Anak Pertama, Haruskah Serba Pertama?

5 April 2012 Artikel Pendidikan


JAKARTA - Melihat mata bening anak pertama, setiap wanita yang menjadi ibu pertama kalinya menyadari bahwa telah diberi anugerah makhluk cantik, cerdas, dengan banyak kemampuan yang pernah ada. Kehadiran anak pertama bagi orang tua-terutama yang berambisi besar dalam pendidikan-evolusi sang anak menjadi perhatian utama dari hari-ke hari.

Setiap orang tua mungkin mengalami pengalaman serupa, sehingga tidak mengejutkan jika sebuah penelitian mengungkapkan kerap kali orang tua memberi perhatian lebih besar kepada anak pertama dari adik-adiknya. Orang tua seolah memiliki misi besar dan rencana untuk membawa si pembaharu mungil agar menjadi pribadi yang paling cermelang dan berharap mereka adalah karunia.

Hanya waktu dan perkembangan anak yang akhirnya meruntuhkan harapkan itu. Bagi sebagian orang tua, kadang membutuhkan waktu 18 tahun untuk menemukan jika anak pertama mereka hanyalah satu dari anggota manusia lain, tak lebih. Banyak orang tua tak percaya atau kecewa saat mengetahui anak mereka gagal masuk universitas top, paling bergengsi di negaranya, atau mengalami kegagalan-kegagalan lain.

Hasil mengejutkan muncul dalam riset yang dilakukan Universitas College, London. Kesimpulan para ahli peneliti, anak-anak lahir pertama mendapat kemudahan dari tindakan berlebihan orang-tua yang "buta" dan itulah yang membentuk mereka.

David Lawson dan Professor Ruth Mace, yang melakukan studi terhadap 1.400 keluarga, menunjukkan adanya kemiripan proses pendidikan anak pertama dengan kebijakan warisan aristokrat di mana pemenang mengambil segalanya. Tradisi itu menyisakan saudara muda dengan hanya pilihan pada tentara, gereja, pernikahan dan karir seadanya.

Lawson dan Mace membicarakan "Ketidakberuntungan lahir kedua dan berikutnya", dan "kekurangan" dalam perawatan orang tua. Anak tertua kadang memiliki tes IQ lebih tinggi bukan karena mereka memang pintar, melainkan mereka menghabiskan banyak waktu memiliki percakapan dewasa berharga dengan orang tua.

Sebagai hasil, mereka sering menjadi anak berprestasi dengan pencapaian tinggi. Namun ada risiki laten karena di sisi lain mereka menyimpan kelelahan dari beban harapan orang tua. Depresi, sulit mengungkapkan, dan rasa kegagalan menggerogoti menjadi harga mahal untuk membayar perhatian tak seimbang itu.

Tak jarang si anak mengembangkan sikap penentangan bila dihadapkan pada situasi tesebut. Malas, bahkan menolak pergi ke sekolah, tak ingin terlibat semua organisasi dan aktivitas. Bila demikian tentu orang tua harus mulai mengubah cara pengasuhan dan melihat anak mereka pun seperti anak lain yang memiliki ketertarikan sendiri, dapat salah, dapat berhasil, namun mungkin juga gagal.

Orang tua harus menerima apa yang ingin anak lakukan dan apa yang anak inginkan terlepas dari mimpi besar orang tua. Cassandra Jardine, ahli tumbuh kembang anak sekaligus pengasuh rubrik parenting di Daily Telegraph, Inggris menuturkan, ia pun dulu begitu menekankan mimpi besarnya pada si anak pertama. Saat muncul resistensi dari sang anak, barulah timbul kesadaran bahwa sang anak memiliki hak untuk menikmati dunianya.

Bahkan suatu hari, si sulung tersebut mengatakan pada Cassandra jika ia bisa memilih ia ingin terlahir bukan sebagai anak pertama. "Lucunya orang tua kemudian menjadi lebih baik dan bijak pada pengasuhan pada anak berikut," ujar Cassandra.

Cara paling bijaksana adalah selalu menanyakan pada setiap anak, termasuk anak pertama opini mereka tanpa menghiraukan pendapat anggota keluarga lain yang lebih muda. Ketika orang tua mulai tidak menunjukkan rasa khawatir berlebih, justru-menurut penelitian- anak-anak kian menunjukkan bakat terbaiknya.

Semakin anak-anak merasa nyaman dan bahagia, hasil sekolah mereka pun jauh dari nilai buruk, dan mereka tetap dapat melakukan banyak hal yang mereka inginkan. Itu jelas merupakan berkah bagi orang tua.

Sumber: republika.co.id