Ajari Anak Menghargai Orang Lain

22 Oktober 2010 Artikel Pendidikan


Setiap 20 Oktober, masyarakat dunia memperingati Hari Martabat Sedunia. Untuk tahun ini, melalui peringatan tersebut, para pemimpin dan pendidik diserukan agar mengajarkan anak untuk memahami apa itu martabat sehingga anak dapat menghargai orang lain.

Untuk menyukseskan program itu, Anda bisa ikut serta dengan turut mengajarkan anak Anda agar mereka menjadi pribadi yang mampu menanamkan nilai-nilai martabat dalam kehidupan sehari-hari. Berikut beberapa tipsnya:

1. Beri tahu anak bahwa setiap orang di dunia ini berhak untuk menjalani hidup yang baik dan bermartabat baik itu, anak-anak, lansia, orang miskin, dan orang kaya. Katakan bahwa semua orang itu masing-masing memiliki harga diri dan berhak untuk menjalani kehidupan yang baik.

2. Contohkan dalam kegiatan sehari-hari untuk mengenalkan anak mengenain konsep martabat. Misalkan saat makan malam di meja. Bicarakan dengan anak apa artinya ketika kita mengucapkan kata 'terima kasih' dan 'tolong' saat hendak menyajikan makanan. Begitu pula saat menonton televisi. Tentunya ada beberapa tayangan yang berkaitan dengan rasa menghargai orang lain. Seperti dalam ajang olahraga, beritahukan itu mengenai sikap yang seharusnya ditunjukkan para atlet, pelatih, maupun pendukung. Dengan begitu anak akan perlahan memahami bagaimana cara memperlakukan orang lain dengan rasa hormat.

3. Pemahaman anak tentang martabat tentunya bergantung dari cara penjelasan Anda. Untuk mempermudah, coba berikan kisah tentang beberapa sosok yang patut menjadi anutan misalnya kisah-kisah nabi seperti Nabi Muhammad SAW maupun Bunda Teresa. Atau Anda juga bisa mencontohkan beberapa orang di lingkungan Anda seperti nenek dan kakek maupun tetangga.

4. Supaya mereka juga bisa merasakan bagaimana perasaan ketika dihormati, Anda juga bisa memberikan contoh dengan menghargainya. Berikan pujian bila mereka telah melakukan sesuatu yang baik seperti sudah memakan habis sarapan. Dalam aktivitasnya, ajarkan rasa berbagi dengan mengikutsertakannya dengan permainan kelompok yang mengharuskan mereka berbagi mainan. Dan, ajarkan pula untuk menerima perbedaan orang lain.

Sumber: mediaindonesia.com