Anak Sindrom Down Berdaya dan Berprestasi, Mengapa Tidak?

10 April 2012 Artikel Pendidikan


Anak sindrom down memang terlahir dengan sejumlah keterbatasan. Satu kromosom ekstra yang ada di baris ke- 21 membuat tonus otot mereka lemah. Bentuk wajahnya khas ibarat mereka kembar sejuta. Bentuk kepalanya agak peyang, hidung pesek, mata dan telinga yang juga khas, serta ruas jarinya pendek dan gemuk. Tingkat intelektualnya (IQ) pun terbatas di rentang 50 sampai 70. Tetapi, itu bukan akhir segalanya.

Stephanie Handojo telah membuktikannya. Gadis berusia 21 tahun ini tampil sebagai peraih emas cabang renang di World Special Olympics di Athena, Yunani, pada Juli 2011. "Padahal, semasa bayi, ia begitu lemah dan baru bisa menegakkan kepala pada usia delapan bulan," kenang Maria Yustina, sang bunda.

Kebanyakan orang mungkin tak akan terlalu peduli bagaimana Stephanie bisa menerabas kendala lahirnya. Padahal, ada perjuangan besar yang Fani dan keluarga lewati selama ini. Fani begitu Stephanie biasa disapa sangat komunikatif. "Saya sedang mempersiapkannya untuk ikut ujian negara sekolah menengah industri pariwisata," kata Maria.

Di samping sibuk dengan aktivitas akademik, Fani rutin berlatih renang, les bahasa Inggris, dan les piano. Kegiatan itu dijalaninya bergilir setiap harinya. "Setiap Senin saya pergi Fitness ke pusat kebugaran," ungkap Fani yang hobi renang.

Zeina Nabila juga gadis yang aktif. Dia sibuk berlatih drum dan gamelan. "Anak sindrom down harus berbaur dengan anak lain supaya tidak melulu di lingkungan yang homogen," komentar ibunda Zeina, Noni Fadhilah.

Anak sindrom down, lanjut Noni, mudah sekali meniru perilaku orang di sekitarnya. Akan sangat tidak menguntungkan bagi kemajuan anak ketika lingkungan pergaulannya dibatasi pada lingkup sesama penyandang trisomi 21 ini. "Malah, anak bisa mundur lantaran meniru gerakan teman yang masih belum mencapai perkembangan yang optimal."

Jalan menuju tumbuh kembang yang optimal tentu sangat berliku. Orang tua mesti mencari tahu seluk-beluk sindrom down agar bisa membantu anaknya. Tiap fase ada saja tantangannya.

"Dengan berhimpun di perkumpulan seperti Persatuan Orang Tua Anak dengan Down Syndrome (Potads), ayah bunda dapat saling menguatkan, berbagi pengalaman, dan mendapatkan banyak informasi," tutur Noni yang juga ketua Potads.

Sindrom down bukanlah penyakit. Ini merupakan kelainan genetik yang terjadi pada satu di antara 700 kelahiran hidup. "Dibandingkan 20 tahun lalu, ketika saya membesarkan Zeina, anak-anak sindrom down masa kini sudah lebih banyak yang bisa berjalan pada usia dua atau tiga tahun berkat terapi terprogram," papar Noni.

Sumber: republika.co.id