5 Cara Menghindari Jebakan Rapor Angka

17 Juni 2016 Artikel Pendidikan   |    Agus Sampurno


Rapor angka sangat akrab di kalangan pendidik. Malah sudah sedari dulu yang namanya raport pasti berisi angka-angka. Padahal rapor angka sejatinya bukanlah bentuk yang baik dalam menyampaikan hasil belajar siswa kepada orang tuanya. Mengapa demikian?

Berikut beberapa sebab mengapa rapor angka kurang dianjurkan dalam memberikan laporan kepada orang tua siswa:

  1. Rapor angka bersifat ‘dingin’, ia tidak mengatakan kepada yang membacanya, angka 7 misalnya, berarti apa dan apa bedanya dengan angka yang lebih rendah dan dengan angka yang lebih tinggi selain aspek penguasaan pengetahuan belaka.
  2. Rapor angka bukanah jalan keluar dari membuat siswa menjadi lebih baik perilakunya, ia hanya mengatakan bahwa nilai ulangan jika dirata-rata menjadi angka sekian.
  3. Rapor angka bukanlah format yang tepat untuk memberikan gambaran usaha siswa dalam kesehariannya di kelas.
  4. Ketika terjadi dialog dengan orang tua siswa mengenai nilai yang didapat oleh seorang anak maka arah dialog adalah ‘mengapa sampai anak ini mendapat nilai segini’ dan bukan mengenai bagaimana sikap anak tsb di kelas dan lain sebagainya yang mencakup karakter siswa.
  5. Angka tidak mencakup bagaimana seorang siswa mencapai usahanya yang terbaik yang ada adalah jumlah hasil akhir tanpa ada cerita mengenai proses. Padahal proses yang baiklah yang bisa membuat seorang anak bisa berhasil di masa depan.


Memang sebuah hal yang rumit untuk dicerna, apalagi untuk para guru baru yang baru memasuki dunia pengajaran dan pendidikan. Apa solusinya? Solusinya adalah format rapor yang menyertakan narasi.

(Penulis adalah Kepala sekolah di Ananda Islamic School Jakarta Barat, penggiat penggunaan Sosial Media dan teknologi di sekolah.
Tulisan lainnya bisa dilihat di sini)