4 Cara Menghadapi Si Kecil yang Sering Berulah

26 Desember 2013 Artikel Pendidikan


Anak yang satu beda dengan anak yang lain. Ada anak yang kalem, tetapi juga ada anak yang sepertinya sering berbuat ulah. Nah, bagaimana menghadapi anak yang suka berbuat ulah ?

Suatu kali, si kecil tidak mau menghabiskan makanannya, lalu Anda pun menakutinya dengan mengatakan kalau tidak dimakan akan ditinggal di rumah sendirian, atau digigit drakula. Mungkin Anda melakukannya karena ingat dulu ibu pernah melakukan hal yang sama kepada Anda. Tetapi, anak dulu dan sekarang sudah sangat berbeda, sebaiknya tinggalkanlah cara kuno ini.

Mendisiplinkan si kecil dengan ancaman, dapat berakibat buruk. Anak akan menyimpulkan bahwa ketika dia berbuat buruk maka Anda akan mengancamnya dan ketika berbuat baik berarti harus diberikan imbalan. Selain itu, yang lebih ekstrim lagi adalah anak akan tumbuh menjadi pribadi yang selalu ketakutan dan tidak akan mendengarkan nasihat atau ajaran yang tidak mengancam dirinya.

Berhentilah mengiming-imingi hadiah pada anak

Biasanya supaya si kecil mau patuh dan menurut, orangtua mengiming-imingi dengan hadiah. Misalkan, jika ia menghabiskan menu makan malamnya, maka esok siang Anda akan memberikannya cokelat atau permen. Alhasil, di kemudian hari si kecil akan terbiasa dengan hal ini dan akan selalu menuntut hadiah lainnya. Cara yang lebih baik adalah memberi pujian saat si kecil berbuat baik dan ungkapan kekecewaan saat sedang nakal. Seperti misalnya, ungkapkanlah bahwa Anda bangga dia tidak rewel saat mengunjungi rumah nenek, cara ini akan memberi kesan positif pada si kecil. Kemudian, sampaikanlah rasa kecewa dan ekspresi sedih begitu dia membuat kesalahan supaya tidak lagi terulang.

Berusahalah lebih rileks

Tekanan di kantor dan lingkungan sosial lainnya jangan dibawa-bawa ke rumah, apalagi sampai melampiaskannya kepada anak. Sebab, memiliki ibu yang terlalu keras dengan aturan bakal membuat anak-anak "sesak". Bedakanlah perilaku Anda saat di kantor dengan di rumah, ingatlah si kecil bukan karyawan atau kolega Anda, mereka adalah darah daging Anda sendiri.

Berhentilah menakuti-nakuti anak

Kenapa demikian? Karena mungkin itu ampuh untuk sesekali, namun memiliki dampak negatif pada diri si kecil. Bayangkan, misalnya Anda mengatakan, pilih ikut Anda atau nanti di rumah sendirian tapi nanti akan didatangi oleh nenek sihir berambut putih. Bisa jadi, di kemudian hari ia akan menanyakan kebenaran ini dan bayangkan kekecewaaannya saat mendapati Anda telah berbohong, kesimpulannya Anda telah menyiptkan rasa takut pada anak berdasarkan ancaman fiktif. Solusinya, bangunlah komunikasi yang baik pada anak, memang sih dengan mengancam anak, Anda akan mendapatkan hasil instan yakni dia menurut tetapi kalau berakibat buruk untuk perkembangannya di kemudian hari, Anda tega?

Jangan memukul anak

Berusaha untuk tidak memukul, meskipun saat itu si kecil sedang berulah dan susah diatur. Mungki Anda memiliki pengalaman memukul yang ‘berhasil’, di mana si kecil tak lagi mengulang perbuatan buruknya. Tetapi, jika cara asuh seperti ini diteruskan, maka nantinya si kecil akan mengira kalau hal ini wajar, sehingga saa bertemu teman-teman atau saudara sebayanya, kemudian mereka melakukan kesalahan, bisa jadi anak Anda akan memukul mereka. Anda mau anak Anda dicap jelek oleh teman-teman dan keluarga ipar Anda misalnya? Maka dari itu, berikanlah contoh yang baik pada anak, karena bagaimanapun, anak meniru apa yang ada di sekitarnya terutama yang paling dekat dengannya.

Maka dari itu, dalam menghadapi si kecil yang tengah berulah, ambil nafas yang dalam, dan hitung sampai sepuluh dan kemudian hembuskan, terus ulangi hingga emosi merasa cukup tenang untuk menghadapi si kecil dengan tenang. Jika belum terbiasa, memang proses menenangkan diri ini perlu waktu, tapi jika Anda sudah menerapkannya lebih sering maka Anda akan otomatis terlatih.

Oleh: Iman S
(Dikutip dari berbagai sumber)