Anak yang Dihukum Fisik Lebih Pintar, Benarkah?

5 Januari 2010 Artikel Pendidikan


LONDON, Penelitian menunjukkan, bahwa anak sampai usia 6 tahun yang mendapat hukuman fisik memiliki prestasi di sekolah lebih baik dan lebih optimistis dibanding rekan mereka yang tidak pernah dipukul atau mendapat kekerasan fisik oleh orangtua mereka.

Penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat (AS) tersebut tentu saja memicu pro-kontra dan membuat marah para aktivis antikekerasan pada anak-anak. Mereka selama ini gagal mencegah hukuman fisik pada anak-anak di Inggris.

Saat ini, di bawah Children Act 2004, orangtua dibenarkan melakukan kekerasan pada anak dengan alasan rasional dan tidak menimbulkan luka atau bekas. Peneliti menanyai 179 anak belasan tahun mengenai seberapa sering mereka mereka dihukum secara fisik saat mereka anak-anak, serta berapa usia mereka saat terakhir dipukul.

Jawaban mereka kemudian dibandingkan dengan informasi yang mereka berikan tentang kelakuan yang sekiranya terpengaruh akibat dipukul. In
"Penelitian lain menunjukkan hukuman fisik mempengaruhi perilaku dan perkembangan mental, dan membuat mereka menjadi antisosial," ujar juru bicara NSPCC.
formasi itu termasuk kelakuan antisosial, aktivitas seksual dini, kekerasan dan depresi, juga aspek positif tentang sukses secara akademik dan ambisi.

Ternyata, mereka yang dipukul sampai usia 6 tahun menunjukkan performa lebih baik pada hampir semua aspek kategori positif. Kondisi mereka bahkan tidak lebih buruk pada aspek negatif dibanding yang tidak pernah dipukul.

Remaja yang masih mendapat hukuman fisik dari usia tujuh sampai 11 tahun juga lebih sukses sekolahnya dibanding yang tidak mendapat hukuman fisik. Namun sebaliknya, aspek negatifnya juga lebih buruk seperti suka berkelahi.

Menurut Marjorie Gunnoe, professor of psychology di Calvin College in Grand Rapids, Michigan, AS, yang meneliti masalah ini mengatakan, bahwa tidak ada perbedaan antara pria dan wanita, serta ras. Gunnoe telah melakukan penelitian terhadap 2.600 orang, dan setengah dari jumlah tersebut tidak pernah disakiti secara fisik.

Namun, penelitian ini ditolak oleh National Society for the Prevention of Cruelty to Children (NSPCC), yaitu sebuah organisasi yang melarang hukuman fisik pada anak.

"Penelitian lain menunjukkan hukuman fisik mempengaruhi perilaku dan perkembangan mental, dan membuat mereka menjadi antisosial," demikian jurubicara NSPCC.

Namun, kelompok lain, yakni Parents Outloud, menerima baik hasil penelitian ini, dan mengatakan bahwa orangtua seharusnya melakukan hukuman fisik ringan.

"Sangat sulit menerangkan secara verbal pada anak mengapa sesuatu yang mereka telah lakukan salah," kata Margaret Morrissey, juru bicara Parents Outloud.

Sumber: Kompas.com