaran utamanya. Anak-anak pun semakin mudah mendapatkan akses informasi, termasuk seksualitas, tanpa pengendalian dari orangtua.

Kurangnya saringan dari media komunikasi, ditambah minimnya pengetahuan orangtua tentang seksualitas, lantas menjadikan anak limbung dan tak punya tempat bertanya.

"Informasi yang anak-anak dapatkan dari luar seperti televisi, internet, lapak VCD/DVD atau teman sebaya, bahkan orang lain yang tidak kompeten menjadikan informasi lebih bersifat erotis dan bukanlah informasi seksualitas yang mendidik," jelas Mario Manuhutu, psikolog anak rekanan Yayasan Pulih kepada Kompas Female.

Menurut Mario, jika pun orangtua sudah mulai berbicara secara terbuka dengan anak dan menjawab pertanyaan kritis anak seputar seksualitas dan tubuh mereka atau lawan jenisnya, umumnya pengetahuan orangtua masih terbatas.

"Karena itu orangtua harus lebih pintar dan proaktif terhadap anak," papar Mario, sambil menambahkan bahwa anak usia 7 atau 8 tahun sudah mampu mengakses informasi. Peran orangtua sebagai figur tempat mencari jawaban atas pertanyaan seputar seks sekunder (seperti mulai tumbuh rambut, payudara yang mulai tumbuh) bahkan ketertarikan kepada lawan jenis menjadi penting.

Mario melanjutkan, anak usia 6 tahun bahkan sudah harus diajak bicara terbuka tentang tubuhnya. Apalagi anak usia 9 tahun ke atas, seharusnya sudah dibekali pengetahuan yang tepat dan jelas tentang seksualitas dan reproduksi dengan model pemahaman sederhana.

Orangtua memang memiliki tuntutan peran lebih saat kondisi kekinian memungkinkan anak terseret dalam arus pergaulan bebas.

"Jika anak sudah diberikan informasi yang tepat dari orangtua untuk mengenal tubuh dan fungsinya, perbedaan antara lelaki dan perempuan, ia tidak lagi penasaran mencari tahu dari orang lain di luar," kata Mario.

Anak cenderung coba-coba jika tidak mendapatkan informasi yang mendidik. Mereka kemudian akan lebih mudah berfantasi dengan erotisme yang mereka dapati dari media yang tidak tepat.

"Seksualitas lantas tidak dilihat sebagai sesuatu yang wajar namun sebagai kesenangan, erotisme," jelas Mario.

Setidaknya dengan pendidikan seks sejak dini, Mario mengatakan, anak-anak akan lebih sadar dan bisa mengontrol diri sendiri.

"Tentu saja komunikasi yang baik dengan orangtua dan ajaran nilai moral dalam keluarga harus menjadi pakem yang dididik kepada anak sejak kecil," tandasnya.

Penulis: C1-10/Editor: din

Sumber: Kompas.Com