Apakah Anda Orangtua yang Masuk Kategori Hyperparenting?

14 Juli 2017 Artikel Pendidikan


Pola asuh pada anak kerap kali menjadi penentu perkembangan anak kedepannya. Pola asuh yang dididik sejak dininya baik, maka ia akan tumbuh dengan disertai sikap-sikap santun serta mengikuti norma yang berlaku.

Seperti halnya pola asuh hyperparenting yang kini menjamur di masyarakat modern. Bagaimana bisa mengetahui bahwa beberapa orangtua memiliki pola asuh hyperparenting? Kenali beberapa ciri-cirinya berikut ini:

Cermat dan Mendetail Terhadap Aktivitas Anak. Orangtua tahu benar, bagaimana orangtua tahu berapa sendok ia makan, berapa lama waktu bermain, dan segala aspek kehidupan anak.

Stimulasi berlebihan pada anak atau balita. Si kecil yang belum merespon karena memang belum mampu terus saja dipaksakan oleh orangtua dengan pola asuh seperti ini. Misalkan dalam penggunaan toilet. Meski si kecil belum bisa,tapi terus saja dilatih bahkan dipaksa atau dimarahi jika tidak berhasil atau menolak melakukannya.

Harus sama.Mereka akan berusaha menyamakan pengasuhan yang dilakukan asistennya di rumah, bahkan menyamakan pengasuhan yang dilakukan kakek atau nenek si anak. Padahal, normalnya pasti terdapat perbedaan-perbedaan pola asuh meski memiliki tujuan akhir yang sama.

Merasakan cemas yang berlebihan. Sebenarnya sah-sah saja hal ini dilakukan oleh orangtua. Namun,jika berlebihan hanya akan menimbulkan kesan overprotective terhadap anak. Sebut saja misalkan anak Anda sedang bermain di rumah temannya dan Anda bisa menelpon berkali-kali hanya untuk menanyakan keadaan anak, apa yang dimakan, apa yang dimainkan dan tak lupa menitipkan sederet larangan untuk anak.

Memaksakan kehendak anak.Ketika Anda sudah melarang anak untuk Berperilaku tak masuk akal seperti meminta anak untuk tidak bermain seharian dan memaksanya mengerjakan suatu kegiatan yang dianggap positif seperti terus-menerus belajar membaca, menulis dan berhitung.

Nah, apakah Anda memiliki ciri-ciri seperti itu? Ketahuilah, pola asuh seperti hyperparenting justru bukan mendisiplinkan si kecil, pola ini akan membuat perkembangan anak buruk. Jadi, pilih dengan bijak bagaimana sebaiknya memperlakukan buah hati.

Oleh: Faqih F
(Dikutip dari berbagai sumber)