Anak Tunggal Lebih Cerdas?

14 Januari 2010 Artikel Pendidikan


Anak tunggal tidak mandiri dan cenderung manja. Mereka egois dan tidak mau mengalah, karena mereka tidak pernah berbagi dengan saudara kandung. Mereka menjadi satu-satunya curahan kasih sayang orangtuanya, dan karenanya menganggap pendapatnya harus selalu disetujui orang lain.

Rasanya tidak fair jika menuduh semua karakter ini sudah melekat pada diri anak tunggal, meskipun sebagian ciri-ciri tersebut memang benar.

Penelitian membuktikan bahwa Only-Child Syndrom, atau sindrom anak tunggal, tidak pernah ada. G. Stanley Hall, pelopor psikolog Amerika pada awal abad 20, pernah mengatakan bahwa karakter semacam itu sebenarnya disebabkan oleh pribadi anak tunggal itu sendiri, bukan karena mereka anak tunggal.

Penelitian lain yang cukup populer dilakukan pada 1928 oleh Norman Fenton, dan pada pertengahan '80-an oleh Toni Falbo, profesor di bidang psikologi pendidikan di University of Texas. Mereka menyimpulkan bahwa anak tunggal sebenarnya tidak berbeda daripada anak-anak yang memiliki saudara kandung. Mereka bisa saja manis, culas, pandai menyesuaikan diri, kuper, cerdas, atau apa saja karakter anak pada umumnya. Apa yang membuat karakternya menjadi egois atau kuper, sebenarnya kembali pada pola asuh yang diterapkan orang tua.

Susan Newman, psikolog sosial dari Rutgers University, dan penulis buku Parenting an Only Child, mengatakan, memang banyak orangtua yang mempersepsikan bahwa anak tunggal itu manja, agresif, diktator, dan tidak dewasa. Namun ternyata tidak ada bukti ilmiah apa pun yang bisa membuktikan mitos-mitos itu.

''Ada ratusan penelitian yang mengungkapkan bahwa anak tunggal tidak berbeda dengan anak kebanyakan,'' tuturnya.

Dari penelitian yang ada justru terlihat bahwa ada perbedaan signifikan mengenai kecerdasan anak tunggal. Studi yang sudah dilakukan selama 20 tahun menunjukkan anak tunggal memiliki jenjang pendidikan yang lebih tinggi, hasil tes dan pencapaian lain yang lebih baik. Hal ini disebabkan anak tunggal memiliki seluruh sumber keuangan orangtuanya untuk mengikuti berbagai kursus. Mereka mempunyai lebih banyak waktu untuk membaca, mengerjakan PR, dan hasilnya adalah hasil tes yang lebih baik. Secara keseluruhan, pencapaian prestasi mereka juga lebih baik.

C2-10/Editor: din

Sumber: Shine (kompas.com)