5 Hal yang Membuat Guru Tidak Betah dan Memilih Keluar

1 April 2016 Artikel Pendidikan   |    Agus Sampurno


Tiap akhir tahun ajaran adalah masa genting bagi sebuah sekolah swasta. Karena biasanya saat itulah biasanya muncul nama siapa saja yang akan pindah atau tetap bertahan mengajar di sekolah tersebut. Bagi kepala sekolah keluarnya seorang guru berarti mesti mencari lagi guru, bagi pemilik sekolah bisa jadi akan keluar uang yang tidak sedikit untuk mencari guru yang baik dan bagi orang tua siswa akan berujung pada kekecewaan jika guru yang menurutnya bagus ternyata malah keluar.
Timbul pertanyaan apa yang membuat guru tidak betah dan memutuskan untuk keluar. Bisa saja hal yang saya tuliskan dibawah ini bisa menjadi penyebabnya:

1. Guru tidak dimanusiakan oleh sekolah. Sekolah dijalankan dengan prinsip sebuah pabrik. Guru hanya dianggap sebagai alat produksi dan bukan aset. Dipotong gaji jika salah dan tidak ada reward jika baik dan kreatif dalam mendidik dan mengajar. Jika sekolah libur guru dibayar setengah gaji karena dianggap tidak mengajar padahal siswa membayar SPP full walau sekolah libur.

2. Guru diharapkan kreatif namun tidak didukung oleh sarana dan prasarana. Mau bikin ini susah mau bikin itu bahannya tidak ada, sekalinya minta ke sekolah lama sekali dibelikannya dengan alasan ini itu. Bukan karena tidak ada uang namun tidak ada itikad baik mensupport guru.

3. Guru selalu dicurigai dan ditimpakan kesalahan guru-guru periode sebelumnya. Seorang guru yang kreatif pasti senang mencoba, sayangnya niat baiknya dicurigai hanya karena dahulu ada guru yang mencoba hal yang sama dan berbuat kesalahan. Wajar jika seseorang berbuat salah, sekolah yang baik bahkan mentolerir seorang guru berbuat salah asal itu bagian dari proses kreatif dalam mengajar.

4. Suasana kerja yang monoton. Saat seorang guru memulai karirnya di sekolah, ia sadar tugas pokoknya mengajar. Hanya sekolah yang sehat lah yang bisa membuat kehidupan karir seorang guru menjadi berwarna. Tidak hanya mengajar ia punya jabatan atau pekerjaan yang seirama dengan tugas pokoknya dan itu yang membuat ia asyik berada dan bekerja di sekolah. Sebaliknya sekolah bisa membuat ia tidak betah jika tidak ada dukungan dari sekolah saat ia mesti mengemban tugas lain, misalnya menjadi ketua acara ini dan itu.

5. Tidak ada kejelasan karir dan penggajian. Ada sekolah yang mengambil gaya guru PNS dengan cara mengadopsi kepangkatan dan golongan demi membuat guru betah. Dikarenakan sekolah tahu betul bahwa jangan sampai guru merasa guru yang lama dan yang baru sama gajinya, atau bahkan lebih besar guru baru. Bisa juga hanya karena seseorang telah mengajar cukup lama maka gajinya tiap tahun makin besar padahal kinerjanya biasa saja atau bahkan cenderung menurun. Jika ini terjadi guru lain akan merasa tidak dihargai dan membuatnya terpikir untuk mencari sekolah lain.

Bagaimana jika sekolah Anda sudah melakukan semua hal untuk mencegah lima point diatas tidak terjadi dan masih saja ada guru yang keluar? Menurut saya keluar masuknya guru adalah sebuah hal yang wajar jika saja setiap guru yang keluar karena mendapat promosi di tempat lain dan bukan karena kekesalan di hati dan akibat rasa tertekan. Jadi selamat mengistemewakan guru dan membuat mereka betah mengajar dan mendidik.

(Penulis adalah Kepala sekolah di Ananda Islamic School Jakarta Barat, penggiat penggunaan Sosial Media dan teknologi di sekolah.
Tulisan lainnya bisa dilihat di sini)