Anak Sering Berbohong? Ini Cara Jitu untuk Mengatasinya!

5 Desember 2014 Artikel Pendidikan


Tidak ada orang yang ingin dibohongi. Apalagi jika yang berbohong adalah anak sendiri. Tentu sebagai orang tua kita akan kecewa.

Berbohong tidak hanya bisa dilakukan oleh orang dewasa atau anak usia sekolah. Anak-anak yang baru bisa berbicara pun dapat berbohong. Ada dua hal yang bisa menyebabkan anak berbohong yaitu, mencontoh perilaku orang lain, terutama orangtua. Hal lainnya yaitu karena anak belum bisa membedakan antara realita dan fantasi.

Hampir semua anak pernah berbohong. Namun anak yang memiliki perkembangan kognitif yang lebih baik akan lebih membuat kebohongan yang lebih baik pula. Karena ketika anak berbohong, otaknya akan bekerja mencari cara untuk meyakinkan orang lain. Hal ini membuat kemampuan berpikir anak meningkat. Berbohong melibatkan beberapa proses otak, diantaranya menggabungkan sumber informasi dan memanipulasi data. Saat berbohong, anak dapat menggunakan otak kanan (imajinasi) dan otak kiri (logika), atau salah satunya.

Walaupun dapat meningkatkan kemampuan berpikir, kemampuan berbohong tetap tidak baik untuk perkembangan kepribadian anak kelak. Seharusnya kemampuan ini bisa dimanfaatkan untuk hal lain yang jauh lebih bermanfaat. Ketika anak berbohong akan terlihat dari bahasa tubuhnya. Dimulai dari mata yang tidak berani memandang langsung lawan bicara, mengubah nada suara menjadi tinggi atau rendah, serta berbicara dengan suara yang terbata-bata. Ciri-ciri anak berbohong lainnya adalah menyembunyikan tangan ke belakang tubuh, atau menggaruk ujung hidung. Anak yang berbohong juga akan melakukan lirikan mata ke sebelah kanan. Lirikan mata ini bisa dijadikan tanda bahwa seseorang sedang mengarang.

Berikut hal yang bisa dilakukan orangtua dalam menghadapi anak berbohong:

Tanamkan Nilai Kejujuran Dalam Keluarga

Ajarkan anak untuk biasa berkata jujur. Hindari pula mencontohkan kebiasaan berbohong di depan anak. Contohnya, ketika tidak ingin menerima kedatangan orang tertentu, orangtua meminta anak untuk berbohong pada tamu dengan mengatakan bahwa orangtua sedang tidak ada di rumah.

Hadapi Dengan Tenang dan Bijak

Orang tua harus mencari tahu penyebab anak berbohong dengan menjalin berkomunikasi yang baik. Setelah itu, jelaskan pada anak bahwa berbohong adalah perbuatan tidak baik, lalu ungkapkan perasaan orangtua. Misalnya dengan berkata "Mama sedih kalau kamu berbohong, mulai sekarang harus jujur sama Mama ya." Hindari mencap anak sebagai seorang pembohong karena akan membuat anak menjadi tidak terbuka pada orangtua.

Intropeksi diri

Sikap orangtua pada anak memiliki pengaruh besar terhadap kebiasaan perilaku anak,seperti kurang memberikan perhatian, menuntut anak terlalu banyak, tidak mendengarkan anak, dan sebagainya. Hilangkan perilaku tidak baik tersebut, dan berusahalah untuk lebih memahami dan mencurahkan kasih sayang pada anak.

Jika anak sering melakukan kebohongan, maka pendekatan yang terbaik adalah memberikan pengertian bahwa hal tersebut bukanlah sesuatu yang baik untuk dilakukan. Penjelasan secara lembut dan kata-kata positif yang diberikan akan membuat anak lebih mengerti bahwa hal yang dilakukannya adalah salah.

Namun, anak tetap harus diberikan konsekuensi atas kebohongan yang dilakukannya. Orangtua bisa memberikan konsekuensi yang sesuai dengan tingkat kebohongan yang dilakukan si anak. Satu hal yang pasti jangan memarahi anak dengan suara yang keras atau berteriak ketika anak berbohong dan pastikan anak tahu bahwa berbohong bukanlah pilihan terbaik.

Oleh: Faqih F
(Dikutip dari berbagai sumber)