Apa yang Dimaksud dengan Sains?

9 Juni 2014 Artikel Pendidikan


Pentingnya tahun-tahun awal kehidupan seseorang sudah disadari oleh semua pihak, karena pada usia dinilah otak individu berkembang sangat pesat, bahkan dari beberapa fakta dipercaya menyatakan bahwa perkembangannya mencapai hingga lebih dari 50%. Seperti di sekolah, kita belajar matematika dan ilmu pengetahuan alam (IPA) seperti kimia, fisika dan biologi. Dalam rumpun ilmu secara luas, mereka masuk dalam kelompok sains.

Tetapi, apa sebenarnya sains itu?

Sains adalah sebuah proses dimana kita mencoba memahami bagaimana dunia fisik bekerja dan bagaimana ia bisa begitu. Dunia fisik mencakup dunia yang dapat kita amati dengan indera kita dengan atau tanpa bantuan teknologi. Sains tidak dapat membuktikan segalanya. Proses sains, ketika digunakan dengan benar, sesungguhnya berusaha menyanggah gagasan (hipotesis) dengan pengujian atau penantangan hipotesis lewat pengamatan (data) yang dikumpulkan dari eksperimen yang dirancang dengan hati-hati. Bila gagasannya bertahan terhadap pengujian, maka ia menjadi lebih kuat, dan lebih mungkin merupakan penjelasan yang akurat. Sains adalah sebuah proses yang hanya dapat menghasilkan penjelasan yang "mungkin" atau "sangat mungkin" untuk fenomena alam; tidak pernah ada kepastian. Dengan informasi, alat, atau pendekatan baru, penemuan sebelumnya dapat digantikan oleh penemuan baru.

Nah dalam acara Indonesian Science Enterprise Challenge (InaSEC) 2014, Peneliti Center for Innovative Learning Surya University, Janto Sulungbudi, menjelaskan makna sains dan penekatan saintifik kepada 60 siswa-siswi SMA seluruh Indonesia. Mereka berasal dari 16 sekolah di Jakarta, Sumatera Selatan, Yogyakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Kalimantan Timur.

Menurut Janto, sains dapat dikatakan sebagai ilmu pengetahuan yang muncul dari pengelompokkan secara sistematis dari berbagai penemuan ilmiah. Data itu berupa fakta-fakta, prinsip-prinsip, model-model, hukum-hukum alam, dan berbagai teori yang membentuk pengetahuan ilmiah berbagai hasil kegiatan sains dari berbagai penemuan sebelumnya.

"Sains juga bisa diartikan sebagai suatu metode khusus untuk memecahkan masalah sebagai proses. Atau suatu penemuan baru yang dapat digunakan setelah menyelesaikan permasalahan teknisnya seperti teknologi," kata Janto.

Janto menjelaskan, ketika mempelajari sains, sebaiknya kita tidak membohongi diri sendiri maupun orang lain. Selain itu, belajar sains juga berhubungan dengan cara berpikir dan cara mencari tahu.

"Sebenarnya sains itu tidak hanya sekedar menghafal, yang lebih penting bagaimana cara melakukannya dan mengamati," imbuh Janto. Ketika meneliti sebuah sains, kita seharusnya mengajukan pertanyaan bagaimana dan mengapa. Kemudian, melakukan debat dan eksperimen.

Debat dilakukan agar kita bisa fokus. Kemudian, tebakan (hipotesa) kita dikukuhkan melalui eksperimen. Data-data dari hasil eksperimen itu akan mejadi dasar kesimpulan yang lalu dicocokkan dengan hipotesa sebelumnya.

"Kita juga harus belajar dari orang lain dan lingkungan, yang paling penting kita selalu tetap jaga ingin tahu dan mengamati. Kita coba buat pertanyaannya dan menghasilkan yang baru," ungkapnya.

Sains, kata Janto, terlahir dari pengamatan. Oleh karena itu, lahirlah saintis yang selalu menginvestigasi dan menyelidiki sesuatu. Tokoh-tokoh Scientist yang terkenal di antaranya Albert Einstein, Steve Jobs, Michio Kaku dan Stephen Hillenburg.

"Pembelajar sains juga harus berpikiran terbuka. Sains dikatakan susah jika berkaitan dengan agama, moral, dan politik. Yang paling penting adalah kita jangan berkhayal jauh-jauh," tuturnya.

Oleh: Indra K
(Dikutip dari okezone.com dan berbagai sumber)